Thursday, February 13, 2014

Love You, Kak


Love You, Kak
(Season Rafi)

            Beberapa menit lalu, setelah Iqbal menelepon, Rafi, adik keduaku, mengirim WhatsApp (WA). Sama seperti Iqbal saat awal menelepon, Rafi menanyakan kabarku dan aku bilang bahwa aku sudah lebih baik dari sebelumnya.
            Kak, selama dua hari ke depan Kakak ada acara, gak? Rafi mau ajak Kakak lihat gedung sekolah musik Rafi yang baru selesai dibangun. Hehehhehe J
            Setelah membaca WA Rafi tersebut, aku membalas bahwa memang pada dua hari itu, yang tak lain Sabtu-Minggu, aku tak ada acara. Namun, Iqbal bersama anak dan istrinya selama tiga hari akan menginap di rumah.
            Ya sudah, Kak, Bang Iqbal dan keluarga sekalian aja datang ke sekolah musik Rafi.
            Ya, nanti Kakak bilang ke dia.
            Oke, Kak! Miss you :-* Besok kalau Rafi sudah dekat rumah, Rafi kabari Kakak, ya!
            Sip!
            Rafi, adikku yang satu ini sangat berbakat di bidang musik dan sejak SMA dulu dia selalu bermimpi, suatu saat nanti akan menjadi musisi dan guru musik terkenal serta juga memiliki sekolah musik. Ya, sekarang, tepat pada usia 25 tahun, hampir semua mimpi itu terwujud. Rafi menjadi guru musik dan memiliki tiga gedung sekolah musik. Adapun mimpi yang belum terwujud, yakni menjadi musisi terkenal. Ini disebabkan saking sibuknya Rafi sebagai guru musik sekaligus mengurus sekolah musiknya. Maka dari itu, dia hanya berfokus pada kedua hal tersebut.
            Pernah sesekali aku meledeknya, “Katanya mau jadi musisi terkenal, kok sekarang malah sibuk ngajar musik.” Dia hanya menjawab, “Hehehe… yang penting ada unsur musiknya, Kak! Gak jadi musisi, guru musik pun jadi. Yang penting ngerti not, bisa main alat musik, bisa ciptain lagu…”
            “Ciptain lagu? Buat siapa?”
            “Ya, buat Zah… Eh, gak buat siapa-siapa ding!” ujarnya agak gugup. Ya, sebenarnya aku tahu Rafi memang menciptakan beberapa lagu dengan syair puitis yang ditujukan kepada gadis yang disukainya. Siapa lagi kalau bukan Zahra. Oops, aku pun tahu tentang Zahra dari si bungsu, Adly, sebab selama ini hanya Adly yang menjadi teman curhat Rafi ketika dia membicarakan soal Zahra. Adik keduaku ini memang benar-benar tertutup soal kisah “cinta” kepadaku.
                                                                       ***
            Suara gitar elektrik yang dimainkan Rafi cukup memekakkan telinga sehingga aku tidak bisa tidur siang. Dengan tak acuh bahwa di rumah ada aku yang ingin beristirahat pada Minggu yang panas ini serta Adly yang belajar untuk menghadapi UAS pada keesokan harinya, Rafi memainkan lagu Gun’n Roses berjudul “Sweet Child o Mine”.
            Karena sudah tak tahan dengan suara gitarnya itu, aku bergegas ke kamar Rafi. Segera kubuka pintu kamarnya serta mencabut kabel sound system dari gitarnya.
            “Lah, kok suaranya beda?” tanyanya heran. Lalu, dia segera menengok dan mendapati diriku yang masih memegang kabel sound system tersebut.
            “Berisik, Kakak mau tidur!” kataku.
            “Ya, Kakak kalau mau tidur, tidur aja! Gak usah cabut kabel segala,” ujarnya dengan wajar cemberut sambil mengambil kabel dari tanganku dan memasukkannya kembali ke stopkontak.
            “Fi, bisa tidak sekali ini saja kamu tidak main gitar. Kakak mohon banget! Kakak ingin istirahat!”
            “Kan, tadi Rafi sudah bilang, kalau Kakak mau istirahat, ya silakan. Tapi Rafi tetap mau main gitar. Hari Minggu, jatah Rafi main gitar sepuasnya!”
            “Gimana sepuasnya? Memang kamu tinggal di rumah sendiri? Ada kakak, abang dan adikmu, ayah, ibu.”
            “Tapi, sekarang kan cuma ada Kakak dan Adly. Ayah ibu lagi ke luar kota. Jadi, lumayan kan Rafi bisa main gitar sepuasnya!”
            “Ya, tidak bisa begitu juga. Yang ada di rumah ini juga berhak untuk istirahat, merilekskan otak dan badan dari aktivitas kemarin-kemarin.”
“Dan main gitar merupakan cara Rafi untuk merilekskan pikiran, Kak!” katanya dengan nada tinggi. Aku tahu dia sudah mulai kesal. Memang, dibanding Iqbal, Rafi jauh lebih keras kepala. Sulit menang jika berdebat dengannya. Sekali suara kita melantang keras, Rafi akan membalasnya dengan suara lebih keras.
“Rafi, Kakak mohon sekali bisa kan untuk kali ini tolong hentikan permainan gitarmu itu. Lagi pula kamu sudah main dari tadi pagi, masak belum puas juga!”
“Ya, kalau memang Rafi belum puas mainnya kenapa, Kak? Kan, yang main Rafi. Toh, ini gitar Rafi!”
“Rafi, kamu bisa kan bicara lebih sopan kepada Kakak,” kataku merendahkan suara, tepatnya meredam emosi. Menghadapi Rafi memang harus “ekstra sabar”.
“Cukup deh, Kak! Rafi bukan anak kecil lagi! Sekarang Rafi ingin sendiri!” ujarnya tanpa menolehku.
Entah mengapa hatiku merasa “tak enak”. Sepertinya, Rafi sedang ada masalah. Tapi masalah apa? Ingin kutanya, namun pasti dia tidak akan memberi tahu dan atau menjawab dengan nada membentak, “Tidak apa-apa! Ini urusan Rafi!”
Saat Rafi mengatakan dirinya ingin sendiri, terpaksa akulah yang harus mengalah, keluar dari kamar Rafi, meninggalkannya. Sebelum aku menutup kamarnya, aku melihat sebuah kertas di atas meja belajar Rafi yang letaknya tak jauh dari sound system gitar elektriknya.
Kertas apa itu? Terlihat jelas kertas itu lecak. Karena penasaran, akhirnya aku mengambil kertas tersebut, lalu membacanya. Astagfirullah, ternyata kertas tersebut merupakan hasil studi Rafi semester ganjil belum lama ini. Kuamati nilai mata kuliah yang diambilnya. Ada tujuh mata kuliah disebutkan di kertas itu, lima di antaranya dengan nilai yang “parah”, dua mendapat C dan tiga D. Dua nilai untuk mata kuliah lainnya mendapat nilai B. Ya ampun Rafi, mengapa seperti ini nilaimu?
“Jadi, ini yang kamu maksud dengan merilekskan pikiran?” tanyaku sambil menyodorkan kertas nilai tersebut di depan mukanya. Spontan dia langsung mengambil kertas tersebut dan langsung membuangnya ke tong sampah di samping tempat tidurnya.
“Itu gak penting, Kak!” katanya ketus.
“Bagaimana tidak penting! Kamu kenapa, Fi? Nilai kamu hampir semuanya buruk!”
“Kan, dari sebelum kuliah Rafi sudah bilang, gak mau ambil jurusan akuntansi. Rafi mau kuliah di IKJ ambil jurusan seni musik. Tapi, ayah selalu memaksakan kehendaknya! Ayah sama sekali tidak memikirkan apa yang diinginkan Rafi!” ujarnya sambil “membanting” tubuhnya ke tempat tidur.
“Kakak pasti tahu, kan, minat Rafi itu di musik, bukan di bidang ekonomi!”
“Iya, Kakak tahu.”
“Bukan cuma Kakak, ibu juga tahu, mungkin juga ayah. Tapi kenapa ayah tetap saja memaksakan kehendak kepada Rafi untuk mengambil jurusan akuntansi! Rafi gak suka, sama sekali tidak suka!”
“Ayah hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik, Fi!”
“Terbaik bagi ayah, bukan berarti baik bagi Rafi Kak. Ini seperti “neraka” bagi Rafi! Rafi juga gak peduli, mau semester depan DO atau gak kuliah!”
“Kamu jangan begitu, Fi. Jangan kecewakan ayah ibu. Kamu harus tetap kuliah, tunjukan bahwa kamu bisa membuat mereka bangga.”
Aku berusaha membujuk Rafi, tapi sepertinya tak diindahkan olehnya. Aku tahu Rafi merasa tertekan dengan tuntutan ayah, kuliah di jurusan yang sama sekali tidak ia minati. Akhirnya, ya hasil semua studinya sangat tidak memuaskan.
“Ya sudah kalau begitu. Kakak tahu Rafi ingin kuliah di IKJ, makanya besok kalau ayah ibu sudah pulang, Kakak akan bicara kepada mereka supaya kamu pindah kuliah saja, asalkan kamu janji tetap kuliah,” kataku sambil keluar dan menutup pintu kamarnya.
                                                           ***
Dua hari setelah hari Minggu itu, tepatnya pada malam, aku mencoba membicarakan masalah Rafi kepada ayah dan ibu. Aku juga memberikan kertas hasil studi Rafi saat semester ganjil. Kertas ini kuambil dari tong sampah kamar Rafi saat dia sedang tidur.
“Jadi, bagaimana Yah, Bu setelah melihat nilai-nilai Rafi? Buruk-buruk, kan? Itu karena dia merasa tertekan dengan kuliah jurusan akuntansi.”
“Ya, tapi kan jurusan itu bagus, demi masa depan dia,” kata ibu.
“Memang bagus, Bu, tapi menjadi beban bagi Rafi. Kasihan dia.”
“Kalau dia mau kuliah jurusan musik, mau jadi apa nanti? Hanya berkutat di bidang musik dan musik, apa yang bisa dibanggakan?” kata ayah dengan nada tinggi.
“Setidaknya, itulah minat dari Rafi, Yah. Jihan mohon sekali sama Ayah, tolong untuk kali ini saja, jangan memaksakan kehendak Ayah terhadap Rafi. Kalau dia stres, lalu akhirnya DO, kasihan juga kan, Yah!”
“Ayah tetap tidak setuju jika dia keukeuh kuliah jurusan musik!”
“Tapi, benar yang dikatakan Jihan, Yah. Kasihan juga jika Rafi berkuliah tapi karena paksaan. Itu akan mengganggu kelancaran studinya,” kata ibu.
“Lalu, setelah dia kuliah di jurusan musik, siapa yang akan menjamin masa depannya?” tanya ayah.
“Allah, Yah. Hanya Dia yang menjamin seutuhnya. Allah yang menentukan rezeki setiap manusia. Jika Ayah tetap tidak percaya dengan minat kuliah Rafi, Jihanlah yang menjadi jaminannya!”
Setelah pembicaraan seriusku dengan ayah dan ibu pada malam itu, akhirnya ayah meminta beberapa hari untuk berpikir. Selang seminggu kemudian, tepat pada ulang tahun ke-20 Rafi, di meja makan—saat kami makan siang bersama—ayah mengungkapkan bahwa dia akan mendaftarkan Rafi ke IKJ, asalkan Rafi menyelesaikan kuliahnya di semester genap ini dengan hasil yang baik. Selain itu, Rafi juga ditekankan ayah agar saat kuliah di IKJ, dia fokus, bahkan kalau perlu mendapat predikat cum laude. Dengan wajah yang bahagia, Rafi pun menyanggupi persyaratan ayah.
Selepas makan siang, Rafi masuk ke kamarku. Lalu dia segera mencium tanganku dan memelukku erat seraya berkata, “Terima kasih, Kak. Terima kasih. Hanya Kakak yang benar-benar mengerti apa yang diinginkan Rafi. Sekali lagi terima kasih, Kak. Rafi janji akan kuliah sungguh-sungguh saat di IKJ nanti.”
“Iya, Fi. Jangan lupa kamu juga harus berterima kasih kepada ayah dan ibu karena merekalah yang akan mendaftarkan kamu di IKJ nanti,” ujarku sambil mengelus kepalanya.
***





  

Tuesday, February 11, 2014

Love You, Kak!


Love You, Kak!
(Season Iqbal)

            Hari ini panas sekali. Untunglah pekerjaan di kantor sudah selesai selepas zuhur tadi dan aku cukup berterima kasih kepada atasanku yang mengizinkanku pulang lebih awal dari “jam kantor”, pukul 13.30 WIB. Mungkin, dia merasa kasihan karena melihat kondisiku belum pulih total pasca dirawat di rumah sakit dua hari lalu.
            Sesampainya di rumah, tak ada yang berbeda. Tetap seperti biasa, sepi. Hanya ada Bi Minah, pembantu di rumah. Itu pun dia hanya bekerja dari selepas subuh hingga sore. Dengan kata lain, saat ini di rumah hanya ada aku dan Bi Minah.
            Ayah, mmh, jangan ditanya lagi. Beliau sangat sibuk, apalagi sedang mengurus bisnis batu baranya di Kalimantan Timur. Kalau ibu sedang menjadi narasumber di beberapa seminar dan workshop kesehatan ibu dan anak di beberapa wilayah di Pulau Jawa, NTT, dan NTB. Kemungkinan baru pulang minggu depan.
            Ditinggal ayah dan ibu untuk menyelesaikan pekerjaannya masing-masing sudah biasa bagiku. Toh, sejak kecil memang sudah sering ditinggal. Namun, ada hal yang paling aku rindukan, yakni adik-adikku. Saat suasana sepi seperti ini, aku ingin adik-adikku berkumpul, menemaniku, bercanda tawa, bercerita, menasihati mereka, pun memarahinya. Sayangnya, saat ini ketiga adikku, Iqbal, Rafi, dan Adly, sudah mempunyai urusan masing-masing. Makanya, kebersamaan dengan mereka semakin jarang, bahkan sekarang sangat jarang.
            Terlebih, saat ini adik pertamaku, Iqbal, sudah berkeluarga dan tinggal di Bandung bersama istri dan anaknya. Raffi sibuk dengan pembangunan gedung baru dan mengatur sekolah musiknya di Bogor, sedangkan adik bungsuku, Adly, saat ini kuliah di ITB jurusan teknik elektro dan pulang paling cepat sebulan sekali. Aku sangat merindukan ketiga adikku. Kapan mereka ke sini? Menemani dan menggodaku, sekaligus menghiburku dengan tingkah mereka yang terkadang “ aneh”.
Aku hanya bisa melihat foto mereka bertiga yang selalu kupajang dalam bingkai berukuran 10x15 cm yang terletak di meja samping tempat tidurku. Tak terasa, air mataku menetes. Kakak rindu kalian.
                                                                   ***

Tok…tok…tok…

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Entah siapa yang mengetuk. Namun, kupastikan hanya ada tiga orang yang kemungkinan mengetuk kamarku pada malam ini. Antara Iqbal, Rafi, dan Adly, sedangkan ayah dan ibu tidak mungkin karena mereka belum pulang kerja.
“Masuk,” kataku. Seseorang pun masuk ke kamarku. Ternyata dia adalah Iqbal, adik sulungku.
“Kak, Iqbal mau ngomong sesuatu,” ujarnya sambil duduk di atas tempat tidurku, tepatnya di sampingku.
“Mau bicara apa?” tanyaku sambil fokus mengetik di notebook.
“Kakak bisa bantuin Iqbal, gak?” tanyanya ragu-ragu.
“Bantu apa, Bal?”
“Iqbal mau nikah, Kak!” jawabnya mantap. Aku terkejut mendengarnya. Spontan aku membalikkan badan dan menatapnya dengan dekat.
“Apa? Kamu mau menikah? Kamu yakin? Mau menikah dengan siapa?”
“Ya, dengan gadis pilihan Iqbal, Kak!”
“Tapi, kamu masih muda. Usia baru masuk 22 tahun, kuliah belum lulus, masih nyusun skripsi, belum kerja! Kenapa mau nikah?”
“Ya, karena Iqbal sudah yakin dengan pilihan Iqbal, Kak!”
“Memutuskan menikah itu bukan sekadar keyakinan terhadap pilihanmu, Bal. Tapi, coba pikirkan bagaimana ke depannya. Kamu kan nanti jadi kepala keluarga, yang akan mencukupi kehidupan istri dan anak kamu. Memang kamu sudah siap segalanya?”
“Insya Allah, Iqbal siap, Kak! Lagi pula calon istri Iqbal kan teman kampus, kakak juga sudah kenal. Kita juga sama-sama lagi nyusun skripsi. Ya, semoga saja nanti bisa co-as bareng. Kan, asyik juga Kak, sudah nikah co-as bareng.”
Mendengar ungkapan Iqbal, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Iqbal memang keras kepala, sekali dia menginginkan sesuatu, pasti akan “memperjuangkannya” hingga dapat. Ya, seperti ini, keinginan untuk menikah, yang menurutku keinginan terberat yang pernah kudengar.
“Tunggu dulu. Sepertinya Kakak tahu siapa calonmu itu. Pasti Farah, ya! Satu-satunya teman perempuan kamu yang diajak ke sini dan dikenalkan ke kakak. Benar, gak?”
“Iya, Kak. Hehehhe…. Maka dari itu, Kak, Iqbal mau minta tolong. Tolong bilang ke ayah dan ibu kalau Iqbal mau nikah. Ya, Kak, tolong bilangin ke mereka, soalnya Iqbal sudah melamar Farah dan bilang kepada kedua orangtuanya. Mereka sudah setuju.”
“Apa? Aduh Iqbal, kenapa sepihak begitu? Kenapa baru bilang sekarang ke Kakak kalau sudah melamar Farah? Ini bakal jadi rumit, Bal! Ayah dan ibu juga belum tentu setuju!”
“Tapi, Iqbal yakin kalau Kakak bisa bantu Iqbal meyakinkan ayah dan ibu untuk menyetujui keinginan Iqbal.”
Aku hanya bisa terdiam. Di satu sisi aku senang karena setidaknya Iqbal cukup berani mengambil keputusan, bahkan sudah melamar Farah. Jujur saja, aku sangat setuju karena aku yakin Farah adalah perempuan baik dan pantas menjadi istri Iqbal. Namun, di sisi lain aku bingung bagaimana mengutarakan maksud Iqbal tersebut ketika ayah dan ibu pulang kerja. Mungkin, ibu akan paham, tapi bagaimana dengan ayah? Ayah termasuk orang yang keras dan tegas. Sekali tidak, ya TIDAK! Sulit melunakkan hati ayah. Apalagi Iqbal ingin menikah pada saat dia belum lulus kuliah, bahkan usianya terbilang muda. Ya, meski tak dimungkiri, jodoh yang mengatur adalah Sang Illahi. Dia-lah Maha Menentukan kapan waktu yang tepat untuk mempertemukan jodoh setiap manusia.
“Kak, kok diam! Kakak bisa kan bantu Iqbal? Please, Kak ini untuk terakhir kalinya.”
“Insya Allah Kakak coba, Bal! Tapi, Kakak tidak yakin bagaimana dengan keputusan ayah nanti. Kamu tahun sendiri, kan bagaimana ayah?”
“Iya, Kak,” kata Iqbal dengan suara pelan. Aku tahu, pasti dia juga memikirkan seperti apa komentar ayah nanti ketika mengetahui bahwa dirinya ingin menikah.
“Kak, Iqbal mohon maaf, ya Kak.”
“Minta maaf? Memang kenapa, Bal?”
“Selama ini Iqbal selalu merepotkan Kakak. Dari kecil bahkan sampai sekarang Iqbal selalu meminta bantuan Kakak. Tapi, Kakak selalu berusaha menolong Iqbal. Maafkan Iqbal, ya Kak. Iqbal belum bisa menjadi adik yang baik untuk Kakak, belum bisa membalas kebaikan Kakak.”
“Bal, Kakak tidak menginginkan balasan dari Iqbal. Semua Kakak lakukan tulus untuk Iqbal. Iqbal adik Kakak, sama seperti Rafi dan Adly. Dan karena Kakak adalah anak sulung, seorang kakak, maka memang sudah menjadi kewajiban Kakak untuk membantu dan membela adik-adik Kakak selama itu tujuannya baik.”
“Maafkan Iqbal, Kak. Iqbal baru mengungkapkan keinginan menikah sekarang, telah melamar Farah tanpa memberi tahu Kakak. Karena jujur, sebenarnya Iqbal takut dimarahi Kakak dan juga tidak enak karena mungkin akan “melangkahi” Kakak.”
“Bal, mana mungkin Kakak marah dengan keputusan Iqbal? Justru Kakak bangga lho dengan Iqbal. Ya, meski kaget juga sih dengarnya. Satu hal yang perlu Iqbal ingat, sama sekali tak masalah bagi Kakak jika Iqbal “melangkahi” Kakak, toh yang mengatur jodoh itu kan Sang Illahi. Jika memang adik-adik Kakak sudah mendapat jodoh terlebih dahulu, ya tidak perlu dipusingkan, bukan masalah bagi Kakak. Insya Allah Kakak ikhlas, Bal,” kataku seraya memeluk Iqbal. “Bantu doa ya Bal, semoga Kakak bisa bantu bicara kepada ayah dan ibu. Dan keinginanmu untuk meminang Farah berjalan lancar tanpa hambatan.”
“Aamiin. Terima kasih, Kak. Sekali lagi Iqbal minta maaf, ya Kak. Iqbal sayang sekali sama Kakak. Kakak adalah pahlawan bagi Iqbal.”
“Iya, Kakak juga sayang semua adik Kakak.”
                                                                     ***
Masih teringat dalam benakku bagaimana sikap ayah ketika mendengar bahwa Iqbal ingin menikah. Bukan hanya menolak, melainkan ayah sangat tidak menyetujui keinginan mulia Iqbal. Ayah benar-benar marah.
“Ayah tekankan sekali lagi, Iqbal tidak akan menikah sebelum dia lulus kuliah, sebelum dia resmi menjadi dokter!” kata ayah dengan nada tinggi.
“Mengapa tidak boleh, Yah? Keinginan Iqbal kan mulia,” kataku.
“Sekali Ayah bilang tidak, ya tidak! Ayah tidak setuju jika Iqbal menikah di usia semuda ini!”
“Apakah ada yang salah, Yah jika Iqbal menikah pada usia 22 tahun? Dulu Ayah menikah dengan ibu juga masih kuliah, usianya pun sama dengan Iqbal.”
“Kamu jangan menggurui Ayah. Itu tidak sopan! Lagi pula Ayah tidak ingin kamu dilangkahi Iqbal!”
“Jihan bukan menggurui Ayah, tapi hanya ingin mengingatkan Ayah. Datangnya jodoh, siapa yang tahu, Yah? Semua sudah ketentuan-Nya. Maaf Yah jika Jihan berbicara seperti ini. Tapi, Jihan juga tidak tega kalau keinginan Iqbal tak disetujui oleh Ayah, tak mendapat restu Ayah.”
Dan sejak perdebatan itu, setidaknya sekitar tiga hari ayah tak menegurku. Aku tak diacuhkan oleh ayah meski aku berusaha mulai bicara kepadanya. Namun, pada hari keempat sesuatu terjadi oleh ayah. Beliau mengajak kami berempat, yakni dirinya, ibu, aku, dan Iqbal, berbicara di ruang keluarga. Ternyata alhamdulillah, ayah menyetujui rencana Iqbal untuk menikah. Ini disebabkan setelah berpikir matang selama beberapa hari serta mendengarkan “bujukan” ibu, akhirnya hati ayah luluh. Maka dari itu, dua bulan kemudian Iqbal menikah dengan Farah.
Ya, itu merupakan “kejadian” lima tahun lalu yang tak terlupakan olehku. Meluluhkan hati ayah memang sulit, tapi yang terpenting dalam hidupku adalah asalkan adik-adikku bisa bahagia, apa pun akan kuusahakan demi mereka.
Tetiba ponselku berbunyi. Ternyata Iqbal meneleponku.
“Assalamualaikum. Kak, apa kabar?”
“Waalaikumussalam. Alhamdulillah Kakak baik. Bagaimana kabarmu dan anak istri?”
“Alhamdulillah baik, Kak. Oya Kak, insya Allah malam ini kami akan ke sana. Ya, sekitar tiga hari kami menginap,” kata Iqbal.
Jujur saja, mendengar perkataan Iqbal tadi aku sangat merasa senang. Allah mengetahui apa yang kuinginkan saat ini. Dia Maha Mendengar isi hati. Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb.
“Iya, Kakak tunggu ya, Bal.”
***




Sunday, February 9, 2014

(Tidak) Ada Cinta Terlambat


(Tidak) Ada Cinta Terlambat
#part 4

            Hampir setiap hari untuk mengobati rasa rinduku kepadamu, aku hanya bisa memeluk syal rajut yang dibuatkan olehmu. Syal berwarna biru muda dengan bertuliskan namaku, Amir Syarief, begitu rapi kau buatkan untukku. Teringat olehku, 11 tahun lalu dengan malu-malu kau memberikan sebuah kotak berbungkus kado. Kau hanya berkata, “Ini untukmu, semoga kau suka. Mmh, o iya, terima kasih lukisannya. Lukisanmu sangat indah.” Setelah berkata, kau berlalu seolah tak “memberikan kesempatanku” untuk mengucapkan terima kasih dan berkata “Lukisan itu khusus kubuat untukmu.”
            Naina, akhirnya kita bisa bertemu lagi. Namun, apakah kemarin merupakan waktu yang tepat untuk berjumpa, yakni saat acara lamaran sahabatku, Nakula? Beberapa tahun lamanya tak kudengar kabar darimu, tapi ketika mendapat kabar, ternyata kaulah yang akan menjadi calon istri Nakula.
            Seperti aku, Nakula akan memberi tahu siapa calon pendamping hidupnya ketika sudah melamar perempuan pilihannya. Ketika kuketahui, ternyata perempuan itu adalah kau. Terkejut, tentu. Bahagia, pasti. Ya, aku terkejut karena tak menyangka calon istri sahabatku adalah perempuan yang kucintai sejak sekolah dulu. Aku bahagia karena akhirnya Nakula pun akan menikah. Ikhlaskah aku? Relakah diriku jika perempuan yang akan dipinang Nakula pada dua bulan ke depan adalah dirimu?
Masih cintakah diriku ini kepadamu, Naina? Tak bisa kupastikan lebih. Aku sadar, bulan depan aku akan menikah dengan Aira. Aku sangat menyayanginya, tapi apakah aku mencintai Aira seperti aku mencintaimu? Terlebih, saat kemarin kita bertemu lagi, seolah itu membangkitkan gejolak asa yang kupendam terhadapmu selama bertahun-tahun.
Naina sama seperti Aira, cantik, baik, cerdas, berjilbab. Adapun yang membedakan keduanya, Aira jauh lebih periang dibandingkan Naina. Ya, walaupun begitu, sekarang Aira sedikit berubah, lebih feminin.
Naina, namamu, wajahmu, suaramu tak pernah kulupa. Kemarin kau tampak cantik sekali. Salahkah aku, jika sesekali kupandangi dirimu dari kejauhan dan ups khilafku, membandingkannya dengan Aira, calon istriku sendiri.
Ya, seandainya dulu kukatakan saja secara jujur tentang perasaanku kepadamu Naina. Pastinya kau juga menungguku untuk menyatakan itu. Namun, mungkin ini sudah menjadi takdirku dari-Nya. Tak sempat utarakan cinta, tapi mendapati orang yang dulu kucinta ternyata akan menikah dengan sahabatku sendiri. Itu tandanya aku harus mengikhlaskannya bersanding dengan Nakula. Sudah menjadi keputusan tepat bagi Nakula karena dia memilih Naina untuk menjadi istrinya.
Namun, mengapa hingga sekarang rasa sesak dan nyeri hati itu ada? Tidak, aku harus bisa menghilangkannya. Aku harus bisa melupakan Naina. Sebulan lagi aku akan menikah dengan Aira. Tak mungkin jika aku menikah dengan perempuan pilihanku, tapi di satu sisi terselip cinta untuk Naina, calon istri sahabatku sendiri. Tidak, ini semua harus kucegah, jangan sampai melampaui batas. Aira-lah yang akan menjadi istriku, pendamping hidupku. Aku harus menjaga perasaan ini. Harus bisa!

             

(Tidak) Ada Cinta Terlambat


(Tidak) Ada Cinta Terlambat
#part 3
           
Setelah tiga tahun tak bertemu, akhirnya aku bisa berjumpa lagi dengannya. Namun, mengapa harus bertemu saat kami sudah memiliki calon masing-masing? Bahkan, ketika kuketahui bahwa dia adalah sahabat calon suamiku, Nakula, dan akan menikah bulan depan. Tak hanya itu, ternyata calon istrinya juga orang yang kukenal, rekan bisnisku, Aira. Mengapa terjadi seperti ini? Ya Allah, adakah rahasia di balik semua ini? Inikah skenario-Mu?
            Amir, sosok pria yang selalu ada dalam pikiranku, hatiku, dan juga merupakan CINTA PERTAMAKU. Hingga sekarang rasa itu pun masih tertanam dalam lubuk jiwaku. Bahkan, aku yakin rasa tersebut tak berkurang. Namun, itu hanya sekadar angan yang tak terwujudkan. Dia akan menikah dengan Aira bulan depan. Ya, bulan depan.
            Andai saja waktu bisa terulang kembali, tak perlu kupikirkan bahwa aku seorang perempuan yang sebaiknya menanti seorang laki-laki yang kucintai mengatakan cinta. Lebih baik kukatakan cinta terlebih dahulu tanpa perlu kupikirkan apakah dia mencintaiku atau tidak. Aku hanya ingin mendapatkan jawaban pasti. Akan tetapi, ya itu hanya sekadar angan. Buktinya, sesuatu yang ingin kukatakan justru tak bisa kuucapkan.
            Jikalau aku bertemu dengan Amir jauh sebelum aku bertemu Nakula, sebelum kedua orangtua kami menjodohkanku dengannya, tak kupedulikan apa kata orang, “tak pantas bila perempuan lebih dahulu menyatakan cinta”. Karena, aku hanya butuh kepastian dari Amir. Namun, semua tampak terlambat. Amir kini sudah memilih Aira sebagai calon istrinya. Dan aku, dengan “keterpaksaan” menerima lamaran Nakula meski sejujurnya aku tak yakin bahwa Nakula juga mencintaiku.
            Nakula memang laki-laki yang baik dan aku yakin itu. Dia pekerja keras, bertanggung jawab, jujur, dan cukup perhatian. Sudah semestinya aku merasa beruntung karena dijodohkan dengannya. Namun, bagaimana dengan “kata hati”? Tentu ini tidak bisa dibohongi. Jujur saja, aku mengagumi Nakula, tetapi cintaku untuk Amir. Bahkan aku pun tak yakin apakah saat menikah nanti aku dapat mencintai Nakula. Karena, satu hal krusial dalam membina sebuah rumah tangga dalam suatu pernikahan adalah keikhlasan dalam mencintai pasangan, bukan mencintai pasangan karena keterpaksaan.
            Baru kusadari, begitu sempitnya kehidupan ini. Aku bertemu Amir saat acara lamaranku bersama Nakula dan saat itu pula kuketahui bahwa Amir dan Aira akan menikah bulan depan. Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku merelakan Amir? Apakah aku juga mengakui kepada Nakula bahwa aku belum bisa mencintainya? Rabbi, berikan aku petunjuk. Tolong beri aku petunjuk. Aku tidak ingin hatiku tersesak, tersiksa hanya karena memendam cinta.
            Dan aku semakin rindu dendam tatkala setiap hari aku menatapi lukisan kaligrafi yang kupajang di pojok kamarku. Lukisan terindah dari Amir, sewaktu aku berulang tahun ke-17. Lukisan kaligrafi itu adalah namaku. Amir khusus membuatkannya untukku. Aku yakin, Amir tulus membuat lukisan tersebut. Bisa kurasakannya ketika memandang lukisan itu lebih dekat.
            Ah, Amir, mungkin kau memang bukan untukku. Sebentar lagi kau akan dimiliki Aira seutuhnya. Meski tak dimungkiri, jauh dalam lubuk hati ini, aku masih berharap kau yang akan menjadi imamku. Pun masih ada kesempatan untuk saling menyatakan cinta.
           

(Tidak) Ada Cinta Terlambat


(Tidak) Ada Cinta Terlambat
#part 2
           
Selepas pertemuannya kemarin, sewaktu acara lamaran, entah mengapa dirinya selalu terbayang dalam benakku. Terlebih, penampilannya berbeda dengan dulu, 10 tahun lalu, saat kami terakhir bertemu. Dengan jilbab hijau toska dan gamis berwarna sama, dia terlihat anggun. Pun, bertambah cantik. Dia juga terlihat lebih berisi, tak seperti dulu, agak tirus sehingga dagunya terlihat lancip.
Spontan ingin rasanya mengenang masa SMA dulu. Aku pun membuka buku tahunan. Kulihat foto kelas kami. Maklum, sejak kelas dua hingga tiga SMA kami sekelas. Di foto itu ada foto bersama teman-teman sekelas dan dia berdiri di sampingku seraya tersenyum ceria. Lalu, kulihat foto selanjutnya. Di foto itu terlihat kami hanya berdua sedang duduk bersama di bangku kelas. Seingatku, dulu temanku, Bono, sengaja memfoto kami berdua. Padahal, saat itu aku dan dia sedang merencanakan kerja kelompok. Tapi, ya begitulah, dia. Memang sudah berbakat narsis, dengan tak acuh bahkan tak malu langsung bergaya saat Bono mengambil foto.
Setelah membalik-balik tiap halaman buku tahunan, kudapati fotonya yang memakai topi kerucut dan dihiasi kertas krep. Dengan gaya “unyu-unyu” dia berfoto di sampingku yang saat itu memakai kaos basket SMA kami sambil memegang bola. Ya, saat itu kebetulan sekolahku memenangkan pertandingan lomba basket se-SMA Kota Bandung. Inilah yang kurindukan darinya, keceriaannya, kelucuannya, kepolosannya, dan senyumnya.
Ah, mengapa aku seperti ini? Memikirkan seseorang yang akan menjadi milik orang lain. Milik sahabatku sendiri, Amir. Inikah yang dimaksud Amir sebagai sebuah kejutan? Apa maksudnya? Apakah dia tahu bahwa aku dan calon istrinya adalah teman SMA?
Amir, ya dia adalah sahabatku sejak SMP. Kami sering berbagi cerita satu sama lain, terkecuali hal-hal yang menurut kami cukup pribadi, terutama soal “cinta”. Amir memang pernah bercerita bahwa dia akan segera menikah dengan gadis yang dikenalnya setahun lalu. Namun, tak pernah terucap darinya nama dari gadis itu. Setiap kali kutanya siapa nama calon istrinya, dia selalu menjawab, “Nanti akan kuberi tahu setelah kau juga akan menikah.” Dan kemarin, tepat saat acara lamaranku dengan gadis pilihan orangtuaku, barulah Amir memperkenalkan calon istrinya kepadaku. Tak bisa kumungkiri, calon istrinyalah sosok yang selama ini kurindukan dan sangat ingin kutemui.
Rinduku terhadapnya cukup dalam. Ini disebabkan selepas SMA, orangtuaku telah mendaftarkan diriku di salah satu universitas di Negeri Kanguru. Alhasil, aku pun harus kuliah di sana dan selama lima tahun bekerja di sana. Baru tahun ini aku kembali ke Bandung, tempat tinggalku. Namun ternyata, belum sempat kumenemuinya, selama tiga bulan ini aku harus melakukan pendekatan dengan calon tunanganku, yang tak lain adalah anak dari sahabat ayah.
Hidup adalah pilihan. Mungkin ini memang yang terbaik. Aku harus merelakannya dia bersama Amir. Aku yakin, Amir memang pantas menjadi suaminya. Dia sahabat terbaik yang pernah kukenal. Sudah sebaiknya aku melupakan Aira, perempuan itu, mengharapkannya, dan juga berusaha untuk mencintai tunanganku sebisa mungkin.


Sunday, February 2, 2014

(Tidak) Ada Cinta Terlambat


(Tidak) Ada Cinta Terlambat
#part 1

            Aku hanya bisa menatap diriku dari cermin. Berdiri tegak. Apa yang terjadi denganku? tanyaku dalam hati. Seharusnya, tak perlu, bahkan tak pantas aku merasakan ini. Seolah seperti remaja saja yang baru merasakan jatuh cinta.
            Teringat wajahnya, terngiang suaranya hingga sekarang, bahkan bayangan masa lalu ketika bersamanya sewaktu sekolah dulu, sepuluh tahun lalu.
            Lalu, kudekatkan lagi wajahku di cermin. Kugelembungkan wajahku, sekadar memastikan apa yang dikatakannya kemarin, saat pertama kalinya kami berdua bertemu lagi setelah sekian lama tak bersua.
            “Kamu gemuk,” ujarnya. “Tapi, kamu semakin cantik dengan jilbab itu,” bisiknya saat dia berada di sampingku.
            Ya, seperti benar katamu, aku gemuk, gumamku dalam hati sambil melihat pipiku yang agak chubby.
            Tetiba ponselku yang berada di tempat tidur berbunyi. Ada SMS. Kulihat nama si pengirim SMS. Amir. Ya, dia adalah tunanganku.
            10 mnt lagi aku sampai, begitulah isi SMS-nya. Aku pun hanya membalas Ya.
            Setelah itu, aku kembali menatap diriku di cermin. Entah ini halusinasiku atau bukan. Dari cermin, terlihat jelas di belakangku ada sosok dia. Ya, pria berpostur tinggi tegap dengan tinggi 170-an sentimeter, berkulit putih, berkaca mata, berkemeja garis abu-abu, pun rambutnya tersisir rapi. Persis saat kulihat dia kemarin.
            Spontan aku membalikkan badanku. Namun, ternyata dia tak ada. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Bodoh! Kataku dalam hati.
            Aku kembali ke cermin, memperbaiki jilbab yang kukenakan saat ini, merah hati dengan motif bunga-bunga. Sebentar lagi tunanganku datang dan kami hendak ke tempat katering, undangan, dan tenda demi memastikan persiapan untuk pernikahan kami nanti, bulan depan.
            Akan tetapi, entah mengapa bayangan akan pria itu selalu saja muncul dalam pikiranku. Apa maksud semua ini? Ini godaan atau cobaan? Ya Allah, kuatkan aku, tolong jaga hatiku agar tak berpindah ke lain. Bulan depan aku menikah. Ya, aku akan menikah dengan pria yang memilihku untuk menjadi pendamping hidupnya, calon ibu bagi anak-anak kami kelak.
            Saat akan memperbaiki bros jilbab, aku pun melihat cincin emas kuning bermata yang kupakai di jari manis tangan kiriku. Tidak, aku harus bisa menjaga ini. Aku pasti bisa. Kukuatkan niatku seraya berharap bahwa secepatnya aku bisa melupakan dirinya, menghapus bayangannya dari pikiranku, serta sejenak “tuli” agar suara dan kata-katanya tak terngiang di telingaku. Aku pun meyakinkan diri sekuat mungkin bahwa Amir-lah yang akan menjadi imamku nanti.

Pejaten, 3 Februari'14
14.15WIB

Saturday, January 25, 2014

Pentingnya Didikan Religiositas dan Kemandirian kepada Anak Sedari Kecil



Pentingnya Didikan Religiositas dan Kemandirian kepada Anak Sedari Kecil
Oleh Tyas Chairunisa
            Dalam kehidupan ini, seiring dengan berjalanannya waktu, peran seorang manusia tentu berganti. Terlahir sebagai anak yang akan diasuh dan dididik orangtua, kemudian ketika dewasa berganti peran menjadi orang tua, mengasuh serta mendidik anaknya.
            Terkait kedua hal yang disebutkan di atas—mengasuh dan mendidik—pastinya ada unsur-unsur penting yang perlu diterapkan dalam diri anak sedari kecil. Unsur ini dapat dikatakan krusial dalam pola asuh-didik orang tua terhadap anak. Apakah unsur-unsur penting itu? Apa kegunaannya dan bagaimana cara menerapkannya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini.
            Ketika menjadi orangtua, tugas utama yang penting sekaligus utama dan mesti dilakukan adalah mengasuh serta menentukan pola didik untuk anak. Kedua hal tersebut tentu tidak mudah dijalankan, mengingat mengasuh dan mendidik dapat dikatakan sebagai pekerjaan “teberat” yang diemban para orangtua. Mengapa demikian? Ini karena pola asuh-didik akan memengaruhi perilaku, sikap, dan sifat anak dalam kehidupan sehari-hari.
            Memang, tak bisa dimungkiri bahwa orangtua memiliki role model terhadap anaknya. Setidaknya, anak akan meniru polah orangtuanya. Oleh karenanya, penting adanya bagi orangtua untuk menentukan seperti apa cara mereka mengasuh dan mendidik anaknya dengan baik.
            Ketika anak lahir, tentunya orangtua berperan sebagai “pengasuh utama”. Peran ini menjadi utama sekali sampai anak kurang lebih memasuki usia sekolah dasar—sekitar 6-7 tahun. Setelah anak berusia di atas enam tahun hingga remaja, peran orangtua pun tak hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai “pengawas utama” karena pada usia ini, umumnya anak akan berperilaku atau bersikap yang dipengaruhi oleh lingkungannya, dan terkadang jika kurang diawasi orangtua, dikhawatirkan anak tidak mampu “memfilter” pergaulannya meskipun ini relatif. Oleh sebab itu, penting adanya orangtua membimbing anaknya dalam hal mengasuh.
Religiositas dan Kemandirian
            Selain menjadi pengasuh dan pengawas, orangtua juga harus menyadari pentingnya sebagai seorang “pendidik” utama. Mengapa? Ini karena didikan terhadap seorang anak—sejak kecil—utamanya akan mereka temui di lingkungan keluarganya. Dengan kata lain, orangtua (ayah dan ibu) menjadi madrasah pertama bagi anak. Adapun madrasah utama dalam hal mendidik anak adalah seorang ibu.
            Ada dua unsur yang sangat penting yang perlu diterapkan dalam mendidik anak. Kedua unsur itu, yakni religiositas dan kemandirian. Kedua unsur ini perlu diajarkan terhadap anak minimal ketika ia berusia dua-tiga tahun. Jika kedua unsur ini berhasil diterapkan, diajarkan sebagai bentuk didikan terhadap anak, insya Allah anak pun akan membentuk pribadi, perilaku, sikap, dan sifat yang baik.
            Lalu, bagaimana cara menerapkan religiositas dan kemandirian itu serta apa kegunaannya bagi anak? Sebelumnya, perlu diketahui makna dari religiositas dan kemandirian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), religiositas adalah pengabdian terhadap agama. Menilik artinya, dengan kata lain orangtua perlu menerapkan ajaran agama yang mencakup tauhid, akidah, serta aturan-aturan agama terhadap anaknya sedari kecil. Misalnya, sejak anak sudah mampu berpikir nalar, minimal usia 1-2 tahun, ia perlu diajarkan tentang ketauhidan, utamanya dalam mengenalkan Tuhannya. Setelah itu berlanjut pada pengajaran akidah dan aturan-aturan agama. Ini pun dilakukan secara bertahap, mengingat orangtua pun perlu mengetahui perkembangan kognitif anaknya.
            Didikan religiositas amat penting bagi anak karena ini menjadi kunci dasar anak dalam membentuk perilaku, sikap, dan sifatnya. Dengan pola didik ini, setidaknya anak dapat menilai apa yang akan dilakukannya serta dampak setelah ia melakukan suatu hal, baik atau tidak, berdosa atau tidak. Ini sebagaimana yang dialami oleh penulis. Sedari kecil, penulis selalu diajarkan orangtua bahwa Tuhan itu Esa, Maha Mengetahui setiap apa yang kita lakukan karena Dia tidak pernah tidur, serta Tuhan Maha Penyayang terhadap makhluk ciptaan-Nya. Selain itu, orangtua penulis pun selalu mengingatkan bahwa apa yang akan kita lakukan perlu dipikirkan secara baik dan matang karena akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Jika dianggap kurang atau tidak baik, tentu berdosa, dan jika memang itu baik, tentunya akan mendatangkan pahala. Dengan kata lain, orangtua penulis pun tersirat mengajarkan agar keputusan, tindakan, perilaku yang dimiliki dan akan dilakukan penulis hendaknya jangan gegabah, perlu hati-hati karena semua itu tidak terlepas dari pengawasan Tuhan yang Esa.
            Di samping itu, perlu diketahui pula bahwa religiositas ini tidak terlepas dari dimensi-dimensi yang melingkupinya. Dimensi-dimensi tersebut terdiri atas dimensi keyakinan, dimensi peribadatan, dimensi penghayatan, dimensi pengetahuan agama, dan dimensi pengamalan[1].
            Dimensi keyakinan adalah tingkatan sejauh mana seseorang menerima dan mengakui hal-hal dogmatik dalam agamanya, seperti sifat-sifat Tuhan, makhluk-makhluk ciptaan-Nya, para nabi dan rasul, serta kehidupan akhirat—surga dan neraka. Dimensi peribadatan merupakan dimensi yang menunjukkan sejauh mana seseorang menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya, seperti salat, zakat, puasa, dan sebagainya. Selain itu, dimensi penghayatan, yakni perasaan keagamaan yang pernah dialami dan dirasakan, seperti merasa dekat dengan Tuhan, tenteram saat berdoa dan membaca kitab suci, semakin takut akan dosa, dan lain-lain.
            Dimensi pengetahuan agama adalah dimensi tentang seberapa jauh seseorang mengetahui dan memahami ajaran-ajaran agamanya, seperti memahami isi kitab suci, hadis, fikih. Terakhir, dimensi pengamalan, yaitu sejauh mana implikasi ajaran agama memengarhui  perilaku seseorang dalam kehidupan sosialnya, seperti mempererat silaturahim, menjenguk orang sakit, membantu fakir miskin dan anak yatim. Kelima dimensi tersebut, baik langsung dan tidak langsung, tersirat dan tersurat, menjadi bentuk pola didik orangtua penulis terhadap anak-anaknya. Meski begitu, tak terkecuali bahwa pada umumnya, orangtua yang lain pun menerapkan bentuk didikan tersebut demi membentuk anak menjadi pribadi yang baik dan saleh.
            Selain religiositas, sedari kecil anak perlu diajarkan kemandirian. Didikan kemandirian menjadi hal yang penting karena dengan pola didik seperti ini setidaknya anak akan mengetahui apa yang mesti dia lakukan tanpa perlu mengandalkan orangtua. Namun demikian, sudah menjadi tugas orangtualah untuk mengawasi tindak laku anak, terlebih saat anak diyakini belum bisa melakukan segalanya secara sendiri, misalnya batita, balita, serta anak berusia tidak lebih dari 10 tahun.
            Mendidik kemandirian sedari kecil dapat berarti mengajarkan kedisplinan terhadap anak. Seperti yang dialami oleh penulis semasa kecil dahulu. Orangtua penulis, terutama ibu, selalu mengajarkan akan pentingnya waktu dan tanggung jawab. Misalnya, ibu selalu menerapkan ada waktu istirahat, belajar, dan bermain. Semua harus berjalan dengan teratur dan disiplin. Selain itu, ibu juga mengajarkan akan pentingnya tanggung jawab terhadap tugas yang dimiliki anaknya masing-masing, terutama dalam hal pekerjaan rumah.
Memang, penulis beserta adik-adik selalu diajarkan untuk mampu melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti membereskan rumah, menyapu, mengepel, menyuci, memasak, dan sebagainya. Bentuk pekerjaan tersebut tak terlepas dari “kata ajaib” sang ibu bahwa “kita selamanya tidak akan terus hidup bersama orangtua”. Oleh karena itulah, didikan kemandirian menjadi sangat penting diterapkan sebab jangan sampai saat dewasa nanti, saat jauh dari orangtua, seorang anak tidak mampu hidup mandiri saking sangat tergantung terhadap orangtuanya.
Di samping itu, adanya didikan kemandirian bisa membentuk regulasi diri pada anak. Regulasi diri adalah kendali tingkah laku diri sendiri (dalam hal ini anak) untuk melakukan penyesuairan terhadap permintaan atau pengharapan orangtua, bahkan saat orangtua tidak ada. Regulasi ini tumbuh bersamaan dengan perkembangan kesadaran diri dan berbagai emosi yang dimiliki, seperti empati, malu, dan rasa bersalah. Misalnya saja seorang anak merasa kasihan ketika mengetahui orangtuanya sakit. Maka dari itu, ia mengetahui yang harus dilakukannya adalah merawat orangtuanya sebagai bentuk kewajibannya sebagai anak.
Berdasarkan penjelasan kedua hal di atas, yakni religiositas dan kemandirian, diharapkan mampu menjadi contoh pola asuh-didik yang baik bagi orangtua demi membentuk perilaku, sikap, sifat, serta kemandirian anaknya. Semoga penjelasan tersebut dan sekilas pola didik yang dialami penulis bermanfaat. Aamiin…

Daftar Pustaka
Alwi, Hasan.,dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Ed.Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Ghufron, M.Nur dan Rini Risnawita S. 2010. Teori-Teori Psikologi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group.
Papalia, Diane E. dkk. 2009. Perkembangan Manusia Edisi 10 (terj.). Jakarta: Salemba Humanika.



[1]  Kelima dimensi tersebut berdasarkan penjelasan M. Nur Ghufron dalam bukunya berjudul Teori-Teori Psikologi.