Showing posts with label Hanya Cerpen Biasa. Show all posts
Showing posts with label Hanya Cerpen Biasa. Show all posts

Monday, February 17, 2014

Love You, Kak


Love You, Kak
(Season Adly)

            Sendiri di rumah. Sambil menunggu Iqbal beserta anak istrinya datang pada malam ini, aku hanya duduk di teras. Sesekali aku menatap langit bertabur bintang kerlap-kerlip. Subhanallah, begitu cantik cahaya bintang-bintang di atas sana. Mahabesar atas Kuasa-Mu ya Rabb.
            Aku pun teringat akan adik bungsuku, Adly. Dulu, saat dia masih kecil, kami berdua sering menatap bintang di langit dari balkon rumah. Bahkan, “gilanya” sewaktu dia SMP (saat itu aku masih kuliah), Adly mengajakku ke atas genting saat akan melihat bintang dengan teropong. Teropong itu merupakan hadiah hasil patungan dariku dan kedua abangnya saat Adly berulang tahun ke-10. Dia memang suka melihat bintang dan apa pun yang berkaitan dengan astronomi. Maka dari itu, tak heran jika sejak SMP dia tergabung dalam klub astronomi, seperti Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ).
Itulah salah satu penyebab mengapa Adly berkuliah di ITB. Kira-kira tiga tahun lalu, saat mengikuti SPMB, dia memilih jurusan ilmu astronomi sebagai pilihan pertama dan teknik elektro sebagai pilihan kedua. Namun, “takdir” berkata lain. Adly memang diterima di ITB, tapi di teknik elektro. Dia pun sempat murung selama seminggu. Tak ceria, tak nafsu makan, hanya mengunci diri di dalam kamar. Karena nasihat kedua abangnya, Iqbal dan Rafi, akhirnya Adly ceria kembali. Dia pun cukup “semangat” berkuliah di jurusan teknik elektro. Toh, meski tidak kuliah di ilmu astronomi, Adly tetap bergabung di HAAJ dan klub astronomi di ITB.
Saat memandangi langit, tetiba ponselku berbunyi. Ternyata, Adly mengirim SMS.

Kakak…. Kakak… Kakak… Adly kangen… kangen… kangen…

Aku tersenyum membaca SMS darinya. Lucu, polos, dan manja. Itulah si bungsu, Adly. Meski begitu, di antara ketiga adikku, hanyalah dia paling “pemberani.”
Kalau kangen makanya pulang. Jangan di Bandung, mulu. Begitu isi balasan SMS-ku.
Iya, nanti kita ke atas genting ya, lihat bintang.
Dalam hati aku hanya berkata, ah, gak salah ke atas genting lagi? Mending lihat dari balkon, deh!
Nanti kamu aja yang naik genting. Kakak sih ogah. Sekalian benerin genting bocor, ya. :D
Hehehhhe sip, Kak!
Sesudah ber-SMS dengan Adly, tetiba aku ingat akan perilakunya yang cukup memusingkan, bahkan “akan” memecahkan kepalaku ini lima tahun lalu. Dan waktu itulah, pertama kalinya aku “marah besar” terhadap adik yang sangat jarang kumarahi itu. Adly pun takut dan hampir menangis ketika aku memarahinya. Maklum, di antara keluarga di rumah, aku dan Bi Minah-lah yang memanjakan dia.
***
Ini merupakan hari ketiga kudapati Adly tidak masuk sekolah. Setiap kutanya, dia hanya menjawab, “Libur, Kak.” Ketika kutanya alasan libur itu, dia hanya bergeming, dan baru menjawab saat kutanya berulang kali. Dan Adly hanya berkata, “Tidak tahu, Kak. Info dari guru seperti itu.”
Sikap dan jawaban tersebut membuatku curiga. Maka dari itu, sebelum berangkat kerja, aku bertanya sekali lagi kepada dia dengan nada tegas.
“Benar, kamu gak masuk sekolah karena libur? Kok aneh, libur sampai berhari-hari? Awas ya, kalau Kakak tahu kamu bohong, ponsel kamu Kakak tahan, PS juga tidak boleh dimainkan.”
“Ih, kok Kakak gitu sih! Ayah ibu aja gak sampai segitunya kasih hukuman,” ujarnya santai sambil merakit mobil tamia di kamarnya. “Lagian, gak percaya amat sama Adly. Sekolah memang libur.”
“Ya sudah kalau begitu. Kakak berangkat kerja dulu. Kamu jangan lupa makan,” kataku sambil menutup pintu kamarnya. Adly hanya bisa mengangguk.
Saat akan mengambil sepatu di rak yang letaknya dekat dapur, Bi Minah menghampiriku.
“Non Jihan, ini Bibi temukan dari saku celana Den Adly,” ujarnya memberikan sebuah kertas yang terlipat tak beraturan.
“Apa ini, Bi?”
“Bibi gak tahu Non. Permisi, Non.”
“Ya Bi, terima kasih. Oya Bi, nanti jangan lupa kalau ayah pulang tolong bilang kiriman paket dari Medan sudah sampai. Paketnya ada di kamar saya, ya. Nanti Bibi ambil aja.”
“Baik, Non. Bibi mau masak dulu.”
“Ya, Bi.”
Kertas apa, nih? Aku pun mulai membuka lipatan surat itu, ada dua lembar kertas. Kemudian, aku membacanya. Dan ternyata, itu surat keterangan bahwa Adly DISKORSING selama seminggu dan surat panggilan ORANGTUA SISWA/WALI ke sekolah. Apa yang dilakukan Adly di sekolah sehingga harus diskorsing seperti ini? Aku langsung bergegas ke kamar Adly.
“Adly! Jadi, kamu sudah bohong sama Kakak!” kataku dengan nada tinggi saat masuk ke kamarnya.
“Bohong kenapa, Kak?” tanyanya santai.
“Ini,” jawabku sambil menyodorkan kedua kertas itu. “Apa maksudnya? Kenapa kamu bohong sama Kakak?”
“Hah, itu mmh itu Kakak dapat dari mana?”
“Kamu tidak perlu tahu! Sekarang Kakak cuma mau penjelasan kamu! Kenapa bisa diskorsing seperti ini? Kamu buat ulah apa lagi? Aduh, Adly, masak sih dari SMP kamu selalu bermasalah di sekolah. Masalahnya karena telat terus, berantem, lalu kalau sekarang kamu buat masalah apa?”
“Itu Kak, yang salah bukan Adly,” katanya membela dengan kepala menunduk.
“Bagaimana yang salah bukan kamu kalau ini sudah ada buktinya. Adly, Adly, kapan sih kamu berhenti buat masalah! Kakak capek kalau harus selesain masalah kamu di sekolah. Untuk kali ini, biar ayah atau ibu saja yang ke sekolah. Mereka harus tahu bagaimana perilaku kamu!”
“Ja…jangan Kak!”
“Bagaimana jangan? Ini jelas-jelas ada surat panggilan orangtua! Kamu mau akhirnya kamu dikeluarkan dari sekolah? Ayah dan ibu pasti kecewa sama kamu!”
“Biarin aja Adly dikeluarin dari sekolah! Memang selama ini ayah dan ibu memperhatikan sekolah Adly? Gak, Kak! Mereka selama ini hanya sibuk dan sibuk dengan pekerjaannya!”
“Mereka sibuk kerja juga demi kamu! Demi Kakak, bang Iqbal, dan bang Rafi!”
“Tapi, apakah selama ini ayah ibu memperhatikan Adly? Sama sekali tidak Kak! Coba Kakak ingat, setiap Adly ambil rapor, bukan ayah atau ibu yang datang. Pasti kalau bukan Kakak, Bi Minah. Ayah dan ibu mana ada waktu untuk anak-anaknya? Mereka cuma bisa menuntut anak ini harus jadi ini, jadi itu, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan anak-anaknya,” ujar Adly dengan nada kesal.
“Adly! Siapa yang mengajarkan kamu bicara seperti itu? Pokoknya, untuk kali ini Kakak sudah angkat tangan untuk menyelesaikan masalah sekolah kamu! Dan kalau memang Adly tidak mau berubah, Kakak tidak segan bilang ke ayah agar kamu dimasukkan saja ke pesantren!”
“Ya sudah kalau begitu! Memang di rumah ini gak ada yang peduli sama Adly!”
Aku tahu maksud perkataan Adly. Dia membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari ayah ibu. Ya, memang benar apa kata Adly, ayah dan ibu terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Ayah nyaris setiap bulan beberapa kali ke luar kota untuk mengurus bisnisnya, sedangkan ibu selalu sibuk dengan jadwal praktiknya di beberapa klinik dan rumah sakit. Maklum, ibu adalah seorang dokter spesialis anak.
Tak bisa dimungkiri, kami berempat memang dicukupi dalam hal materi. Namun, dalam hal kasih sayang dan perhatian, aku bersama ketiga adikku merasa inilah yang “kurang dipenuhi” ayah dan ibu meski aku yakin mereka sangat menyayangi kami, berusaha membahagiakan dan memenuhi kebutuhan kami.
“Selama ini, saat Adly membutuhkan, merasa kesepian, ayah dan ibu tak pernah ada, Kak! Adly kesal, kecewa, seolah Adly tak punya orangtua, hanya punya tiga kakak saja,” ungkap Adly seraya menahan tangis. Adikku yang satu ini memang sangat sensitif, terlebih saat dimarahi atau mengungkapkan kekesalannya, mata Adly  “berkaca-kaca”.
Aku hanya bisa menghela napas, berusaha untuk tidak memarahi Adly apalagi berbicara dengan nada tinggi. Tak tega. Maka dari itu, aku mendekati Adly, duduk di sampingnya, mengusap kepalanya.
“Adly Sayang, semua yang ada di rumah ini sayang sama kamu. Coba deh Adly pikir, sekarang kan kamu sudah remaja, sudah bukan anak kecil lagi. Masak sih, harus diperlakukan seperti anak kecil. Dimanjakan seperti itu.”
“Adly bukan mau dimanjakan Kak, cuma ingin diperhatikan!”
“Nah, sekarang coba Adly dengarkan Kakak. Seharusnya, Adly bersyukur karena masih memiliki orangtua yang lengkap, kakak yang banyak. Adly bisa tinggal di rumah tanpa perlu kerja mencari nafkah karena tugas Adly adalah belajar. Seandainya Adly melihat remaja seusia di sekitar, kamu masih lebih beruntung dari mereka. Bayangkan saja, sebagian dari mereka harus membanting tulang untuk membantu keluarganya, putus sekolah, bahkan tidak memiliki tempat tinggal. Jika selama ini ayah ibu jarang berada di samping Adly, toh mereka juga rela banting tulang demi Adly dan keluarga ini.”
Mendengar penjelasanku Adly hanya bisa tertegun. Sesekali kudengar ia terisak.
“Lagi pula, kalau Adly tahu, sebenarnya ayah dan ibu selama ini juga memantau perkembangan Adly, bagaimana keadaan kamu, sekolah, dan sebagainya. Begitu juga yang dilakukan ayah ibu dengan kedua abangmu. Mereka selalu menanyakan perkembangan kalian kepada Kakak. Tapi, apakah Kakak harus bilang ke kalian masing-masing? Tidak mesti, kan? Nah, satu hal yang perlu Adly ingat, ayah dan ibu sangat sayang sama Adly makanya jangan kecewakan mereka, tunjukan bahwa Adly adalah anak yang bisa dibanggakan, berprestasi.”
“Oya, memang kenapa sih kamu sampai diskorsing? Tawuran?”
Adly hanya mengangguk.
“Kenapa ikut tawuran? Sebabnya apa?” tanyaku pelan.
Lalu, Adly menceritakan bahwa sebenarnya dia hanya menjadi “kambing hitam” dari teman-teman sekolahnya yang ikut tawuran. Awalnya, dengan mengendarai sepeda motor, dia hendak pulang ke rumah. Tiba-tiba di jalan Adly melihat sekelompok anak SMA yang tak lain adalah “musuh” dari anak di sekolahnya. Menurutnya, sekelompok anak itu membawa balok, ikat pinggang, bahkan ada yang membawa celurit untuk tawuran. Adly pun memutuskan untuk menghindar. Dia tidak ingin mendapat masalah lagi dengan ikut tawuran sebab dua minggu sebelumnya mendapat hukuman dari kepala sekolah karena berkelahi dengan kakak kelasnya yang berbuat curang ketika bertanding basket antarkelas.
Saat hendak balik arah, dia melihat ada anak TK yang terjebak di antara sekelompok anak tersebut. Adly merasa kasihan dan ingin melindungi bocah tersebut. Namun sayangnya, ketika ingin menggendong anak itu, seorang dari sekelompok anak SMA yang akan tawuran tersebut meneriakinya, “Woi, musuh sudah datang! Berani banget lo datang sendiri!”
Adly berusaha tidak memedulikan teriakan itu. Dia hanya ingin melindungi si bocah TK.
“Wah, lo nantangin kita!”
Tetiba ada yang melempar batu kecil ke kepala Adly. Tak kuasa menahan emosi, terlebih ternyata teman-teman sekolahnya datang untuk tawuran, Adly kembali melempar batu ke kepala orang yang melempar batu tadi. Setelah itu, dia dipukul perutnya oleh salah satu pelajar yang tak dikenalnya. Perkelahian pun terjadi. Teman-teman sekolah Adly juga memicu tawuran. Semakin menjadi-jadi aksi mereka. Namun, untungnya Adly bisa meloloskan diri dari tawuran tersebut, segera menggendong bocah TK itu, menyalakan motornya, dan mengantarkan si anak ke rumahnya. Kebetulan, bocah tersebut adalah anak dari tukang kebun sekolahnya.
Namun nahas, keesokan harinya Adly beserta beberapa temannya dipanggil kepala sekolah. Dan, sebagian dari temannya yang mengikuti tawuran menyatakan bahwa tawuran terjadi karena Adly yang “memancing” dengan melempar batu kepada “si musuh”. Adly berusaha meyakinkan sang kepala sekolah bahwa dia tidak bersalah, tapi dia tetap dinyatakan bersalah.
“Jadi begitu Kak, ceritanya. Tujuan Adly itu cuma mau menyelamatkan si Mimi, anak bungsunya mang Diman. Tapi, memang rese tuh gank-nya Bono, malah fitnah Adly!”
“Ya sudah kalau begitu. Kakak percaya dengan kamu. Besok Kakak akan temui kepala sekolah.”
“Buat apa Kak? Percuma aja nemuin Pak Erik, dia tuh kalau sudah kasih keputusan gak bisa ditawar-tawar.”
“Ini kan demi kebenaran. Kakak tidak mau kamu kena hukuman, padahal sebenarnya gak salah!”
“Memang kapan Kakak mau nemuin Pak Erik, besok?”
“Iya!”
“Kakak gak kerja?”
“Cuti.”
Keesokan harinya, aku ke sekolah Adly untuk menjelaskan permasalahan tawuran tersebut. Setelah berbicara cukup lama, sang kepala sekolah memutuskan memanggil Adly untuk menandatangani pernyataan tertulis yang diperkuat dengan materai bahwa sekali lagi dia terlibat dalam tawuran ataupun perkelahian dengan sebab lain, tak segan pihak sekolah akan mengeluarkannya.
Setelah menandatangani surat pernyataan itu, aku dan Adly pulang bersama. Masalah Adly sudah selesai kali ini. Saat di perjalanan, aku berkata kepada Adly bahwa dia mesti berjanji agar tidak membuat ulah di sekolah. Dia pun meyakinkanku akan menepati janji itu. Alhamdulillah, sejak saat itu hingga lulus SMA dia sekali pun tak lagi membuat ulah, bahkan nilai UN-nya menjadi nilai tertinggi kedua untuk kelas IPA.
***
Mengingat “masalah” dan perilaku Adly lima tahun lalu membuatku tersenyum. Ya, sekarang Adly tak pernah lagi berbuat ulah. Dia mampu menahan emosinya tatkala ada orang yang ingin mengajaknya “berkelahi”.
Lalu, terdengar suara mesin mobil dari depan rumah. Ternyata Iqbal beserta anak dan istrinya telah sampai.
“Assalamualaikum…” teriak Faiq dan Balra, kedua anak Iqbal.
“Waalaikumussalam…”
“Mama Jihan!!!” panggil mereka sambil berlarian, kemudian memelukku.
“Ma, nanti Faiq bobo di kamar Mama, ya.”
“Balra juga ya, Ma. Nanti Mama bacain  dongeng untuk Balra, ya.”
“Iya. Mama juga kangen sudah lama gak bobo sama kalian.”
“Assalamualaikum, Kak,” salam Iqbal dan Farah seraya mencium tanganku.
“Waalaikumussalam. Ayo, semuanya masuk.”
“Kakak!!!” panggil Adly yang setengah berlari menghampiriku. Dia pun langsung memelukku erat.
“Aduh, Adly, kamu peluknya terlalu erat. Sakit nih badan Kakak.”
“Oops, maaf Kak! Habis Adly kangen banget sama Kakak! Makanya, tadi Adly minta nebeng sama bang Iqbal untuk ke sini,” katanya sambil mencium pipi kiriku. “Oya, ini buat Kakak!” Adly memberikan sebuket mawar biru, bunga kesukaanku.
“Wah, terima kasih, ya Dly! Yuk, masuk!”
“Oke, Kak! Adly juga sudah lapar nih! Heheheh…”
***




Thursday, February 13, 2014

Love You, Kak


Love You, Kak
(Season Rafi)

            Beberapa menit lalu, setelah Iqbal menelepon, Rafi, adik keduaku, mengirim WhatsApp (WA). Sama seperti Iqbal saat awal menelepon, Rafi menanyakan kabarku dan aku bilang bahwa aku sudah lebih baik dari sebelumnya.
            Kak, selama dua hari ke depan Kakak ada acara, gak? Rafi mau ajak Kakak lihat gedung sekolah musik Rafi yang baru selesai dibangun. Hehehhehe J
            Setelah membaca WA Rafi tersebut, aku membalas bahwa memang pada dua hari itu, yang tak lain Sabtu-Minggu, aku tak ada acara. Namun, Iqbal bersama anak dan istrinya selama tiga hari akan menginap di rumah.
            Ya sudah, Kak, Bang Iqbal dan keluarga sekalian aja datang ke sekolah musik Rafi.
            Ya, nanti Kakak bilang ke dia.
            Oke, Kak! Miss you :-* Besok kalau Rafi sudah dekat rumah, Rafi kabari Kakak, ya!
            Sip!
            Rafi, adikku yang satu ini sangat berbakat di bidang musik dan sejak SMA dulu dia selalu bermimpi, suatu saat nanti akan menjadi musisi dan guru musik terkenal serta juga memiliki sekolah musik. Ya, sekarang, tepat pada usia 25 tahun, hampir semua mimpi itu terwujud. Rafi menjadi guru musik dan memiliki tiga gedung sekolah musik. Adapun mimpi yang belum terwujud, yakni menjadi musisi terkenal. Ini disebabkan saking sibuknya Rafi sebagai guru musik sekaligus mengurus sekolah musiknya. Maka dari itu, dia hanya berfokus pada kedua hal tersebut.
            Pernah sesekali aku meledeknya, “Katanya mau jadi musisi terkenal, kok sekarang malah sibuk ngajar musik.” Dia hanya menjawab, “Hehehe… yang penting ada unsur musiknya, Kak! Gak jadi musisi, guru musik pun jadi. Yang penting ngerti not, bisa main alat musik, bisa ciptain lagu…”
            “Ciptain lagu? Buat siapa?”
            “Ya, buat Zah… Eh, gak buat siapa-siapa ding!” ujarnya agak gugup. Ya, sebenarnya aku tahu Rafi memang menciptakan beberapa lagu dengan syair puitis yang ditujukan kepada gadis yang disukainya. Siapa lagi kalau bukan Zahra. Oops, aku pun tahu tentang Zahra dari si bungsu, Adly, sebab selama ini hanya Adly yang menjadi teman curhat Rafi ketika dia membicarakan soal Zahra. Adik keduaku ini memang benar-benar tertutup soal kisah “cinta” kepadaku.
                                                                       ***
            Suara gitar elektrik yang dimainkan Rafi cukup memekakkan telinga sehingga aku tidak bisa tidur siang. Dengan tak acuh bahwa di rumah ada aku yang ingin beristirahat pada Minggu yang panas ini serta Adly yang belajar untuk menghadapi UAS pada keesokan harinya, Rafi memainkan lagu Gun’n Roses berjudul “Sweet Child o Mine”.
            Karena sudah tak tahan dengan suara gitarnya itu, aku bergegas ke kamar Rafi. Segera kubuka pintu kamarnya serta mencabut kabel sound system dari gitarnya.
            “Lah, kok suaranya beda?” tanyanya heran. Lalu, dia segera menengok dan mendapati diriku yang masih memegang kabel sound system tersebut.
            “Berisik, Kakak mau tidur!” kataku.
            “Ya, Kakak kalau mau tidur, tidur aja! Gak usah cabut kabel segala,” ujarnya dengan wajar cemberut sambil mengambil kabel dari tanganku dan memasukkannya kembali ke stopkontak.
            “Fi, bisa tidak sekali ini saja kamu tidak main gitar. Kakak mohon banget! Kakak ingin istirahat!”
            “Kan, tadi Rafi sudah bilang, kalau Kakak mau istirahat, ya silakan. Tapi Rafi tetap mau main gitar. Hari Minggu, jatah Rafi main gitar sepuasnya!”
            “Gimana sepuasnya? Memang kamu tinggal di rumah sendiri? Ada kakak, abang dan adikmu, ayah, ibu.”
            “Tapi, sekarang kan cuma ada Kakak dan Adly. Ayah ibu lagi ke luar kota. Jadi, lumayan kan Rafi bisa main gitar sepuasnya!”
            “Ya, tidak bisa begitu juga. Yang ada di rumah ini juga berhak untuk istirahat, merilekskan otak dan badan dari aktivitas kemarin-kemarin.”
“Dan main gitar merupakan cara Rafi untuk merilekskan pikiran, Kak!” katanya dengan nada tinggi. Aku tahu dia sudah mulai kesal. Memang, dibanding Iqbal, Rafi jauh lebih keras kepala. Sulit menang jika berdebat dengannya. Sekali suara kita melantang keras, Rafi akan membalasnya dengan suara lebih keras.
“Rafi, Kakak mohon sekali bisa kan untuk kali ini tolong hentikan permainan gitarmu itu. Lagi pula kamu sudah main dari tadi pagi, masak belum puas juga!”
“Ya, kalau memang Rafi belum puas mainnya kenapa, Kak? Kan, yang main Rafi. Toh, ini gitar Rafi!”
“Rafi, kamu bisa kan bicara lebih sopan kepada Kakak,” kataku merendahkan suara, tepatnya meredam emosi. Menghadapi Rafi memang harus “ekstra sabar”.
“Cukup deh, Kak! Rafi bukan anak kecil lagi! Sekarang Rafi ingin sendiri!” ujarnya tanpa menolehku.
Entah mengapa hatiku merasa “tak enak”. Sepertinya, Rafi sedang ada masalah. Tapi masalah apa? Ingin kutanya, namun pasti dia tidak akan memberi tahu dan atau menjawab dengan nada membentak, “Tidak apa-apa! Ini urusan Rafi!”
Saat Rafi mengatakan dirinya ingin sendiri, terpaksa akulah yang harus mengalah, keluar dari kamar Rafi, meninggalkannya. Sebelum aku menutup kamarnya, aku melihat sebuah kertas di atas meja belajar Rafi yang letaknya tak jauh dari sound system gitar elektriknya.
Kertas apa itu? Terlihat jelas kertas itu lecak. Karena penasaran, akhirnya aku mengambil kertas tersebut, lalu membacanya. Astagfirullah, ternyata kertas tersebut merupakan hasil studi Rafi semester ganjil belum lama ini. Kuamati nilai mata kuliah yang diambilnya. Ada tujuh mata kuliah disebutkan di kertas itu, lima di antaranya dengan nilai yang “parah”, dua mendapat C dan tiga D. Dua nilai untuk mata kuliah lainnya mendapat nilai B. Ya ampun Rafi, mengapa seperti ini nilaimu?
“Jadi, ini yang kamu maksud dengan merilekskan pikiran?” tanyaku sambil menyodorkan kertas nilai tersebut di depan mukanya. Spontan dia langsung mengambil kertas tersebut dan langsung membuangnya ke tong sampah di samping tempat tidurnya.
“Itu gak penting, Kak!” katanya ketus.
“Bagaimana tidak penting! Kamu kenapa, Fi? Nilai kamu hampir semuanya buruk!”
“Kan, dari sebelum kuliah Rafi sudah bilang, gak mau ambil jurusan akuntansi. Rafi mau kuliah di IKJ ambil jurusan seni musik. Tapi, ayah selalu memaksakan kehendaknya! Ayah sama sekali tidak memikirkan apa yang diinginkan Rafi!” ujarnya sambil “membanting” tubuhnya ke tempat tidur.
“Kakak pasti tahu, kan, minat Rafi itu di musik, bukan di bidang ekonomi!”
“Iya, Kakak tahu.”
“Bukan cuma Kakak, ibu juga tahu, mungkin juga ayah. Tapi kenapa ayah tetap saja memaksakan kehendak kepada Rafi untuk mengambil jurusan akuntansi! Rafi gak suka, sama sekali tidak suka!”
“Ayah hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik, Fi!”
“Terbaik bagi ayah, bukan berarti baik bagi Rafi Kak. Ini seperti “neraka” bagi Rafi! Rafi juga gak peduli, mau semester depan DO atau gak kuliah!”
“Kamu jangan begitu, Fi. Jangan kecewakan ayah ibu. Kamu harus tetap kuliah, tunjukan bahwa kamu bisa membuat mereka bangga.”
Aku berusaha membujuk Rafi, tapi sepertinya tak diindahkan olehnya. Aku tahu Rafi merasa tertekan dengan tuntutan ayah, kuliah di jurusan yang sama sekali tidak ia minati. Akhirnya, ya hasil semua studinya sangat tidak memuaskan.
“Ya sudah kalau begitu. Kakak tahu Rafi ingin kuliah di IKJ, makanya besok kalau ayah ibu sudah pulang, Kakak akan bicara kepada mereka supaya kamu pindah kuliah saja, asalkan kamu janji tetap kuliah,” kataku sambil keluar dan menutup pintu kamarnya.
                                                           ***
Dua hari setelah hari Minggu itu, tepatnya pada malam, aku mencoba membicarakan masalah Rafi kepada ayah dan ibu. Aku juga memberikan kertas hasil studi Rafi saat semester ganjil. Kertas ini kuambil dari tong sampah kamar Rafi saat dia sedang tidur.
“Jadi, bagaimana Yah, Bu setelah melihat nilai-nilai Rafi? Buruk-buruk, kan? Itu karena dia merasa tertekan dengan kuliah jurusan akuntansi.”
“Ya, tapi kan jurusan itu bagus, demi masa depan dia,” kata ibu.
“Memang bagus, Bu, tapi menjadi beban bagi Rafi. Kasihan dia.”
“Kalau dia mau kuliah jurusan musik, mau jadi apa nanti? Hanya berkutat di bidang musik dan musik, apa yang bisa dibanggakan?” kata ayah dengan nada tinggi.
“Setidaknya, itulah minat dari Rafi, Yah. Jihan mohon sekali sama Ayah, tolong untuk kali ini saja, jangan memaksakan kehendak Ayah terhadap Rafi. Kalau dia stres, lalu akhirnya DO, kasihan juga kan, Yah!”
“Ayah tetap tidak setuju jika dia keukeuh kuliah jurusan musik!”
“Tapi, benar yang dikatakan Jihan, Yah. Kasihan juga jika Rafi berkuliah tapi karena paksaan. Itu akan mengganggu kelancaran studinya,” kata ibu.
“Lalu, setelah dia kuliah di jurusan musik, siapa yang akan menjamin masa depannya?” tanya ayah.
“Allah, Yah. Hanya Dia yang menjamin seutuhnya. Allah yang menentukan rezeki setiap manusia. Jika Ayah tetap tidak percaya dengan minat kuliah Rafi, Jihanlah yang menjadi jaminannya!”
Setelah pembicaraan seriusku dengan ayah dan ibu pada malam itu, akhirnya ayah meminta beberapa hari untuk berpikir. Selang seminggu kemudian, tepat pada ulang tahun ke-20 Rafi, di meja makan—saat kami makan siang bersama—ayah mengungkapkan bahwa dia akan mendaftarkan Rafi ke IKJ, asalkan Rafi menyelesaikan kuliahnya di semester genap ini dengan hasil yang baik. Selain itu, Rafi juga ditekankan ayah agar saat kuliah di IKJ, dia fokus, bahkan kalau perlu mendapat predikat cum laude. Dengan wajah yang bahagia, Rafi pun menyanggupi persyaratan ayah.
Selepas makan siang, Rafi masuk ke kamarku. Lalu dia segera mencium tanganku dan memelukku erat seraya berkata, “Terima kasih, Kak. Terima kasih. Hanya Kakak yang benar-benar mengerti apa yang diinginkan Rafi. Sekali lagi terima kasih, Kak. Rafi janji akan kuliah sungguh-sungguh saat di IKJ nanti.”
“Iya, Fi. Jangan lupa kamu juga harus berterima kasih kepada ayah dan ibu karena merekalah yang akan mendaftarkan kamu di IKJ nanti,” ujarku sambil mengelus kepalanya.
***





  

Tuesday, February 11, 2014

Love You, Kak!


Love You, Kak!
(Season Iqbal)

            Hari ini panas sekali. Untunglah pekerjaan di kantor sudah selesai selepas zuhur tadi dan aku cukup berterima kasih kepada atasanku yang mengizinkanku pulang lebih awal dari “jam kantor”, pukul 13.30 WIB. Mungkin, dia merasa kasihan karena melihat kondisiku belum pulih total pasca dirawat di rumah sakit dua hari lalu.
            Sesampainya di rumah, tak ada yang berbeda. Tetap seperti biasa, sepi. Hanya ada Bi Minah, pembantu di rumah. Itu pun dia hanya bekerja dari selepas subuh hingga sore. Dengan kata lain, saat ini di rumah hanya ada aku dan Bi Minah.
            Ayah, mmh, jangan ditanya lagi. Beliau sangat sibuk, apalagi sedang mengurus bisnis batu baranya di Kalimantan Timur. Kalau ibu sedang menjadi narasumber di beberapa seminar dan workshop kesehatan ibu dan anak di beberapa wilayah di Pulau Jawa, NTT, dan NTB. Kemungkinan baru pulang minggu depan.
            Ditinggal ayah dan ibu untuk menyelesaikan pekerjaannya masing-masing sudah biasa bagiku. Toh, sejak kecil memang sudah sering ditinggal. Namun, ada hal yang paling aku rindukan, yakni adik-adikku. Saat suasana sepi seperti ini, aku ingin adik-adikku berkumpul, menemaniku, bercanda tawa, bercerita, menasihati mereka, pun memarahinya. Sayangnya, saat ini ketiga adikku, Iqbal, Rafi, dan Adly, sudah mempunyai urusan masing-masing. Makanya, kebersamaan dengan mereka semakin jarang, bahkan sekarang sangat jarang.
            Terlebih, saat ini adik pertamaku, Iqbal, sudah berkeluarga dan tinggal di Bandung bersama istri dan anaknya. Raffi sibuk dengan pembangunan gedung baru dan mengatur sekolah musiknya di Bogor, sedangkan adik bungsuku, Adly, saat ini kuliah di ITB jurusan teknik elektro dan pulang paling cepat sebulan sekali. Aku sangat merindukan ketiga adikku. Kapan mereka ke sini? Menemani dan menggodaku, sekaligus menghiburku dengan tingkah mereka yang terkadang “ aneh”.
Aku hanya bisa melihat foto mereka bertiga yang selalu kupajang dalam bingkai berukuran 10x15 cm yang terletak di meja samping tempat tidurku. Tak terasa, air mataku menetes. Kakak rindu kalian.
                                                                   ***

Tok…tok…tok…

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Entah siapa yang mengetuk. Namun, kupastikan hanya ada tiga orang yang kemungkinan mengetuk kamarku pada malam ini. Antara Iqbal, Rafi, dan Adly, sedangkan ayah dan ibu tidak mungkin karena mereka belum pulang kerja.
“Masuk,” kataku. Seseorang pun masuk ke kamarku. Ternyata dia adalah Iqbal, adik sulungku.
“Kak, Iqbal mau ngomong sesuatu,” ujarnya sambil duduk di atas tempat tidurku, tepatnya di sampingku.
“Mau bicara apa?” tanyaku sambil fokus mengetik di notebook.
“Kakak bisa bantuin Iqbal, gak?” tanyanya ragu-ragu.
“Bantu apa, Bal?”
“Iqbal mau nikah, Kak!” jawabnya mantap. Aku terkejut mendengarnya. Spontan aku membalikkan badan dan menatapnya dengan dekat.
“Apa? Kamu mau menikah? Kamu yakin? Mau menikah dengan siapa?”
“Ya, dengan gadis pilihan Iqbal, Kak!”
“Tapi, kamu masih muda. Usia baru masuk 22 tahun, kuliah belum lulus, masih nyusun skripsi, belum kerja! Kenapa mau nikah?”
“Ya, karena Iqbal sudah yakin dengan pilihan Iqbal, Kak!”
“Memutuskan menikah itu bukan sekadar keyakinan terhadap pilihanmu, Bal. Tapi, coba pikirkan bagaimana ke depannya. Kamu kan nanti jadi kepala keluarga, yang akan mencukupi kehidupan istri dan anak kamu. Memang kamu sudah siap segalanya?”
“Insya Allah, Iqbal siap, Kak! Lagi pula calon istri Iqbal kan teman kampus, kakak juga sudah kenal. Kita juga sama-sama lagi nyusun skripsi. Ya, semoga saja nanti bisa co-as bareng. Kan, asyik juga Kak, sudah nikah co-as bareng.”
Mendengar ungkapan Iqbal, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Iqbal memang keras kepala, sekali dia menginginkan sesuatu, pasti akan “memperjuangkannya” hingga dapat. Ya, seperti ini, keinginan untuk menikah, yang menurutku keinginan terberat yang pernah kudengar.
“Tunggu dulu. Sepertinya Kakak tahu siapa calonmu itu. Pasti Farah, ya! Satu-satunya teman perempuan kamu yang diajak ke sini dan dikenalkan ke kakak. Benar, gak?”
“Iya, Kak. Hehehhe…. Maka dari itu, Kak, Iqbal mau minta tolong. Tolong bilang ke ayah dan ibu kalau Iqbal mau nikah. Ya, Kak, tolong bilangin ke mereka, soalnya Iqbal sudah melamar Farah dan bilang kepada kedua orangtuanya. Mereka sudah setuju.”
“Apa? Aduh Iqbal, kenapa sepihak begitu? Kenapa baru bilang sekarang ke Kakak kalau sudah melamar Farah? Ini bakal jadi rumit, Bal! Ayah dan ibu juga belum tentu setuju!”
“Tapi, Iqbal yakin kalau Kakak bisa bantu Iqbal meyakinkan ayah dan ibu untuk menyetujui keinginan Iqbal.”
Aku hanya bisa terdiam. Di satu sisi aku senang karena setidaknya Iqbal cukup berani mengambil keputusan, bahkan sudah melamar Farah. Jujur saja, aku sangat setuju karena aku yakin Farah adalah perempuan baik dan pantas menjadi istri Iqbal. Namun, di sisi lain aku bingung bagaimana mengutarakan maksud Iqbal tersebut ketika ayah dan ibu pulang kerja. Mungkin, ibu akan paham, tapi bagaimana dengan ayah? Ayah termasuk orang yang keras dan tegas. Sekali tidak, ya TIDAK! Sulit melunakkan hati ayah. Apalagi Iqbal ingin menikah pada saat dia belum lulus kuliah, bahkan usianya terbilang muda. Ya, meski tak dimungkiri, jodoh yang mengatur adalah Sang Illahi. Dia-lah Maha Menentukan kapan waktu yang tepat untuk mempertemukan jodoh setiap manusia.
“Kak, kok diam! Kakak bisa kan bantu Iqbal? Please, Kak ini untuk terakhir kalinya.”
“Insya Allah Kakak coba, Bal! Tapi, Kakak tidak yakin bagaimana dengan keputusan ayah nanti. Kamu tahun sendiri, kan bagaimana ayah?”
“Iya, Kak,” kata Iqbal dengan suara pelan. Aku tahu, pasti dia juga memikirkan seperti apa komentar ayah nanti ketika mengetahui bahwa dirinya ingin menikah.
“Kak, Iqbal mohon maaf, ya Kak.”
“Minta maaf? Memang kenapa, Bal?”
“Selama ini Iqbal selalu merepotkan Kakak. Dari kecil bahkan sampai sekarang Iqbal selalu meminta bantuan Kakak. Tapi, Kakak selalu berusaha menolong Iqbal. Maafkan Iqbal, ya Kak. Iqbal belum bisa menjadi adik yang baik untuk Kakak, belum bisa membalas kebaikan Kakak.”
“Bal, Kakak tidak menginginkan balasan dari Iqbal. Semua Kakak lakukan tulus untuk Iqbal. Iqbal adik Kakak, sama seperti Rafi dan Adly. Dan karena Kakak adalah anak sulung, seorang kakak, maka memang sudah menjadi kewajiban Kakak untuk membantu dan membela adik-adik Kakak selama itu tujuannya baik.”
“Maafkan Iqbal, Kak. Iqbal baru mengungkapkan keinginan menikah sekarang, telah melamar Farah tanpa memberi tahu Kakak. Karena jujur, sebenarnya Iqbal takut dimarahi Kakak dan juga tidak enak karena mungkin akan “melangkahi” Kakak.”
“Bal, mana mungkin Kakak marah dengan keputusan Iqbal? Justru Kakak bangga lho dengan Iqbal. Ya, meski kaget juga sih dengarnya. Satu hal yang perlu Iqbal ingat, sama sekali tak masalah bagi Kakak jika Iqbal “melangkahi” Kakak, toh yang mengatur jodoh itu kan Sang Illahi. Jika memang adik-adik Kakak sudah mendapat jodoh terlebih dahulu, ya tidak perlu dipusingkan, bukan masalah bagi Kakak. Insya Allah Kakak ikhlas, Bal,” kataku seraya memeluk Iqbal. “Bantu doa ya Bal, semoga Kakak bisa bantu bicara kepada ayah dan ibu. Dan keinginanmu untuk meminang Farah berjalan lancar tanpa hambatan.”
“Aamiin. Terima kasih, Kak. Sekali lagi Iqbal minta maaf, ya Kak. Iqbal sayang sekali sama Kakak. Kakak adalah pahlawan bagi Iqbal.”
“Iya, Kakak juga sayang semua adik Kakak.”
                                                                     ***
Masih teringat dalam benakku bagaimana sikap ayah ketika mendengar bahwa Iqbal ingin menikah. Bukan hanya menolak, melainkan ayah sangat tidak menyetujui keinginan mulia Iqbal. Ayah benar-benar marah.
“Ayah tekankan sekali lagi, Iqbal tidak akan menikah sebelum dia lulus kuliah, sebelum dia resmi menjadi dokter!” kata ayah dengan nada tinggi.
“Mengapa tidak boleh, Yah? Keinginan Iqbal kan mulia,” kataku.
“Sekali Ayah bilang tidak, ya tidak! Ayah tidak setuju jika Iqbal menikah di usia semuda ini!”
“Apakah ada yang salah, Yah jika Iqbal menikah pada usia 22 tahun? Dulu Ayah menikah dengan ibu juga masih kuliah, usianya pun sama dengan Iqbal.”
“Kamu jangan menggurui Ayah. Itu tidak sopan! Lagi pula Ayah tidak ingin kamu dilangkahi Iqbal!”
“Jihan bukan menggurui Ayah, tapi hanya ingin mengingatkan Ayah. Datangnya jodoh, siapa yang tahu, Yah? Semua sudah ketentuan-Nya. Maaf Yah jika Jihan berbicara seperti ini. Tapi, Jihan juga tidak tega kalau keinginan Iqbal tak disetujui oleh Ayah, tak mendapat restu Ayah.”
Dan sejak perdebatan itu, setidaknya sekitar tiga hari ayah tak menegurku. Aku tak diacuhkan oleh ayah meski aku berusaha mulai bicara kepadanya. Namun, pada hari keempat sesuatu terjadi oleh ayah. Beliau mengajak kami berempat, yakni dirinya, ibu, aku, dan Iqbal, berbicara di ruang keluarga. Ternyata alhamdulillah, ayah menyetujui rencana Iqbal untuk menikah. Ini disebabkan setelah berpikir matang selama beberapa hari serta mendengarkan “bujukan” ibu, akhirnya hati ayah luluh. Maka dari itu, dua bulan kemudian Iqbal menikah dengan Farah.
Ya, itu merupakan “kejadian” lima tahun lalu yang tak terlupakan olehku. Meluluhkan hati ayah memang sulit, tapi yang terpenting dalam hidupku adalah asalkan adik-adikku bisa bahagia, apa pun akan kuusahakan demi mereka.
Tetiba ponselku berbunyi. Ternyata Iqbal meneleponku.
“Assalamualaikum. Kak, apa kabar?”
“Waalaikumussalam. Alhamdulillah Kakak baik. Bagaimana kabarmu dan anak istri?”
“Alhamdulillah baik, Kak. Oya Kak, insya Allah malam ini kami akan ke sana. Ya, sekitar tiga hari kami menginap,” kata Iqbal.
Jujur saja, mendengar perkataan Iqbal tadi aku sangat merasa senang. Allah mengetahui apa yang kuinginkan saat ini. Dia Maha Mendengar isi hati. Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb.
“Iya, Kakak tunggu ya, Bal.”
***




Sunday, February 9, 2014

(Tidak) Ada Cinta Terlambat


(Tidak) Ada Cinta Terlambat
#part 4

            Hampir setiap hari untuk mengobati rasa rinduku kepadamu, aku hanya bisa memeluk syal rajut yang dibuatkan olehmu. Syal berwarna biru muda dengan bertuliskan namaku, Amir Syarief, begitu rapi kau buatkan untukku. Teringat olehku, 11 tahun lalu dengan malu-malu kau memberikan sebuah kotak berbungkus kado. Kau hanya berkata, “Ini untukmu, semoga kau suka. Mmh, o iya, terima kasih lukisannya. Lukisanmu sangat indah.” Setelah berkata, kau berlalu seolah tak “memberikan kesempatanku” untuk mengucapkan terima kasih dan berkata “Lukisan itu khusus kubuat untukmu.”
            Naina, akhirnya kita bisa bertemu lagi. Namun, apakah kemarin merupakan waktu yang tepat untuk berjumpa, yakni saat acara lamaran sahabatku, Nakula? Beberapa tahun lamanya tak kudengar kabar darimu, tapi ketika mendapat kabar, ternyata kaulah yang akan menjadi calon istri Nakula.
            Seperti aku, Nakula akan memberi tahu siapa calon pendamping hidupnya ketika sudah melamar perempuan pilihannya. Ketika kuketahui, ternyata perempuan itu adalah kau. Terkejut, tentu. Bahagia, pasti. Ya, aku terkejut karena tak menyangka calon istri sahabatku adalah perempuan yang kucintai sejak sekolah dulu. Aku bahagia karena akhirnya Nakula pun akan menikah. Ikhlaskah aku? Relakah diriku jika perempuan yang akan dipinang Nakula pada dua bulan ke depan adalah dirimu?
Masih cintakah diriku ini kepadamu, Naina? Tak bisa kupastikan lebih. Aku sadar, bulan depan aku akan menikah dengan Aira. Aku sangat menyayanginya, tapi apakah aku mencintai Aira seperti aku mencintaimu? Terlebih, saat kemarin kita bertemu lagi, seolah itu membangkitkan gejolak asa yang kupendam terhadapmu selama bertahun-tahun.
Naina sama seperti Aira, cantik, baik, cerdas, berjilbab. Adapun yang membedakan keduanya, Aira jauh lebih periang dibandingkan Naina. Ya, walaupun begitu, sekarang Aira sedikit berubah, lebih feminin.
Naina, namamu, wajahmu, suaramu tak pernah kulupa. Kemarin kau tampak cantik sekali. Salahkah aku, jika sesekali kupandangi dirimu dari kejauhan dan ups khilafku, membandingkannya dengan Aira, calon istriku sendiri.
Ya, seandainya dulu kukatakan saja secara jujur tentang perasaanku kepadamu Naina. Pastinya kau juga menungguku untuk menyatakan itu. Namun, mungkin ini sudah menjadi takdirku dari-Nya. Tak sempat utarakan cinta, tapi mendapati orang yang dulu kucinta ternyata akan menikah dengan sahabatku sendiri. Itu tandanya aku harus mengikhlaskannya bersanding dengan Nakula. Sudah menjadi keputusan tepat bagi Nakula karena dia memilih Naina untuk menjadi istrinya.
Namun, mengapa hingga sekarang rasa sesak dan nyeri hati itu ada? Tidak, aku harus bisa menghilangkannya. Aku harus bisa melupakan Naina. Sebulan lagi aku akan menikah dengan Aira. Tak mungkin jika aku menikah dengan perempuan pilihanku, tapi di satu sisi terselip cinta untuk Naina, calon istri sahabatku sendiri. Tidak, ini semua harus kucegah, jangan sampai melampaui batas. Aira-lah yang akan menjadi istriku, pendamping hidupku. Aku harus menjaga perasaan ini. Harus bisa!

             

(Tidak) Ada Cinta Terlambat


(Tidak) Ada Cinta Terlambat
#part 3
           
Setelah tiga tahun tak bertemu, akhirnya aku bisa berjumpa lagi dengannya. Namun, mengapa harus bertemu saat kami sudah memiliki calon masing-masing? Bahkan, ketika kuketahui bahwa dia adalah sahabat calon suamiku, Nakula, dan akan menikah bulan depan. Tak hanya itu, ternyata calon istrinya juga orang yang kukenal, rekan bisnisku, Aira. Mengapa terjadi seperti ini? Ya Allah, adakah rahasia di balik semua ini? Inikah skenario-Mu?
            Amir, sosok pria yang selalu ada dalam pikiranku, hatiku, dan juga merupakan CINTA PERTAMAKU. Hingga sekarang rasa itu pun masih tertanam dalam lubuk jiwaku. Bahkan, aku yakin rasa tersebut tak berkurang. Namun, itu hanya sekadar angan yang tak terwujudkan. Dia akan menikah dengan Aira bulan depan. Ya, bulan depan.
            Andai saja waktu bisa terulang kembali, tak perlu kupikirkan bahwa aku seorang perempuan yang sebaiknya menanti seorang laki-laki yang kucintai mengatakan cinta. Lebih baik kukatakan cinta terlebih dahulu tanpa perlu kupikirkan apakah dia mencintaiku atau tidak. Aku hanya ingin mendapatkan jawaban pasti. Akan tetapi, ya itu hanya sekadar angan. Buktinya, sesuatu yang ingin kukatakan justru tak bisa kuucapkan.
            Jikalau aku bertemu dengan Amir jauh sebelum aku bertemu Nakula, sebelum kedua orangtua kami menjodohkanku dengannya, tak kupedulikan apa kata orang, “tak pantas bila perempuan lebih dahulu menyatakan cinta”. Karena, aku hanya butuh kepastian dari Amir. Namun, semua tampak terlambat. Amir kini sudah memilih Aira sebagai calon istrinya. Dan aku, dengan “keterpaksaan” menerima lamaran Nakula meski sejujurnya aku tak yakin bahwa Nakula juga mencintaiku.
            Nakula memang laki-laki yang baik dan aku yakin itu. Dia pekerja keras, bertanggung jawab, jujur, dan cukup perhatian. Sudah semestinya aku merasa beruntung karena dijodohkan dengannya. Namun, bagaimana dengan “kata hati”? Tentu ini tidak bisa dibohongi. Jujur saja, aku mengagumi Nakula, tetapi cintaku untuk Amir. Bahkan aku pun tak yakin apakah saat menikah nanti aku dapat mencintai Nakula. Karena, satu hal krusial dalam membina sebuah rumah tangga dalam suatu pernikahan adalah keikhlasan dalam mencintai pasangan, bukan mencintai pasangan karena keterpaksaan.
            Baru kusadari, begitu sempitnya kehidupan ini. Aku bertemu Amir saat acara lamaranku bersama Nakula dan saat itu pula kuketahui bahwa Amir dan Aira akan menikah bulan depan. Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku merelakan Amir? Apakah aku juga mengakui kepada Nakula bahwa aku belum bisa mencintainya? Rabbi, berikan aku petunjuk. Tolong beri aku petunjuk. Aku tidak ingin hatiku tersesak, tersiksa hanya karena memendam cinta.
            Dan aku semakin rindu dendam tatkala setiap hari aku menatapi lukisan kaligrafi yang kupajang di pojok kamarku. Lukisan terindah dari Amir, sewaktu aku berulang tahun ke-17. Lukisan kaligrafi itu adalah namaku. Amir khusus membuatkannya untukku. Aku yakin, Amir tulus membuat lukisan tersebut. Bisa kurasakannya ketika memandang lukisan itu lebih dekat.
            Ah, Amir, mungkin kau memang bukan untukku. Sebentar lagi kau akan dimiliki Aira seutuhnya. Meski tak dimungkiri, jauh dalam lubuk hati ini, aku masih berharap kau yang akan menjadi imamku. Pun masih ada kesempatan untuk saling menyatakan cinta.
           

(Tidak) Ada Cinta Terlambat


(Tidak) Ada Cinta Terlambat
#part 2
           
Selepas pertemuannya kemarin, sewaktu acara lamaran, entah mengapa dirinya selalu terbayang dalam benakku. Terlebih, penampilannya berbeda dengan dulu, 10 tahun lalu, saat kami terakhir bertemu. Dengan jilbab hijau toska dan gamis berwarna sama, dia terlihat anggun. Pun, bertambah cantik. Dia juga terlihat lebih berisi, tak seperti dulu, agak tirus sehingga dagunya terlihat lancip.
Spontan ingin rasanya mengenang masa SMA dulu. Aku pun membuka buku tahunan. Kulihat foto kelas kami. Maklum, sejak kelas dua hingga tiga SMA kami sekelas. Di foto itu ada foto bersama teman-teman sekelas dan dia berdiri di sampingku seraya tersenyum ceria. Lalu, kulihat foto selanjutnya. Di foto itu terlihat kami hanya berdua sedang duduk bersama di bangku kelas. Seingatku, dulu temanku, Bono, sengaja memfoto kami berdua. Padahal, saat itu aku dan dia sedang merencanakan kerja kelompok. Tapi, ya begitulah, dia. Memang sudah berbakat narsis, dengan tak acuh bahkan tak malu langsung bergaya saat Bono mengambil foto.
Setelah membalik-balik tiap halaman buku tahunan, kudapati fotonya yang memakai topi kerucut dan dihiasi kertas krep. Dengan gaya “unyu-unyu” dia berfoto di sampingku yang saat itu memakai kaos basket SMA kami sambil memegang bola. Ya, saat itu kebetulan sekolahku memenangkan pertandingan lomba basket se-SMA Kota Bandung. Inilah yang kurindukan darinya, keceriaannya, kelucuannya, kepolosannya, dan senyumnya.
Ah, mengapa aku seperti ini? Memikirkan seseorang yang akan menjadi milik orang lain. Milik sahabatku sendiri, Amir. Inikah yang dimaksud Amir sebagai sebuah kejutan? Apa maksudnya? Apakah dia tahu bahwa aku dan calon istrinya adalah teman SMA?
Amir, ya dia adalah sahabatku sejak SMP. Kami sering berbagi cerita satu sama lain, terkecuali hal-hal yang menurut kami cukup pribadi, terutama soal “cinta”. Amir memang pernah bercerita bahwa dia akan segera menikah dengan gadis yang dikenalnya setahun lalu. Namun, tak pernah terucap darinya nama dari gadis itu. Setiap kali kutanya siapa nama calon istrinya, dia selalu menjawab, “Nanti akan kuberi tahu setelah kau juga akan menikah.” Dan kemarin, tepat saat acara lamaranku dengan gadis pilihan orangtuaku, barulah Amir memperkenalkan calon istrinya kepadaku. Tak bisa kumungkiri, calon istrinyalah sosok yang selama ini kurindukan dan sangat ingin kutemui.
Rinduku terhadapnya cukup dalam. Ini disebabkan selepas SMA, orangtuaku telah mendaftarkan diriku di salah satu universitas di Negeri Kanguru. Alhasil, aku pun harus kuliah di sana dan selama lima tahun bekerja di sana. Baru tahun ini aku kembali ke Bandung, tempat tinggalku. Namun ternyata, belum sempat kumenemuinya, selama tiga bulan ini aku harus melakukan pendekatan dengan calon tunanganku, yang tak lain adalah anak dari sahabat ayah.
Hidup adalah pilihan. Mungkin ini memang yang terbaik. Aku harus merelakannya dia bersama Amir. Aku yakin, Amir memang pantas menjadi suaminya. Dia sahabat terbaik yang pernah kukenal. Sudah sebaiknya aku melupakan Aira, perempuan itu, mengharapkannya, dan juga berusaha untuk mencintai tunanganku sebisa mungkin.


Sunday, February 2, 2014

(Tidak) Ada Cinta Terlambat


(Tidak) Ada Cinta Terlambat
#part 1

            Aku hanya bisa menatap diriku dari cermin. Berdiri tegak. Apa yang terjadi denganku? tanyaku dalam hati. Seharusnya, tak perlu, bahkan tak pantas aku merasakan ini. Seolah seperti remaja saja yang baru merasakan jatuh cinta.
            Teringat wajahnya, terngiang suaranya hingga sekarang, bahkan bayangan masa lalu ketika bersamanya sewaktu sekolah dulu, sepuluh tahun lalu.
            Lalu, kudekatkan lagi wajahku di cermin. Kugelembungkan wajahku, sekadar memastikan apa yang dikatakannya kemarin, saat pertama kalinya kami berdua bertemu lagi setelah sekian lama tak bersua.
            “Kamu gemuk,” ujarnya. “Tapi, kamu semakin cantik dengan jilbab itu,” bisiknya saat dia berada di sampingku.
            Ya, seperti benar katamu, aku gemuk, gumamku dalam hati sambil melihat pipiku yang agak chubby.
            Tetiba ponselku yang berada di tempat tidur berbunyi. Ada SMS. Kulihat nama si pengirim SMS. Amir. Ya, dia adalah tunanganku.
            10 mnt lagi aku sampai, begitulah isi SMS-nya. Aku pun hanya membalas Ya.
            Setelah itu, aku kembali menatap diriku di cermin. Entah ini halusinasiku atau bukan. Dari cermin, terlihat jelas di belakangku ada sosok dia. Ya, pria berpostur tinggi tegap dengan tinggi 170-an sentimeter, berkulit putih, berkaca mata, berkemeja garis abu-abu, pun rambutnya tersisir rapi. Persis saat kulihat dia kemarin.
            Spontan aku membalikkan badanku. Namun, ternyata dia tak ada. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Bodoh! Kataku dalam hati.
            Aku kembali ke cermin, memperbaiki jilbab yang kukenakan saat ini, merah hati dengan motif bunga-bunga. Sebentar lagi tunanganku datang dan kami hendak ke tempat katering, undangan, dan tenda demi memastikan persiapan untuk pernikahan kami nanti, bulan depan.
            Akan tetapi, entah mengapa bayangan akan pria itu selalu saja muncul dalam pikiranku. Apa maksud semua ini? Ini godaan atau cobaan? Ya Allah, kuatkan aku, tolong jaga hatiku agar tak berpindah ke lain. Bulan depan aku menikah. Ya, aku akan menikah dengan pria yang memilihku untuk menjadi pendamping hidupnya, calon ibu bagi anak-anak kami kelak.
            Saat akan memperbaiki bros jilbab, aku pun melihat cincin emas kuning bermata yang kupakai di jari manis tangan kiriku. Tidak, aku harus bisa menjaga ini. Aku pasti bisa. Kukuatkan niatku seraya berharap bahwa secepatnya aku bisa melupakan dirinya, menghapus bayangannya dari pikiranku, serta sejenak “tuli” agar suara dan kata-katanya tak terngiang di telingaku. Aku pun meyakinkan diri sekuat mungkin bahwa Amir-lah yang akan menjadi imamku nanti.

Pejaten, 3 Februari'14
14.15WIB

Tuesday, October 8, 2013

Orange (part 1)

Baru saja hendak kupejamkan mata--setelah seharian ini melakukan pekerjaan rumah; menyapu, mengepel, mencuci baju, mencuci piring, memasak, merapikan kamarku dari segala buku yang berserakan, serta mengumpulkan segala kenangan yang mungkin sebaiknya kuenyahkan saja--Bunda memanggilku dari depan kamar sambil memegang sebuah jeruk yang tampaknya hendak dimakannya.

"Dinda...." panggilnya.
"Ya, Bunda. Ada apa?" sahutku seraya menghampirinya dengan langkah gontai. Jujur saja, aku sangat lelah hari ini karena semua pekerjaan rumah tangga kutangani. Memang, Bunda tak menyuruhnya, ini inisiatifku sendiri. Mengapa demikian? Karena mulai hari ini hingga tiga hari ke depan aku cuti. Beberapa hari sebelumnya aku berjanji akan mengambil cuti untuk menghabiskan waktu untuk keluarga; berkumpul bersama ayah, bunda, kak Alya, dan adikku, Raka sekaligus merupakan "jatahku" atau tepatnya membayar "utang" kepada Bunda untuk meng-handle pekerjaan rumah. Maklum, sejak dua hari lalu sampai besok kak Alya baru pulang dari tugas liputannya di Minahasa.

Ya, hampir setiap hari aku terlalu sibuk bekerja. Bahkan, terasa sekali olehku berkomunikasi dengan keluarga semakin berkurang, sangat-sangat kurang. Dari pagi hingga selepas magrib aku bekerja. Sesampainya di rumah, aku melanjutkan "PR" dari kantor demi mengejar deadline yang ketat. Namun, itu semua bukan tanpa alasan. Aku menyibukkan hari-hariku dengan bekerja karena satu alasan. Ya, satu alasan pasti.

"Bunda menemukan jeruk di lemari es. Ini punya kamu?" tanyanya sambil menyodorkan jeruk ke depan mukaku.

"Iya, Bunda. Hehehhe... Dinda lupa kalau di tas Dinda ada jeruk. Sudah empat hari mendekam di dalam tas. Lau, Dinda letakkan saja di lemari es," jawabku.

Bunda tersenyum mendengarnya seraya mengelus kepalaku. "Dinda, Dinda, kamu tuh suka kebiasaan, ya bawa makanan tapi lupa dimakan."

"Hehe... maaf ya Bun," ujarku. Bunda pun mengangguk seraya berkata, "Ya sudah kalau begitu. Bagaimana kalau jeruk ini kita makan berdua?"

"Makan berdua, Bun? Gak deh, Bunda aja yang makan," jawabku.
"Tidak. Bunda ingin jeruk ini juga dimakan sama kamu," kata Bunda. Memang, bisa dikatakan Bunda cukup keras kepala, namun sebenarnya dia sangat lembut dan perhatian kepada suami dan ketiga anaknya.

Mendengar perkataan Bunda, aku hanya mengangguk, menurutinya. Bunda lalu mengajakku ke ruang keluarga. Letaknya sekitar 45 derajat dari kamarku. Jika dihitung berdasarkan langkah, sekitar enam langkah menuju ruang keluarga. Bunda mengajakku untuk duduk bersamanya. Akhirnya, aku duduk di depannya. Bunda pun langsung membagi jeruk itu menjadi dua bagian. Satu bagian diserahkannya kepadaku.

"Dinda, coba kamu lihat jeruk ini. Selama empat hari ada di tasmu, jeruk ini suda peyot," ujar Bunda sambil memakan jeruk itu. "Lumayan, masih manis," katanya.

"Ternyata, masih bisa dimakan ya, Bun. Dikira sudah pahit, kan peyot," ujarku terkekeh.

"Din, semalam Doddy ke sini," kata Bunda. Mendengar itu membuatku tersendak.

"Doddy ke sini, Bun? Ada apa? Kok, Dinda tidak tahu," ujarku penasaran.

"Kamu kan  sudah tidur. Lagi pula dia datang memang sudah cukup malam, pukul setengah sebelas. Dia juga menahan Bunda untuk membangunkan kamu."

"O..."

"Dinda, sampai kapan kamu terus memberikan harapan kepadanya? Sampai kapan dia harus menunggu? Jangan sampai kamu menggantungkan perasaannya."

"Siapa yang memberikan harapan kepadanya, Bun? Dinda juga tak pernah memintanya untuk menunggu. Bunda juga tahu itu."

"Tapi Dinda, Bunda yakin dia pria baik untuk kamu."

"Mengapa Bunda begitu yakin? Dinda tidak pernah sekalipun berniat untuk menggantungkan perasaan Doddy, Bun. Cuma Dinda tidak bisa dengan dia."

"Bukan tidak bisa, tapi belum bisa. Apa yang kamu cari, Dinda? Sampai kapan kamu seperti ini? Bunda khawatir kalau nanti kamu..."

"Bunda, Dinda baik-baik saja. Bunda tenang saja. Apakah Bunda khawatir kalau Dinda akan menjadi perawan tua?"

"Ya, bisa jadi. Dinda, Bunda sangat mengenal anak-anak Bunda."

"Kalau memang Bunda tahu, Bunda pasti tahu jawabannya mengapa Dinda tidak bisa menerima Doddy," kataku sedikit merungut.

"Semua anak Bunda adalah seorang yang setia. Kakakmu, pasca lima tahun ditinggal selamanya oleh kakak iparmu hingga sekarang tampak belum bisa menggantikan posisi suaminya di hatinya. Begitu pun dengan adikmu. Bersusah payah menjaga kesetiaan dengan kekasihnya, tapi malah kandas di tengah jalan karena diselingkuhi."

"Tapi, Dinda tidak seperti mereka, Bunda."

"Iya Bunda tahu. Sekarang dengarkan Bunda. Perhatikan jeruk ini. Jeruk ini sudah peyot, kan?"

"Iya, Bunda. Lalu?"

"Bunda tidak ingin kesetiaan kamu hingga menjadi bentuk jeruk ini, sampai peyot."

"Maksudnya apa Bunda? Dinda tidak memahaminya," kataku bingung.

"Dinda, Bunda ingin kamu mendengar kata hati kamu. Bunda tidak ingin kamu memendam cinta hingga kamu menua nanti, peyot seperti jeruk ini."

Deg! Cukup terkejut mendengar pernyataan Bunda tadi. Apakah Bunda tahu apa yang kurasakan selama ini? Apakah Bunda tahu dengan siapa aku memendam perasaan ini? Rasa cinta yang semakin kuat tumbuh, semakin lama semakin membara. Seolah tak kuasa kuhentikan.

Bunda pun menggenggam tanganku seraya berkata, "Bunda tahu apa yang Dinda rasakan dan pikirkan sekarang. Bunda tahu." Aku hanya menatap Bunda. Dalam hati kubertanya, Apakah Bunda benar-benar tahu apa yang kurasakan sekarang? Nelangsa, terpuruk, terperangkap dalam cinta yang ujungnya tak pasti.

"Kamu sudah dewasa, Dinda. Bulan depan usiamu genap 27 tahun. Bunda hanya bisa berharap kamu dapat memutuskan apa yang terbaik untuk kamu." Setelah mengatakan itu, Bunda meninggalkanku yang masih duduk bergeming. Aku pun membereskan sisa jeruk dan membuangnya. Kemudian, segera masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Sambil menatap langit-langit kamar, kucoba mengingat segala perkataan Bunda tadi. Bunda tidak menginginkan aku memendam cinta, tapi di satu sisi Bunda juga tidak ingin aku seolah menggantungkan perasaan Doddy. Doddy membutuhkan jawaban pasti dariku. Sungguh, aku tak bermaksud demikian. Aku yakin kata hatiku. Aku tidak bisa bersama dengan Doddy. Sama sekali tidak bisa menerimanya. Hatiku sudah tertutup untuknya. Hanya satu orang yang mampu menempatinya. Dan, itu adalah DIA. Ya, hanya DIA.





Wednesday, July 31, 2013

Saujana Mimpi (Kita)


Saujana Mimpi (Kita)
Minggu pagi, pukul 10.00, aku menantinya di taman kota. Di sudut taman ini terdapat bangku kayu yang hanya cukup diduduki dua orang. Ya, inilah tempat favoritku bersama sahabatku. Sejak kecil, kami selalu berbagi cerita di sini. Entah itu kebahagiaan atau kesedihan. Bisa dikatakan yang paling banyak bercerita adalah dia, sedangkan aku hanya mampu mendengar ceritanya, keluh kesahnya meski terkadang tak kumengerti apa yang dikatakannya.
Tak terasa 15 tahun sudah kami bersahabat. Persahabatan kami terbilang manis. Kami juga tak pernah sekali pun bertengkar. Aku tahu persahabatan yang kami jalin ini tulus bahkan begitu tulus. Dia menerimaku apa adanya sebagai sahabat, begitu pula aku. Meski kami berdua memiliki kekurangan, kami mampu melengkapi kekurangan itu.
 Jujur saja, jika berada di dekatnya aku merasa sangat nyaman. Apalagi melihat senyumnya merekah yang dipermanis dengan lesung pipit di pipi kanannya. Tak hanya itu, aku juga senang melihat bola matanya yang indah, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, serta rambut ikalnya yang panjang dan selalu dikuncir ekor kuda. Ingin rasanya, ketika kami bertemu, saat dia bercerita tentang kesehariannya, aku memandang wajahnya yang polos dengan lama. Namun, apa daya aku sama sekali tak bisa. Aku selalu berusaha mengalihkan pandanganku darinya. Bukan tidak peduli, melainkan untuk menyembunyikan betapa bahagianya diriku jika berada di dekatnya.
Sejenak aku melamun sambil memandangi dua orang anak di depanku kira-kira berusia enam tahun sedang berkejaran menendang bola seukuran kelapa. Kebetulan anak perempuan berlari di depan anak laki-laki. Mungkin, karena kurang keseimbangan dia terjatuh kemudian menangis. Sahabatnya pun mendekatinya, membantunya untuk berdiri, lalu mengusap air matanya. Tampak olehku, dari bibir si anak laki-laki berkata, “Jangan menangis lagi, ya,” dan sahabatnya yang terjatuh tadi mengangguk. Aku pun tersenyum melihat mereka. Sejenak teringat masa lalu.
***
Suatu hari aku pulang sekolah bersamanya. Saat di perjalanan, dia berkata kepadaku, “Hari ini aku tidak mau pulang.” Aku pun menghentikan langkahku. Lalu dia berkata lagi, “Aku tahu pasti kamu ingin tanya mengapa aku tidak mau pulang, ya kan?” Aku hanya mengangguk mendengarnya. “Kita duduk di bangku taman itu, yuk!” ajaknya. Kami pun menuju bangku itu kemudian duduk.
“Aku takut sama Ayah,” ungkapnya. “Kamu tahu kan, hampir setiap hari aku cerita tentang Ayah.” Aku hanya bisa berkata dalam hati, ya hari-harimu tak pernah lepas menceritakan ayahmu. Lalu sekarang ada apa lagi sahabatku?
“Nilai ujianku, kamu pasti tahu kan hasilnya?” tanyanya kepadaku. Ya, aku tahu hasilnya. Memang sangat jauh dari nilai baik. Bahkan, terkadang guru pun menyerah akan nilai-nilaimu.
“Kalau Ayah tahu aku dapat nilai ini, pasti dia akan memakiku. Dia pasti akan mengatakan bahwa aku ini anak bodoh. Sangat bodoh,” katanya. Aku hanya bisa mendengarnya saksama, mengandalkan alat bantu dengar yang kupasangkan di telinga kiri. Aku hanya mampu berinteraksi dengannya dari dalam hati. Sebab, jika aku bicara, belum tentu dia akan memahami apa yang kuucapkan.
“Aku tahu, aku berbeda dengan abangku. Dia selalu menjadi juara kelas, prestasinya gemilang sehingga Ayah sangat membanggakannya. Sedangkan aku …” kisahnya sambil terisak.
“Aku selalu dicap sebagai anak bodoh,” imbuhnya. Tidak, kamu tidak bodoh. Aku tahu itu.
Aku hanya bisa memegang tangannya lalu berkata kepadanya meski tidak terlalu jelas, “Jangaang mangis (jangan menangis)”. Mendengar itu, kulihat dia tersenyum seraya berkata, “Terima kasih. Kamu sahabatku yang baik.”
***
Saat melamun, mengingat kisah 13 tahun lalu, aku tidak menyadari bahwa dia sudah di sampingku.
“Hei, kamu melamun, ya?” sapanya membuatku tersentak. Dengan segera aku menggeleng.
“Kamu tahu gak hari ini aku mau cerita tentang apa,” katanya. Namun, karena aku tak memakai alat dengar, aku tidak mendengar secara jelas apa yang dia katakan. Kedua alisku naik. Mungkin, raut wajahku dipahami olehnya. “Kamu gak dengar?” katanya menggunakan bahasa isyarat. Ya, memang dia bisa menggunakan bahasa isyarat karena sesekali aku mengajarkannya. Sebenarnya, dia yang minta diajarkan.
Dia melihat telingaku, lalu menggangguk-anggukkan kepala sambil bibirnya membentuk huruf O. Dia tahu aku tidak menggunakan alat bantu dengar. “Mengapa tidak dipakai?” katanya dengan bahasa isyarat. Aku hanya menggelengkan kepala. Namun, sepertinya dia mengetahui apa yang akan kuungkapkan. “Kamu merasa tidak nyaman, ya?” tanyanya lagi. Aku hanya bisa terdiam. Sejenak keheningan terjadi di antara kami.
Aku mulai membuka pembicaraan. “Ada apa?” tanyaku dengan suara mengambang.
Dia mengambil notes dari ranselnya. Notes berukuran 15x20 cm dengan gambar pohon kelapa yang berada di pinggir notes itu adalah hadiah dariku saat dia berulang tahun yang ke-23. Lalu, dia menulis hal yang akan diceritakannya kepadaku hari ini.
Hari ini aku ingin dercerita mimpi. Ya, mimpi yong sedenarnya ban menurutku banya kamu yong disa kujak derbagi mimpiku. (Hari ini aku ingin bercerita tentang mimpi. Ya, mimpi yang sebenarnya dan menurutku hanya kamu yang bisa kuajak berbagi akan mimpiku).
Aku membacanya kemudian menulis balasan di notes-nya. Mimpi? Memangnya ada berapa mimpi yang kau miliki?
Setelah notes itu diberikan kepadanya, dia menulis lagi. Mimpiku danyak, api hanya tiga mimpi yong ingin aku ceritaken padamu. (Mimpiku banyak, tapi hanya tiga mimpi yang ingin aku ceritakan kepadamu).
Sahabatku yang satu ini memang berbeda. Tanpa bimbingan khusus dari guru di sekolah, apalagi bimbingan ayah dan ibunya untuk mengajarkannya membaca dan menulis, membuatnya lambat dalam memahami huruf, menyusun dan membaca kata. Tak banyak yang tahu bahwa sahabatku ini adalah salah satu penderita disleksia. Hanya dua orang, yakni aku dan abangnya yang mungkin dapat dikatakan memahami apa yang dideritanya. Jika ada waktu, abangnya mengajarkannya membaca. Begitu pula juga aku. Meski sudah belasan tahun berlatih dan belajar, nyatanya dia masih kurang maksimal dalam menulis kata. Aku pun mafhum dengannya sebagaimana dia juga mafhum kepadaku, terutama kondisiku.
Dengan menggunakan bahasa isyarat, aku bertanya kepadanya, “Apa mimpi itu?”
Beberapa detik dia terdiam, lalu mulai memandangku, kemudian menarik napas dan tersenyum. “Pertama. Mimpiku yang pertama,” katanya sambil mengacungkan telunjuk tangan kanannya di hadapanku. Aku hanya memperhatikan pelafalan setiap kata dari bibirnya. “Aku ingin keliling dunia, Benar-benar keliling dunia.” Aku cukup terperangah mendengarnya. “Hihihi… kamu kaget, ya dengan mimpiku? Mimpiku terlalu muluk, ya?” tanyanya dengan mengekspresikan wajah polos. Aku tersenyum dan menggeleng.
“Kamu tahu aku akan keliling dunia bersama siapa?” tanyanya lagi. Aku pun hanya menggeleng. “Tentu saja sama sahabatku, yaitu kamu,” katanya malu-malu sambil menunjuk diriku. Sungguh aku tak percaya. Bukan karena mimpi itu tak mungkin terwujud, melainkan kata terakhirnya, “kamu” yang tak lain adalah aku. Mengapa harus bersamaku? Mengapa?
“Itu mimpiku yang pertama. Yang kedua, aku ingin selalu menjalani hari-hariku bersama kamu. Kita melanjutkan sekolah sama-sama, keliling dunia sama-sama,” ungkapnya. Dalam hati aku bertanya, Benarkah yang kau nyatakan itu? Seriuskah?
“Tapi, apa bisa ya?” Aku menepuk pundak kirinya seraya berkata, “Pasti bisa.” Lalu, dia bertanya lagi, “Kamu yakin?” Aku hanya mengangguk.
Kemudian, dia menulis lagi di notes dan memberikannya kepadaku untuk membacanya.
Kamu ban aku derbeba. Nilai IQ saja subah jolas mengamdarkan dahwa kamu sanggat cerdas, 130. Kalau aku, selalu <90. (Kamu dan aku berbeda. Nilai IQ saja sudah jelas menggambarkan bahwa kamu sangat cerdas, 130. Kalau aku, selalu <90).
Setelah membacanya, aku hanya bisa menarik napas. Lalu aku pun menulis beberapa kalimat di notes itu.
Menurutku, aku dan kamu tidak berbeda. Justru kita saling melengkapi, saling memahami. Jika kamu yakin aku sahabat terbaikmu, kamu juga harus yakin bahwa kita bisa memwujudkan mimpi itu. Sekarang coba lihat langit biru di atas sana.
Sesudah menulisnya, aku memberikan notes itu kepadanya. Dia membacanya. Setelah itu, dia memandangku dan mengarahkan telunjuknya ke langit. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
“Apakah mimpiku terlalu tinggi?” tanyamu.
 Sambil menggeleng dan menggenggam erat tangan kanannya aku berkata, “Mimpimu kan tujud (Mimpimu akan terwujud).” Aku melihat binar matanya yang indah menyiratkan terima kasih serta harapan dan keyakinan terhadap diriku.
“Mimpimu satu laagii aapaa?” tanyaku.
Dengan menggunakan bahasa isyarat, dia memberitahu mimpinya lagi. “Aku ingin dipeluk Ayah,” kurang lebih itulah yang dia katakan terhadap mimpi terakhirnya. Lalu, masih dengan berbahasa isyarat, dia mengungkapkan, “Aku ingin disayang Ayah.”
Butiran air mata menetes di pipinya. Sungguh, aku tak sanggup jika harus melihat dia menangis. Sahabatku itu akhirnya menundukkan kepala, kedua tangannya menangkupkan wajahnya. Aku hanya bisa mengusap rambutnya. Ingin rasanya kupeluk dia seerat mungkin untuk menenangkan dia dari tangisnya, kesedihannya. Namun, aku begitu lemah untuk melakukan itu. Aku hanya bisa mengusap rambut ikalnya serta mengusap air mata di pipinya.
“Naanti, Ayahh mu paasti memelukmu,” kataku membujuknya. Mendengar itu, dia mengusap air matanya, tersenyum, dan mengucapkan terima kasih kepadaku.
Seusai menangis, sahabatku menatap langit biru nan indah dan cerah. “Mimpi kita terlukis di sana,” katanya.
“Iya,” balasku.
“Kita pasti bisa ke sana. Ke langit itu, meraih mimpi,” ungkapnya dengan nada sedikit bersemangat.
“Iya,” kataku mengangguk.
“Hei, ada layang-layang. Layang-layang itu lepas. Kita kejar, yuk!” katanya sambil menarik tanganku dan mengejar layang-layang berbentuk bintang itu. Sebenarnya, aku tak ingin mengejar layang-layang tersebut. Namun, tersirat sahabatku ini memintaku untuk menemaninya mengejar layang-layang itu. “Ayo, kita kejar! Jika aku atau kamu berhasil mendapatkannya, mimpiku akan terwujud!” ucapnya sambil berlari dan terus berlari mengejar layang-layang itu tanpa memedulikan ke mana arah jalannya.
Saat mengetahui bahwa layang-layang itu akan terjatuh tak jauh dari tempat kami berhenti sejenak melepas lelah karena berlari, dia masih mengejarnya. Namun, napasku yang masih terengah-engah hanya bisa berlari-lari kecil mengikuti sahabatku itu. Tak berapa lama, dia berteriak kepadaku. “Layangannya, sudah kudapatkan!” katanya saat berada di seberangku. Semringah melihat wajahnya yang begitu senang mendapatkan layangan itu mampu menenteramkan hatiku.
Namun, tetiba seolah tombak menembus jantungku. Karena kesenangannya itu, dia tak menyadari bahwa ada kendaraan beroda empat melintas begitu cepat. Tubuhnya pun seolah seperti kapas, terbang ringan-bebas. Aku yang melihatnya dari seberang, hanya mampu berkata dalam hati, “Jangan pergi, Saujana!”
***
Peristiwa itu kembali menghantuiku. Aku tersentak dan mendapati tubuhku penuh keringat. Napasku terengah-engah. Segera kuambil segelas air putih yang tersedia di meja samping tempat tidurku. Setelah meminum habis air itu, aku menghela napas. Mencoba menenangkan diriku.
Setelah itu, aku mengambil bingkai foto ukuran 3R di meja itu. Aku memandangi foto yang tak lain adalah dirinya. Lima tahun berlalu, namun rasa rinduku kepadanya takkan hilang. Tak akan pernah padam.
Salah satu mimpinya, yakni ingin dipeluk Ayah sudah terwujud. Sekarang aku akan mewujudkan mimpinya yang lain. Aku akan keliling dunia bersama bayangannya di hatiku.
***