Cemburu!
Aku benar-benar cemburu!
Itulah yang kurasa terhadapmu saat ini.
Apakah kau tahu?
Adakah kau rasakan cemburuku itu?
Cemburu!
Ya, aku benar-benar cemburu!
Bagaimana tidak?
Kuberikan sebuah pena indah,
hhh... justru kau habiskan tinta pena itu
Hanya untuk menulis NAMANYA
ribuan kali
di langit malam
Cemburu!
Sungguh, aku benar-benar cemburu!
Mengapa tidak? Itu wajar, bukan?
Ketika kutahu kau rela menulis NAMANYA
di langit
tanpa sekata pun kau menulis NAMAKU
di sana
Sunday, April 23, 2017
Friday, April 21, 2017
Untitled
Kemarin, ayahku membelikan sebuah pena
Tak sampai 24 jam, tinta pena itu habis.
Ups, maaf! Aku tak kuasa untuk kontrol emosi!
Semalaman kugunakan tinta itu untuk menulis namamu
di langit.
Dan, di langit pula berulang kutulis sebuah kata
"RINDU"
Tak sampai 24 jam, tinta pena itu habis.
Ups, maaf! Aku tak kuasa untuk kontrol emosi!
Semalaman kugunakan tinta itu untuk menulis namamu
di langit.
Dan, di langit pula berulang kutulis sebuah kata
"RINDU"
Wanita
Aku memang seorang wanita
Namun,
apakah aku sudah mengerjakan tugas seorang wanita dengan baik?
Apakah aku sudah mendapatkan hak dan kewajibanku sebagai wanita?
Aku memang seorang wanita
kelak aku akan menjadi istri,
lalu menjadi seorang ibu
setelah sebelumnya aku menjadi seorang anak bagi ibuku
Ibuku pernah berkata,
"Menjadi wanita yang baik bagi keluarga itu sulit."
"Menjadi wanita yang bijaksana itu juga susah."
"Menjadi wanita yang selalu menjaga ketaatan dan keikhlasan tersebut juga tidak mudah."
Mendengar perkataannya, aku bertanya,
"Bagaimana menjadi wanita yang baik bagi keluarga, Bu?"
"Apa yang harus kita lakukan agar senantiasa menjadi bijaksana?"
"Bagaimana untuk selalu mempertahankan ketaatan dan keikhlasan itu?"
Ibu, wanita paling hebat dan kuat, hanya tersenyum
"Kelak kau akan tahu saat kau dewasa, saat kau menjadi istri, dan memiliki anak."
Hai, wanita!
Tahukah kau hal apa yang cukup krusial dimiliki oleh wanita?
Wanita itu tidak hanya sekadar pintar,
tetapi juga cerdas?
Tapi apakah itu menjadi tolok ukur utama sebagai wanita yang baik
dalam suatu keluarga?
Wanita itu memang harus "pintar" dan "cerdas"
bahkan, menjadi nilai plus jika memiliki bakat tertentu.
Apakah kau tahu alasannya, wanita?
Ya, karena kelak wanita akan menjadi madrasah bagi anak-anaknya!
Ingatlah!
Kepintaran dan kecerdasan bukanlah suatu hal yang perlu
dipamerkan
ditunjukkan
diutamakan
disombongkan
Karena apalah arti sebuah kepintaran dan kecerdasan jika kau hanya menjadikan itu sebagai senjata utama dalam memamerkan keunggulan dirimu, bukan untuk memperjuangkan sesuatu yang berguna?
Namun,
apakah aku sudah mengerjakan tugas seorang wanita dengan baik?
Apakah aku sudah mendapatkan hak dan kewajibanku sebagai wanita?
Aku memang seorang wanita
kelak aku akan menjadi istri,
lalu menjadi seorang ibu
setelah sebelumnya aku menjadi seorang anak bagi ibuku
Ibuku pernah berkata,
"Menjadi wanita yang baik bagi keluarga itu sulit."
"Menjadi wanita yang bijaksana itu juga susah."
"Menjadi wanita yang selalu menjaga ketaatan dan keikhlasan tersebut juga tidak mudah."
Mendengar perkataannya, aku bertanya,
"Bagaimana menjadi wanita yang baik bagi keluarga, Bu?"
"Apa yang harus kita lakukan agar senantiasa menjadi bijaksana?"
"Bagaimana untuk selalu mempertahankan ketaatan dan keikhlasan itu?"
Ibu, wanita paling hebat dan kuat, hanya tersenyum
"Kelak kau akan tahu saat kau dewasa, saat kau menjadi istri, dan memiliki anak."
Hai, wanita!
Tahukah kau hal apa yang cukup krusial dimiliki oleh wanita?
Wanita itu tidak hanya sekadar pintar,
tetapi juga cerdas?
Tapi apakah itu menjadi tolok ukur utama sebagai wanita yang baik
dalam suatu keluarga?
Wanita itu memang harus "pintar" dan "cerdas"
bahkan, menjadi nilai plus jika memiliki bakat tertentu.
Apakah kau tahu alasannya, wanita?
Ya, karena kelak wanita akan menjadi madrasah bagi anak-anaknya!
Ingatlah!
Kepintaran dan kecerdasan bukanlah suatu hal yang perlu
dipamerkan
ditunjukkan
diutamakan
disombongkan
Karena apalah arti sebuah kepintaran dan kecerdasan jika kau hanya menjadikan itu sebagai senjata utama dalam memamerkan keunggulan dirimu, bukan untuk memperjuangkan sesuatu yang berguna?
Thursday, December 8, 2016
Siapa Salah Siapa
Kamis, 8 Desember 2016, saya mengajak mama dan adik bungsu saya, Naya, untuk menonton bioskop di salah satu mal di Bekasi. Kami menonton dua film, satu kartun anak dan satu lagi genre cinta dan keluarga. Tidak ada yang aneh dan rumit, semua kegiatan pada hari itu berjalan lancar, mulai dari kami beli tiket, menonton, makan, hingga belanja.
Namun, saat hari mulai malam, kami terjebak hujan deras. Kami tidak bawa payung. Kami berusaha menghubungi keluarga di rumah apakah di sekitar rumah juga hujan. Ternyata, hujan deras mengguyur Bekasi. Bahkan, menurut ayah saya, Jakarta, khususnya kawasan Halim, juga hujan deras. Awalnya, saya bersama mama dan Naya biasa saja menghadapi hujan. Kami berharap secepatnya hujan reda. Akan tetapi, hujan turun deras, semakin deras, cukup deras, deras, lalu gerimis deras.
Saya menawarkan kepada mama apakah sebaiknya kami memesan salah satu kendaraan beroda empat melalui aplikasi daring. Mama pun menyetujuinya. Saya mulai memesan dan melihat estimasi harga perjalanan dari mal (kawasan Bekasi Barat) hingga rumah (kawasan Bekasi Timur). Alangkah terkejutnya saya, ternyata estimasi harga perjalanan cukup membengkak (tak seperti biasa) karena aplikasi daring tersebut sedang memberlakukan sistem kelipatan--mungkin disebabkan banyaknya peminat untuk memesan kendaraan beroda empat. Saya dan mama bersepakat untuk memesan kendaraan dari aplikasi itu apabila estimasi harga sudah normal. Sepuluh menit, 15 menit, 30 menit, sejam, bahkan lebih, estimasi harga di aplikasi tersebut belum stabil. Gerimis deras pun masih turun. Beberapa orang menunggu, duduk, atau sekadar berjalan-jalan di depan lobby sambil--mungkin--menunggu jemputan atau gerimis berhenti.
Saya dan mama berusaha bersabar dan tenang sampai akhirnya kami mendapat sebuah kabar dari pesan WA bahwa ada kabel putus di rumah. Saya dan mama langsung panik dan khawatir. Terlebih, adik saya mengatakan bahwa terendus bau hangus dari dua TV LCD di rumah kami. TV tak bisa dinyalakan. Lampu power-nya mati. Mama pun menyuruh adik saya di rumah agar kabel TV dicabut dari stopkontak. Selain itu, mama semakin khawatir ketika mengetahui bahwa adik saya sendiri di rumah. Abangnya kerja dan papa masih di perjalanan. Panik. Panik. Panik. Saya dan mama ingin segera pulang. Namun, cuaca sepertinya tidak begitu mendukung.
Tak lama kemudian, saya berdiri di lobby. Saya tidak bisa hanya berdiam diri di sini. Saya harus berusaha untuk mendapatkan kendaraan agar secepatnya pulang. Di saat seperti ini, angkot bukan kendaraan tepat untuk dinaiki sebab membutuhkan waktu lama untuk sampai rumah. Saya, mama, dan Naya ingin secepatnya sampai rumah. Akhirnya, saya memutuskan untuk segera mencari taksi. Tak peduli gerimis masih mengguyur, tak berpayung, dan hanya menutupi kepala dengan tas kecil, saya berlari ke luar untuk ke pinggir jalan mencari taksi. Alhamdulillah, tak sampai lima menit, saya mendapatkan taksi biru. Taksi itu menghentikan jalannya dan meminggirkan mobilnya (dengan cara agak salah karena menutupi mobil yang ingin lewat). Saya segera membuka pintu taksi itu sambil bertanya kepada sopir, "Pak, ke Jatimulya mau?" Si sopir menyatakan bersedia. Lalu saya berkata, "Tapi ibu saya ada di dalam, Pak, bisa masuk dulu, gak, Pak?" "Ya sudah, ibunya dibawa ke sini saja," jawab si sopir. Jujur, sebenarnya saya sudah bete sama sopir itu, sudah tahu gerimis deras, eh malah nyuruh penumpang yang datangi dia. Kalau tidak terlalu memerlukannya, saya ingin menyatakan, "Kalau gitu gak jadi, deh Pak!", tapi ini karena keadaan.
Saya, mama, dan Naya sudah berada di dalam taksi. Si sopir berkata, "Nanti tolong diarahkan, ya Bu. Kita lewat mana dan ke arah mana?". "Jatimulya, Pak. Arah tol timur. Kalau tol tidak macet, lewat tol saja, Pak," jawab saya. Mama bertanya, "Kamu yakin lewat tol?" "Iya, tol saja. Tuh, lihat Ma tol lancar," kata saya sambil menunjuk jalan tol di bawah fly over.
Sopir pun membelokkan taksinya ke arah tol. Nah, di sinilah muncul masalah perjalanan yang membuat saya dan mama kesal sekali. Si sopir malah mengambil arah ke tol Jakarta!!!! Bukan membelok ke arah tol Bekasi. Sekitar puluhan meter melewati pintu tol itu, akhirnya mobil berhenti. "Saya keterusan," katanya. "Aduh, bagaimana kalau begini? Mundur saja Pak bila bisa," kata saya. Si sopir malah terdiam di mobil sambil memajumundurkan mobil (aneh, kan?), lalu dia keluar mobil, berdiri, entah berpikir atau tidak. Intinya dia keluar masuk mobil dan kami menunggu lama. "Jadi, bagaimana, Pak?" tanya saya. Saya berusaha untuk bernada tenang meski sebenarnya bete sama sopir ini. Padahal, kalau mundur pun, dia masih bisa lho. Ini justru berada di pinggir tol, menunggu bermenit-menit, berdiam, keluar masuk mobil gak jelas. Setelah saya bertanya lagi, dia hanya menjawab, "Bagaimana kalau turun saja, naik yang lain!" Wah, dia berkata seperti itu membuat saya NAIK PITAM. "Ini hujan Pak! Ada di tol juga! Mana mungkin kita turun hujan-hujanan. Kasihan adik saya, dong! Ini jalan jauh lho, Pak. Enggak dekat!" Mama juga berkata, "Tidak mungkinlah, Pak kami jalan, tidak ada kendaraaan." "Lalu, bagaimana Bu?" Sumpah, ya sopir tersebut mengulur-ulur waktu banget! "Ya sudah, putar Halim saja, Pak! Kan, katanya tidak bisa mundur!!!" Saya sudah kesal. "Tapi, jadinya jauh, Kak!"
Si sopir keluar mobil lagi. "Habis mau bagaimana lagi, Ma? Dia kan gak mau mundur! Mau tidak mau, ya putar Halim!" "Nanti jadi mahal Kak!" Sopir masuk mobil lagi. "Jadi, bagaimana?" Saya menjawab, "Putar Halim, Pak!" Si sopir berkata, "Tapi, jadinya jauh!" (masih basa-basi aja!) "Daripada tidak jalan dan makin lama sampai rumah. Jadi, lebih baik lanjutkan perjalanan sekarang, Pak!" Si sopir langsung mengendarai taksi.
Jalanan tol menuju Jakarta cukup padat. Waduh, bakal bengkak biaya perjalanan, nih! Saya pun berpikir bila sampai Halim dan jalanan padat, pasti membutuhkan waktu lama dan biaya perjalanan semakin mahal. Hal ini bukan terkait pelit atau tidak, lebih ke realistis saja, masak estimasi biaya perjalanan taksi dari Bekasi Barat ke Bekasi Timur yang biasanya tidak sampai Rp35.000--40.000 mencapai ratusan ribu rupiah. Di tengah perjalanan saya berkata, "Pak, kita tidak usah ke Halim, lewat tol Bintara saja." "O, baik Mbak." Sopir pun mulai masuk ke Tol Cikunir, tapi ini yang membuat kekesalan saya semakin menjadi! Sopir itu mengambil arah ke Jati Asih, bukan ke Cakung! Errrrgh!!!!!! Bete, mau sampai pukul berapa ke rumah?
Saat sampai di Jati Asih, saya berkata, "Belok kiri Pak, arah Jati Asih." Hal itu karena kalau tetap berjalan lurus, ke arah Kampung Rambutan. "Lalu ke mana lagi?" "Begini Pak, belok kiri lagi, ikuti jalan, pasti nanti ada papan keterangan tol Bekasi." Sebenarnya, saya agak cemas juga karena saya tidak tahu wilayah Jati Asih. Meski demikian, saya tetap optimistis pasti ada papan petunjuk dan alhamdulillah ADA! Papan petunjuk itu memberitahukan arah Tol Jakarta-Cikampek. Saya meminta si sopir untuk mengikuti arah di papan itu. Perjalanan seperti ini saja sudah hampir satu jam. Saya melihat harga pada argo perjalanan sudah melebihi estimasi biaya perjalanan Bekasi Barat-Timur seperti biasanya. Saya hanya bisa berharap, sopir itu mengendarai dengan baik, masuk tol, langsung cusss ke Bekasi Timur. Lalu di pertigaan ada papan keterangan lagi. Saya menganjurkan sopir untuk mengikuti arah Tol Jakarta--Cikampek/ Cakung. Namun, entah sopir itu fokus atau tidak, justru tidak belok-belok. Malah lurus dan lurus. MENYEBALKAN.
Kami pun tidak menemukan jalan tol, malah hanya jalan biasa yang dipadati kendaraan roda empat. Sopir salah lagi. Saya dan mama meminta sopir untuk mengikuti angkot K02 (jurusan Pondok Gede-Bekasi). Mungkin kami berjalan sekitar 1 km lebih dan perjalanan menuju Jati Mekar. Saya buta daerah sini. Sopir menghentikan taksi di pinggir jalan, beberapa menit dia menyalakan ponsel untuk GPS (buang-buang waktu), "Ke Jati apa Bu? Dia menyebutkan beberapa wilayah Jati." Saya dan mama semakin kesal kepada sopir itu. Saya berkata, "Yang penting Pak kita menuju Terminal Bekasi saja." Padahal, ke tempat itu harus muter-
muter.
Entah inisiatif dari mana, sopir keluar dari taksi dan bertanya kepada orang. Menurut orang itu, kami salah arah, harus putar balik untuk ke Bekasi. Akhirnya, si sopir memutar balik taksi--setelah cukup lama berhenti, membuka GPS (yang tidak terlalu berguna), dan bertanya ke orang. Saat memutar balik, ternyata suasana jalan macet, padat merayap. Di samping itu, papa berulang kali menelepon. Khawatir akut sepertinya.
Setelah berapa ratus meter menghadapi jalanan macet, akhirnya ada papan petunjuk ke arah Pekayon. Mama berkata, "Kita ke arah Pekayon saja Pak. Nanti pas di Pekayon ada lampu merah, Bapak ke kanan untuk ke Jatimulya karena ke kiri ke arah terminal." Sekitar satu jam lebih, alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga. Papa sudah menunggu di depan rumah dan langsung membuka pintu taksi seraya bertanya kepada si sopir, "Pak, kok jalan bisa salah, sih, memangnya sama sekali tidak tahu jalan, ya?" Sopir itu hanya tertegun. Saat mau turun dari taksi, saya dan mama melihat argo. BENAR kan, harga perjalanan membengkak hampir empat kali lipat tepatnya Rp124.500. Karena sedari awal tahan kesal, saya berceletuk, "Wah, keren banget, ya Ma dari Bekasi Barat ke Bekasi Timur ongkosnya ratusan, sudah seperti dari Pejaten ke Bekasi."
Ya, mungkin celetukan saya itu "agak jahat", tapi mau bagaimana lagi? Bekasi Barat-Timur dengan perjalanan sekitar 2 jam dan biaya membengkak gara-gara sopir salah jalan dan terlalu lama berdiam diri, memberi solusi kurang berlogika, serta basa-basi. Baru kali ini lho saya naik taksi biru diperlakukan seperti ini. Di tulisan ini bukan bertujuan untuk menjatuhkan pihak mana pun, saya hanya sekadar bercerita tentang pengalaman tidak mengenakkan sekaligus mencurahkan kekecewaan dan kekesalan saja.
Sejauh yang saya tahu, setidaknya sopir taksi mengetahui arah jalan meski tidak spesifik. Terlebih di dalam mobil dilengkapi alat GPS--jadi tidak perlu menggunakan GPS ponsel, cukup nyalakan GPS mobil. Saya tidak tahu apakah sopir itu sengaja mengajak kami berputar-putar atau tidak. Saya tidak ingin bersuudzon. Syukur kalau benar memang dia linglung tidak tahu jalan. Namun, agak kurang masuk akal juga kalau sama sekali tidak tahu jalan dan menghentikan mobil di pinggir jalan dalam waktu cukup lama, keluar masuk mobil tidak jelas seolah mengulur-ulur waktu.
Ya, hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui kebenarannya. Peristiwa tersebut bisa saja sebagai ujian kesabaran dan keikhlasan bagi saya dan mama. Intinya, ini dijadikan pelajaran saja, sudah terjadi dan terlewati, mau bagaimana lagi? Walau begitu, alhamdulillah kami sampai dengan selamat di rumah meski tak dimungkiri rasa kesal menyelimuti saya dan mama. Terkait harga perjalanan yang berkali-kali lipat dari estimasi biasanya, pasti nanti akan diganti oleh-Nya. Saya yakin rezeki yang kita keluarkan dan kita dapatkan itu semua karena kehendak-Nya.
Tuesday, August 9, 2016
Afasia Broca dan Wernickle
Berbahasa adalah komunikasi dengan menggunakan suatu bahasa.
Hal inilah yang dilakukan manusia dalam sehari-hari. Namun demikian, tahukah
Anda bahwa berbahasa yang Anda lakukan selama ini merupakan pengaruh dari
struktur dan kinerja otak? Bila terjadi gangguan atau kerusakan pada struktur
otak, kinerja otak pun akan memengaruhinya, terutama dalam hal berbahasa.
Otak memiliki
dua hemisfer, yakni hemisfer kiri dan kanan. Hemisfer kiri dominan berfungsi
untuk berbahasa sehingga ia berarti penting bagi penutur bahasa, sedangkan
hemisfer kanan dominan berfungsi untuk menentukan emosi, isyarat baik emosional
maupun verbal.
Ilmu
pengetahuan pada dasarnya selalu berkembang. Hal ini tampak pada cabang ilmu
linguistik. Jika sebelumnya linguistik dikenal sebagai ilmu yang hanya mengkaji
bahasa, kini cabang ilmu tersebut dapat berdampingan atau beririsan dengan
ilmu-ilmu lainnya, baik dalam hal sains maupun sosial. Misalnya saja, cabang
ilmu dalam lingkup linguistik, yakni psikolinguistik dan neurolinguistik.
Umumnya, psikolinguistik membahas pemerolehan bahasa oleh penutur, sedangkan
neurolinguistik cenderung membahas beberapa gangguan berbahasa dan biasanya
gangguan tersebut dipengaruhi oleh kerusakan/cedera otak.
Salah satu bentuk gangguan berbahasa akibat
kerusakan/cedera otak ialah afasia. Menurut Field (2004:16), afasia adalah
gangguan
terhadap
ketidakmampuan memproduksi atau memahami dalam tuturan berbahasa. Biasanya,
afasia ini disebabkan oleh cedera otak karena kecelakaan, stroke, dan juga
beberapa efek dari demensia. Selain itu, menurut Chaer (2009:155) afasia adalah
kerusakan pada daerah Broca dan Wernickle—salah satu daerah otak pada bagian
hemisfer kiri—dan sekitarnya sehingga menyebabkan gangguan berbahasa. Kedua
daerah itu pun dikenal sebagai pusat bahasa dalam otak.
Sejarah Singkat Broca
dan Wernickle
Ketika tahun 1861, seorang ahli bedah Prancis, Paul Broca,
menemukan seorang pasien yang tidak dapat berbicara. Setelah pasien itu
meninggal, otaknya pun dibelah, dan ditemukan kerusakan otak di daerah frontal,
tepatnya area pada lobus frontalis kiri. Selanjutnya, daerah frontal itu
disebut sebagai daerah Broca. Adapun kerusakan pada daerah tersebut menyebabkan
seseorang kesulitan berkata-kata (menghasilkan ujaran), tetapi tetap memahami
pembicaraan.
Melalui
penelitiannya, Broca mengungkapkan bahwa kerusakan pada daerah yang sama di
hemisfer kanan tidak menimbulkan pengaruh yang sama. Dengan kata lain, pasien
yang mendapatkan daerah kerusakan yang sama pada hemisfer kanan akan tetap
menghasil ujaran secara normal. Oleh sebab itulah, hasil penelitian tersebut
menjadi dasar teori bahwa kemampuan bahasa terletak di hemisfer kiri otak dan
daerah Broca berperan penting dalam proses atau perwujudan bahasa.
Selain itu,
tahun 1873 seorang neurologi Jerman bernama Karl Wernickle menemukan kasus
pasien yang mempunyai kelainan wicara, yakni tidak mengerti maksud pembicaraan
orang lain, tetapi masih dapat berbicara sekadarnya. Menurut Wernickle,
penyebab kelainan tersebut ialah terdapat kerusakan otak pada bagian belakang
(temporalis) yang kemudian disebut sebagai daerah Wernickle. Oleh karena
kerusakan pada daerah tersebut, pasien sukar mengerti komprehensi pembicaraan
orang meski mudah mengucapkan kata tanpa adanya gangguan pendengaran.
Berdasarkan hasil
penelitian tentang kerusakan otak oleh Broca dan Wernickle, disimpulkan bahwa
hemisfer kiri otak sangat erat hubungannya dengan fungsi bahasa. Oleh sebab
itulah, tak heran bila seseorang yang memiliki kerusakan otak pada
daerah-daerah hemisfer kiri mengalami gangguan berbahasa.
Jenis-Jenis Afasia
Secara garis besar, afasia ada dua jenis, yakni afasia Broca
dan Wernickle. Afasia Broca dikenal sebagai afasia motorik atau non-fluent. Adapun afasia Wernickle dikenal
sebagai afasia sensorik atau fluent.
Umumnya, pasien yang menderita afasia Broca lebih banyak ditemukan dibandingkan
dengan pasien afasia Wernickle. Sebagian besar penderita afasia Broca merupakan
pasien yang terkena stroke.
Afasia Broca
(Motorik)
Afasia Broca
terdiri atas tiga jenis sebagai berikut.
1.
Afasia
motorik kortikal
Afasia jenis ini
dialami oleh pasien yang tidak mampu mengutarakan isi pikiran dengan perkataan,
namun masih dapat mengerti bahasa lisan dan tulisan. Dengan kata lain, pasien
tersebut tidak dapat berekspresi verbal, tetapi ia masih mampu berekspresi
visual (bahasa tulis dan isyarat).
2.
Afasia
motorik subkortikal
Penderita afasia
motorik subkortikal tidak mampu mengutarakan isi pikirannya dengan menggunakan
perkataan, tetapi masih dapat mengeluarkan perkataan dengan cara membeo. Di
sisi lain, pengertian bahasa verbal dan visual tidak terganggu, bahkan ekspresi
visual pun berjalan normal.
3.
Afasia
motorik transkortikal
Afasia yang satu ini
terjadi karena terganggunya hubungan antara daerah Broca dan Wernickle. Oleh
sebabnya, hubungan langsung antara pengertian dan ekspresi bahasa terganggu.
Selain itu, penderita afasia motorik transkortikal ini dapat mengutarakan
perkataan singkat dan tepat, tetapi masih mungkin menggunakan perkataan
substitusi. Misalnya, untuk mengatakan pensil,
penderita tersebut bertanya “Ini, ni
yang untuk menulis namanya apa, ya? Yang saya pegang ini apa, ya?”
Umumnya,
penderita afasia motorik jenis apa pun bersikap “tak berdaya”. Hal itu karena
keinginan untuk mengutarakan isi pikirannya besar sekali, tetapi kemampuan
untuk melakukannya tidak sama sekali. Maka dari itu, tidak heran bila para
penderita afasia motorik sering kali jengkel karena suatu hal yang
diekspresikannya tidak dipahami sama sekali oleh orang di sekelilingnya.
Misalnya, penderita hanya dapat berteriak atau berkata tidak jelas untuk
mengungkapkan kejengkelannya tersebut.
Berdasarkan
penjelasan ketiga jenis afasia motorik di atas, diketahui bahwa afasia motorik
kortikal termasuk jenis gangguan berbahasa paling parah bila dibandingkan
dengan jenis afasia motorik lainnya. Hal itu disebabkan penderita afasia
motorik kortikal ini sudah tidak mampu berekspresi verbal.
Afasia Wernickle (Sensorik)
Kerusakan terhadap daerah Wernickle
menyebabkan terganggunya pengertian dari apa yang didengar (pengertian
auditorik) dan juga pengertian dari apa yang dilihat (pengertian visual).
Penderita afasia Wernickle atau sensorik kehilangan pengertian bahasa lisan dan
tulis, tetapi masih memiliki curah verbal meskipun hal itu tidak dipahami oleh
dirinya sendiri dan juga orang lain. Curah verbal ini merupakan bahasa baru
(neologisme) yang tidak dipahami oleh siapa pun. Meski demikian, neologisme
dapat diucapkan penderita afasia sensorik dengan nada, irama, dan melodi.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan terkait afasia di atas disimpulkan bahwa afasia merupakan salah satu bentuk gangguan kebahasaan yang terjadi pada dua daerah di hemisfer kiri otak, yakni Broca dan Wernickle. Dengan kata lain, kerusakan terhadap hemisfer kiri tersebut menyebabkan seseorang menderita gangguan berbahasa.
Bila Anda memiliki keluarga atau kerabat
yang dicurigai menderita afasia karena sebelumnya mengalami stroke sehingga
menyebabkan kerusakan otak, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut agar Anda
mengetahui secara jelas jenis afasia yang diderita oleh keluarga atau kerabat
Anda. Terlebih, saat ini di
kawasan Jakarta Timur sudah berdiri Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON),
tentu saja pemeriksaan secara akurat dan intensif terhadap penderita/pasien
afasia dapat dilakukan di sana.
Daftar
Pustaka
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Field, John. 2004. Psycholinguistics:
The Key Concept. New York: Routledge.
Mardiati, Ratna. 2010. Buku Kuliah: Susunan Saraf Otak Manusia. Jakarta: Sagung Seto.
Monday, June 13, 2016
Kamu!
Rindu dendam dalam diam
Semakin lama semakin dalam
Namun, aku hanya bisa memendam
Kala bayangmu terlintas dalam temaram
malam
Sayangnya, tak bisa kugenggam
Cukup membuat hatiku remuk redam
Semakin lama semakin dalam
Namun, aku hanya bisa memendam
Kala bayangmu terlintas dalam temaram
malam
Sayangnya, tak bisa kugenggam
Cukup membuat hatiku remuk redam
Friday, March 11, 2016
Masih Berlakukah Aturan Itu?
Setiap hari kerja, Senin--Jumat, tepatnya saat pagi dan sore hari, Jakarta selalu dipadati oleh kendaraan, baik kendaraan umum maupun pribadi, beroda dua dan empat. Akibatnya, jalanan macet, tersendat, padat merayap hingga beberapa kilometer. Fakta ini tentu saja lumrah karena Jakarta merupakan Ibu Kota, dapat dikatakan pusatnya aktivitas para pekerja dalam mencari nafkah.
Namun, salah satu hal yang membuat saya prihatin, yakni "bebasnya" kendaraan selain Transjakarta (TJ) dan APTB yang melewati jalur busway. Padahal, bukankah sudah ada aturan--yang saya lupa kapan disahkannya--kendaraan selain TJ dilarang melewati jalur busway. Akan tetapi, pada kenyataannya, di salah satu kawasan Jakarta, kendaraan, seperti bus, kendaraan pribadi, truk, bahkan motor, bebas saja melewati jalur tersebut.
Memang, batas antara jalur busway dan kendaraan umum tidak tinggi, tidak seperti kawasan Jakarta Selatan (tepatnya kawasan dari Kuningan--Ragunan), dan inilah yang menyebabkan beberapa jenis kendaraan tersebut tak peduli melewati jalur busway. Sayangnya, sebagian besar yang melewati halus busway itu mobil-mobil pribadi yang bagus, bahkan tampak mahal (ckckck). Tentu saja, cara pengemudi kendaraan tersebut melewati jalur busway merupakan bentuk kesengajaan dengan alasan agar lebih cepat dalam menempuh perjalanan. Padahal, ujung-ujungnya kena macet juga. Selain itu, alasan lain, mungkin, melewati jalur busway pasti tidak akan diketahui polantas atau aparat lalu lintas lainnya sehingga sudah pasti tak didenda. Dari sini, menurut saya, adanya aturan tentang pelarangan kendaraan baik beroda dua maupun empat melewati jalur busway selain TJ hanyalah sebuah simbolik, peraturan yang tidak tegas sehingga baik sadar maupun tidak sadar "mendidik" pengemudi kendaraan selain TJ menjadi tidak tertib, tidak taat aturan. Miris, ya? #sokkritis
Nah, selain kendaraan pribadi yang melewati jalur busway, pernah juga saya lihat truk sampah melewati jalur tersebut. Ckckck... Untungnya, bak sampah pada truk tersebut ditutup rapat oleh terpal, jadi bau sampah tak terlalu menyengat dan tidak terlihat sampah yang berjatuhan ke jalan. Taksi juga cukup sering melewati jalur itu. Mobil-mobil mewah, misalnya Alpard juga melewatinya. Sayangnya, saya belum pernah melihat tronton lewat di jalur tersebut. Seandainya lewat, pasti wow banget!
Ya, dari pemaparan di atas, saya prihatin saja dengan pelanggaran terhadap salah satu aturan lalu lintas tersebut. Masih berlakukah aturan pelarangan melewati jalur busway itu? Pertanyaan tersebut hinggap dalam pikiran saya. Kalau peraturan seperti itu saja dilanggar, bagaimana dengan aturan-aturan--yang bisa jadi dianggap sebagai aturan ringan karena sanksinya tak besar/ ketat--yang lain? Akankah lebih mudah dilanggar daripada dijalankan? Kalau memang demikian, tujuan dibuatnya suatu peraturan seolah sia-sia saja. Percuma. Toh, bila kenyataannya sudah capek-capek dibuat, menggunakan waktu yang lama, dan mengeluarkan biaya banyak, ujung-ujungnya seperti dianggap angin lalu. #ups!
Thursday, March 10, 2016
PATOLOGI BAHASA, mmh...
Apakah teman-teman pernah mendengar istilah patologi bahasa? Apakah istilah ini masih terlalu asing di telinga kalian atau sebenarnya pernah mendengar tanpa peduli makna istilah tersebut?
Memang sih, saya juga baru mengetahui istilah tersebut hampir dua tahun lalu. Istilah itu, menurut saya, jarang juga digunakan, terlebih masih sangat terbatas buku-buku yang menggunakan istilah "patologi bahasa". Hal itu karena kebanyakan buku, khususnya dalam lingkup linguistik terapan, lebih banyak membahas gangguan berbahasa. Ya, dapat juga membahas antara bahasa dan kognisi. Selain itu, info-info terkait patologi bahasa, berdasarkan yang saya cari di internet, juga tak terlalu banyak.
Dalam tulisan ini saya belum bisa membahas apa itu patologi bahasa. Apa saja hal-hal yang terkait di dalamnya, pendeskripsiannya seperti apa, mengingat beberapa sumber terbatas dan belum mumpuni bagi saya. Namun demikian, insya Allah, saya akan sedikit memberi gambaran tentang patologi bahasa bila waktunya tepat dan saya pun siap (ciey...).
Secara garis besar, patologi bahasa dapat dikatakan berkaitan dengan pragmatik, psikolinguistik, bahkan neurolinguistik. Dengan kata lain, pembahasan tentang patologi bahasa menjadi hal menarik untuk dibahas, bahkan didiskusikan. Nah, kalau begitu dapat dipastikan bahwa ilmu tentang bahasa itu luas, tidak terbatas membahas kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, serta EYD. Sungguh unik dan menarik bukan?
Thursday, October 15, 2015
Kali Ini Aku Terjebak!
Suatu malam, adik bungsu saya berada di kamar. Entahlah, belakangan ini dia cukup manja. Makanya, pada malam itu dia ingin saya menyuapinya sambil menonton televisi di kamar saya (please, terkait hal ini jangan ditiru, ya!)
Kami berdua menonton televisi bersama. Saya pun menyuapi dia, mungkin semenit sekali. Saat menonton, tiba-tiba si bungsu bertanya, "Kak, cerdik itu apa?" Nah, dia mendengar kata "cerdik" dari dialog yang diungkapkan seorang tokoh dalam film di televisi.
Saya pun menjawab, "Cerdik itu pintar, De, banyak akalnya."
"Oh, begitu ya, Kak. Cerdik itu seperti siapa?" tanya si bungsu. Maksud hati bercanda dan narsisisme saya berkata, "Ya, pasti seperti Kakak. Hehehe..."
Lalu, si bungsu dengan nyengir kuda berujar, "Ih, gak mungkin Kakak cerdik!"
"Lho, memang kenapa, De?"
"Kakak tuh salah! Yang cerdik itu pasti kancil, bukan Kakak!" jawab si bungsu. Deg! Rasanya malu banget dijawab begitu sama si bungsu. Sebenarnya yang cerdik itu kamu, De!
Saya pun ingin tahu alasannya menyatakan bahwa kancil itu cerdik. Adik kesayangan saya itu mengungkapkan, "Kata bu guru, kancil itu cerdik, Kak! Jadi, yang cerdik itu kancil, bukan Kakak!"
Ya sudah, hanya itu saja kok ceritanya. Memang tidak terlalu penting, cuma ya ingin cerita saja.
Monday, October 5, 2015
Jejak
Aku mencoba mengikuti jejakmu
Namun sayang,
jejakmu sudah terhapus
tersapu oleh tiupan angin
Aku mencoba memperhatikan sisa-sisa jejakmu
Namun sayang,
tak tampak jelas
Aku sulit memahaminya
Aku pun berusaha merekam jejakmu
Namun sayang,
aku tak mampu,
aku lemah,
aku rapuh,
Jejakmu hilang dengan mudah
begitu saja!
Namun sayang,
jejakmu sudah terhapus
tersapu oleh tiupan angin
Aku mencoba memperhatikan sisa-sisa jejakmu
Namun sayang,
tak tampak jelas
Aku sulit memahaminya
Aku pun berusaha merekam jejakmu
Namun sayang,
aku tak mampu,
aku lemah,
aku rapuh,
Jejakmu hilang dengan mudah
begitu saja!
Monday, June 15, 2015
Sepasang Sandal Jepit
Kita adalah sepasang sandal jepit
yang berjalan beriringan
tak pernah sekali pun tak berdampingan
Kita adalah sepasang sandal jepit
tampak sekilas hanya rupa biasa, tak menarik
namun, kita selalu sama
Tak peduli apa kata orang tentang kita
Kita adalah sepasang sandal jepit
selalu sejalan dalam menentukan arah
Tak pernah kita berbeda
meski kau lebih sering berjalan di depan
sebagai arah kebaikan yang kemudian kuikuti
Kita adalah sepasang sandal jepit
tak terpisahkan walau ada yang ingin mengganti
Kita adalah sepasang sandal jepit
yang saling setia 'tuk selalu bersama
Kita adalah sepasang sandal jepit
terkesan biasa, namun penuh makna
Kasablanka, 15 Juni 2015
*bus Sinar Jaya menuju pulang
*maaf kalau "puisi" di atas agak "ngawur", tak bermakna dalam. Namanya juga "karya iseng", pun penulisnya bukan seorang romantis yang mampu merangkai kata2 manis dan puitis. Bukan pula orang yang mahir menulis puisi. Hehehe...
yang berjalan beriringan
tak pernah sekali pun tak berdampingan
Kita adalah sepasang sandal jepit
tampak sekilas hanya rupa biasa, tak menarik
namun, kita selalu sama
Tak peduli apa kata orang tentang kita
Kita adalah sepasang sandal jepit
selalu sejalan dalam menentukan arah
Tak pernah kita berbeda
meski kau lebih sering berjalan di depan
sebagai arah kebaikan yang kemudian kuikuti
Kita adalah sepasang sandal jepit
tak terpisahkan walau ada yang ingin mengganti
Kita adalah sepasang sandal jepit
yang saling setia 'tuk selalu bersama
Kita adalah sepasang sandal jepit
terkesan biasa, namun penuh makna
Kasablanka, 15 Juni 2015
*bus Sinar Jaya menuju pulang
*maaf kalau "puisi" di atas agak "ngawur", tak bermakna dalam. Namanya juga "karya iseng", pun penulisnya bukan seorang romantis yang mampu merangkai kata2 manis dan puitis. Bukan pula orang yang mahir menulis puisi. Hehehe...
Wednesday, June 10, 2015
The Corrs, COMEBACK!!
The Corrs comeback!!! Wow, saya senang sekali mendengar kabar ini. Hampir satu dasawarsa band asal Irlandia itu hiatus dengan alasan, salah satunya, "ingin fokus mengurus keluarga". Walau demikian, tak dimungkiri, dua personel The Corrs, Sharon Corr dan Andrea Corr, berkibar sebagai penyanyi solo.
Menurut saya, genre musik mereka berdua pada album masing-masing tak jauh berbeda dengan genre musik The Corrs. Ya, meski tak dimungkiri tak semua lagu pada album mereka saya dengarkan, mengingat saya hanya mengandalkan YouTube untuk mendengarkannya. Maklum, cari album solo Sharon Corr dan Andrea Corr "lumayan susah" di Indonesia. Saya sudah mencoba cari ke beberapa toko kaset, online shop, tapi tak kunjung ditemukan. huhuhu... sedih ya... Kok malah membahas dua personel The Corrs tersebut, sih! Oke, kembali ke bahasan awal. The Corrs comeback!
Berawal dari tadi pagi, beberapa menit sampai di kantor dan iseng-iseng membuka beberapa media sosial. Nah, saat membuka Facebook (media sosial yang sudah jarang saya buka), saya memperoleh informasi dari fanpage Sharon Corr yang menge-share informasi dari irishtimes.com. Situs tersebut menyatakan bahwa The Corrs akan KEMBALI. Terkejut, pastinya! Senang, sudah pasti saya rasakan. Walau begitu, awalnya saya timbul sedikit keraguan dalam hati saya, bener gak sih The Corrs akan "kembali" atau ini hanya sekadar kabar angin saja? Terlebih, kira-kira hampir dua tahun lalu saya pun mendengar kabar bahwa The Corrs akan kembali, tapi sayangnya tak terbukti hingga awal tahun ini. Namun, tampaknya hal itu akan menjadi nyata pada beberapa bulan nanti, menuju akhir tahun 2015.
Saya pun membaca hingga selesai artikel dalam situs tersebut. Ya, mau tak mau saya harus memahami isi artikel yang di-share oleh Sharon. Maklum, artikel itu menggunakan bahasa Inggris, sedangkan kemampuan bahasa Inggris saya, mmh rata-rata harus banyak banget belajar. Meski demikian, saya berusaha untuk tidak menggunakan jasa Google Translate, sungguh! hehhehe...
Intinya sih, isi artikel berjudul "Forgiven, not Forgotten: The Corrs are Back and We Have Ten Reasons to Celebrate", yakni band bersaudara ini akan tampil pertama kali pada 13 September 2015 di BBC Radio 2 secara langsung di Hyde Park. Selain itu, kabarnya The Corrs juga sedang memproses pembuatan album baru. Wow! Jadi, tak sabar nih seperti apa lagu-lagu yang ada dalam album terbaru The Corrs nanti. Apakah masih dengan lirik romantis dan mudah dipahami, sedikit mengandung filosofis, musik yang "berkelas" namun bisa dinikmati semua kalangan, dan dengan sisipan satu-dua musik instrumen khas Irlandia?
Pastinya, para penggemar The Corrs di dunia ini--termasuk saya--merindukan mereka memunculkan karyanya kembali, secara bersama-sama--Jim, Sharon, Caroline, dan Andrea. Selain itu, terkait dengan kabar "kembalinya" The Corrs, untuk sementara saya menafsirkan bahwa album "terbaru"-nya nanti akan ludes dalam waktu yang sangat cepat. Mungkin, bisa juga menembus chart tertinggi di UK, misalnya, sebagaimana seperti album Talk on Corners--album kedua The Corrs (ini kesannya sok tahu banget, ya hihihi).
Oh ya, kembali ke pembahasan "benar atau tidaknya" The Corrs comeback. Nah, untuk membuktikan keakuratan berita tentang band bersaudara ini, saya mencoba browsing ke situs lain via Google tentunya untuk mencari kabar terkait mereka. Benar saja! Beberapa situs mengungkapkan hal sama, The Corrs comeback! Situs atau website tersebut di antaranya www.evoke.ie dan hiburan.metrotvnews.com. Tak dimungkiri, gegara berita The Corrs saya menjadi kepo. Ya, maklum saja, namanya juga penggemar yang merindukan band kesukaannya--terkait kesukaan grup musik, saya paling "malas" menyebutnya sebagai "idola" (kata yang sensitif menurut sudut pandang saya). Maka dari itu, saya yakin banget kalau ini fakta, The Corrs comeback! Apalagi ada beberapa situs blog yang saya temukan--tentunya orang Indonesia--juga memublikasikan berita tersebut.
Jika memang sudah positif The Corrs akan tampil perdana pada September nanti, bisa jadi mereka akan mengadakan tur dunia untuk promo album terbarunya. Semoga saja, Indonesia menjadi salah satu jadwal dalam tur dunianya. Wah, kalau Indonesia menjadi "sasaran" konser The Corrs dan Yang Maha Kuasa mengizinkan, saya ingin menontonnya (Mmh... kalau ada kabar terkait konser The Corrs kudu menabung dari jauh-jauh hari hehehe). Sekali lagi, semoga saja The Corrs "mampir" ke Indonesia. ^_^ Setidaknya, ini seperti Sharon Corr yang pernah datang ke Indonesia sebagai bintang tamu dalam konsernya Yovie.
The Corrs, I'm waiting for you...
Kasablanka, menanti waktu pulang kerja....
Sunday, May 31, 2015
Welcome June!
Selamat datang, Juni!
Iya, itulah kalimat minor yang mengawali tulisan iseng ini. Maklum, namanya juga ditulis saat pagi hari, menuju ke kantor kawasan Kasablanka, pun di Metro Mini pula.
Ada apa dengan Juni? Adakah yang terkesan atau bermakna dengan tibanya bulan keenam dalam setahun ini?
Bulan Juni, ya Juni, mengingatkan kita waktu bergulir begitu cepat. Rotasi Bumi yang mengakibatkan pergantian siang-malam, menunjukkan waktu berjalan lebih cepat. Selain itu, Juni, bulan pertengahan tahun menandakan bahwa enam bulan lagi Bumi akan mengalami revolusi. Subhanallah... sungguh cepat, ya.
Lebih dari sekadar itu, awal Juni--menurut saya--mengingatkan kita semua bahwa Ramadhan sebentar lagi, tak sampai sebulan, kita akan bertemu pada bulan penuh berkah ini. Subhanallah...
Satu hal lagi, khusus bagi saya, dengan datangnya Juni, mengingatkan saya bahwa sebentar lagi deadline kerjaan. Semua tugas harus segera selesai, buat soal, pembahasan, memasukkan gambar, lalu ditembak ke server. Kuncinya, bismillah saja. Inna ma'al 'usriyusraan... di mana ada kesulitan di situ pasti ada kemudahan. Walaupun banyak yang belum dikerjakan, semoga dilancarkan penyelesaian pekerjaan. Aamiin...
Friday, May 15, 2015
Untuk Anak, Apa sih yang Harus Disiapkan?
Memiliki anak merupakan impian seorang wanita. Bahkan, kaum Hawa pun berpendapat bahwa hidup akan lebih sempurna bila memiliki si buah hati; mengandung, menyusui, merawat, dan mendidiknya. Namun demikian, tak sedikit wanita beranggapan mengurus anak termasuk "hal mudah". Mengapa demikian? Apakah ada halangan dan rintangannya? Ataukah memiliki anak merupakan "tantangan" terberat kaum Hawa?
Memang, tak dimungkiri mengurus (mendidik dan merawat) buah hati merupakan "tugas utama" seorang wanita. Hal ini mengingat bahwa kaum Hawa merupakan "madrasah" pertama bagi anaknya. Dengan kata lain, dialah sumber pendidikan dan kasih sayang seorang anak.
Tentu kita sudah sering kali mendengar pernyataan "Mengurus anak itu capek, repot, ribet, tidak mudah, dan sebagainya." Padahal, kunci untuk mengatasinya sederhana saja, KEIKHLASAN. Mengurus anak memang jangan dijadikan beban. "Nikmati saja," kata ibu saya.
Saya masih LAJANG, tapi terkadang sifat "iseng" saya muncul. Saya suka memperhatikan bagaimana wanita--terutama ibu saya--mengurus buah hati. Ya, menurut saya, memperhatikan hal itu cukup bermanfaat, lumayan untuk bekal nanti jika sudah menikah dan memiliki buah hati (aamiin).
Memiliki anak merupakan anugerah terbesar, bahkan terindah yang diberikan Sang Illahi. Kalau menurut ayah saya, "Memiliki anak merupakan kekayaan sesungguhnya." Bukankah sudah jelas bahwa anak termasuk "tabungan akhirat" sekaligus tanggung jawab kita sebagai seorang insan?
Berdasarkan pengamatan saya, baik melihat cara ibu maupun teman mengurus buah hati, merawat dan mendidik anak merupakan "tantangan terindah" bagi wanita. Dengan mengurus buah hati--setidaknya--banyak hal positif yang bisa kita peroleh (mengambil hikmahnya). Di antaranya, bisa melatih diri menjadi pribadi yang SABAR, IKHLAS, dan senantiasa BERSYUKUR. Mengapa SABAR? Ya, karena kita harus pandai-pandai memanajemen emosi saat mengurus anak. Tak dimungkiri terkadang seorang ibu merasa kesal dan ingin marah, sekaligus lelah dalam mengurus anak. Namun, bentuk-bentuk emosi "negatif" itu perlu ditahan, bahkan mesti diusahakan dihindarkan saat mengurus anak (apalagi anaknya masih balita).
Mengapa harus IKHLAS? Jawabnya sederhana saja, jika sesuatu dilakukan secara ikhlas, insya Allah berjalan dengan baik dan lancar, seakan semua tak terbebani, bahkan menjadi sebuah "kenikmatan" tersendiri--memunculkan kebahagiaan. Nah, kalau kaum Hawa mengurus anak dengan penuh keikhlasan, pasti akan sukacita hatinya; menikmati perannya menjadi ibu, sekaligus senang memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak.
Terakhir, mengapa BERSYUKUR? Memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak secara saksama, dengan sendirinya--berdasarkan penilaian saya--akan menimbulkan rasa syukur, betapa Sang Mahakuasa memberikan kesempatan kepada kaum Hawa untuk menjalankan peran mulianya, menjadi seorang ibu. Selain itu, menyadari atas karunia dan kenikmatan yang diberikan Allah dalam hidup ini, mendapatkan anak, berkesempatan untuk mengurusnya.
Setelah pemaparan di atas, saya akan menjelaskan kira-kira apa saja yang mesti "disiapkan" saat mengurus anak. Ini berdasarkan pengamatan saya, lho, tepatnya secara langsung mengamati cara ibu saya mendidik anak. Maklum, saya memiliki adik bungsu yang masih kecil (sekarang dalam tahap perkembangan masa kanak-kanak awal) sehingga saya "berkesempatan" memperhatikan bagaimana ibu mengurus si bungsu.
Ada beberapa hal yang mesti--secara umum--disiapkan saat mengurus anak. Hal ini antara lain:
- Siapkan tisu, kapas, dan towel (saputangan berbahan tebal). Terkait tisu, usahakan ada tisu basah non-alkohol. Tapi perlu diperhatikan juga, apakah sensitif terhadap kulit buah hati. Ini mengingat kulit balita, terutama bayi, sangat rentan terkena iritasi.
- Sediakan minyak tawon dan minyak telon. Mengapa harus minyak tawon? Alasannya sederhana saja. Bayi berusia 6 bulan atau mulai tengkurap dan/atau melakukan aktivitas motorik dan kognitif lainnya, setidaknya tak sengaja dia akan terjatuh. Umumnya, terjatuh dari tempat karena keaktifannya. Kalau sudah seperti ini, tidur biasanya akan timbul benjolan atau memar si bagian tangan, kaki, atau kepala. Di sinilah gunanya ada minyak tawon, yakni sebagai minyak urut untuk mengecilkan/ menghilangkan memar tersebut. Selain itu, minyak tawon juga berguna untuk "menghilangkan" gigitan serangga, seperti nyamuk dan semut. Di samping minyak tawon, minyak telon juga berperan cukup penting. Salah satunya, anak pasti pernah mengalami masuk angin atau gejala-gejalanya. Minyak telon ini setidaknya bisa menghangatkan tubuh anak atau mengurangi rasa kembung bagi anak.
- Sediakan madu. Madu tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tapi juga menyembuhkan luka. Namanya juga anak-anak, pasti pernah mengalami luka, entah terjatuh atau terkena sesuatu. Bila masih dalam tahap kobes atau lecet, si ibu cukup memberikan minyak tawon. Tapi, bagaimana kalau lukanya bisa mengeluarkan darah banyak, kulit "robek" dan bocor? Usahakan ibu/ ayah jangan terlalu panik. Jika ada madu, oleskan pada bagian yang luka. Insya Allah madu dapat menghentikan pendarahan dan kulit yang robek pun secepatnya merapat kembali. Lagi pula, kasihan buah hati jika harus dibawa ke dokter, lalu dijahit, menangis kencang, dan pasti orangtua tidak akan tega melihatnya.
- Selain beberapa benda tersebut, kestabilan emosi juga penting disiapkan. Salah satunya saat mengetahui bahwa buah hati sakit. Saat dalam tahap infant dan batita, anak tidak jauh terkena demam, flu, batuk, dan diare. Terkait dengan flu, batuk, dan diare, sebaiknya lihat perkembangan kesehatan anak sekitar 1x24 jam. Jika daya tahan tubuh semakin lemah, bisa dibawa ke dokter. Namun, jika anak masih mengonsumsi ASI, si ibu tak perlu terlalu khawatir dan panik. Bila mau, si ibu minum obat ringan yang biasa dikonsumsi saat ketiga sakit tersebut dialami, tapi dosisnya setengah saja. Setidaknya, anak akan menyerap saripati obat tersebut melalui ASI.
- Di samping itu, jika buah hati terkena demam, ketahui dulu penyebabnya. Apakah karena imunisasi atau tidak. Bila karena imunisasi, itu merupakan hal wajar. Terlebih, jika masih ASI, si ibu hanya memberikan ASI untuk anaknya, insya Allah perlahan demam turun. Namun, bila demam anak terjadi bukan karena imunisasi, diusahakan orangtua, terutama ibu tidak terlalu panik. Lihat dan pantau terus keadaan anak 2x24 jam. Usahakan selalu mengecek suhu tubuh anak. Kembali lagi pada penjelasan awal, bila masih ASI, anak diberi ASI saja. Namun, bila tidak mengonsumsi ASI, anak bisa diberikan obat penurun demam dengan dosis ringan. Selain itu, berikan madu dan air putih. Juga bila sempat, bacakan shalawat kepada anak. Semoga Allah menyembuhkan sakitnya. Insya Allah.
Sekian penjelasan saya terkait hal-hal yang mesti disiapkan saat mengurus anak. Saya mohon maaf jika dalam tulisan ini terdapat kesalahan dan banyak kekurangan. Maklum, saya menulis ini berdasarkan pengamatan sekitar.
Ya, meski demikian, semoga saja saya mendapat info terkait parenting lagi. Lumayan bisa di-share, dipelajari sama-sama (walau saya pun masih lajang hehehe).
Ya, meski demikian, semoga saja saya mendapat info terkait parenting lagi. Lumayan bisa di-share, dipelajari sama-sama (walau saya pun masih lajang hehehe).
Monday, February 17, 2014
Love You, Kak
Love You, Kak
(Season Adly)
Sendiri di rumah. Sambil menunggu Iqbal beserta anak istrinya datang pada malam ini, aku hanya duduk di teras. Sesekali aku menatap langit bertabur bintang kerlap-kerlip. Subhanallah, begitu cantik cahaya bintang-bintang di atas sana. Mahabesar atas Kuasa-Mu ya Rabb.
Aku pun teringat akan adik bungsuku, Adly. Dulu, saat dia masih kecil, kami berdua sering menatap bintang di langit dari balkon rumah. Bahkan, “gilanya” sewaktu dia SMP (saat itu aku masih kuliah), Adly mengajakku ke atas genting saat akan melihat bintang dengan teropong. Teropong itu merupakan hadiah hasil patungan dariku dan kedua abangnya saat Adly berulang tahun ke-10. Dia memang suka melihat bintang dan apa pun yang berkaitan dengan astronomi. Maka dari itu, tak heran jika sejak SMP dia tergabung dalam klub astronomi, seperti Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ).
Itulah salah satu penyebab mengapa Adly berkuliah di ITB. Kira-kira tiga tahun lalu, saat mengikuti SPMB, dia memilih jurusan ilmu astronomi sebagai pilihan pertama dan teknik elektro sebagai pilihan kedua. Namun, “takdir” berkata lain. Adly memang diterima di ITB, tapi di teknik elektro. Dia pun sempat murung selama seminggu. Tak ceria, tak nafsu makan, hanya mengunci diri di dalam kamar. Karena nasihat kedua abangnya, Iqbal dan Rafi, akhirnya Adly ceria kembali. Dia pun cukup “semangat” berkuliah di jurusan teknik elektro. Toh, meski tidak kuliah di ilmu astronomi, Adly tetap bergabung di HAAJ dan klub astronomi di ITB.
Saat memandangi langit, tetiba ponselku berbunyi. Ternyata, Adly mengirim SMS.
Kakak…. Kakak… Kakak… Adly kangen… kangen… kangen…
Aku tersenyum membaca SMS darinya. Lucu, polos, dan manja. Itulah si bungsu, Adly. Meski begitu, di antara ketiga adikku, hanyalah dia paling “pemberani.”
Kalau kangen makanya pulang. Jangan di Bandung, mulu. Begitu isi balasan SMS-ku.
Iya, nanti kita ke atas genting ya, lihat bintang.
Dalam hati aku hanya berkata, ah, gak salah ke atas genting lagi? Mending lihat dari balkon, deh!
Nanti kamu aja yang naik genting. Kakak sih ogah. Sekalian benerin genting bocor, ya. :D
Hehehhhe sip, Kak!
Sesudah ber-SMS dengan Adly, tetiba aku ingat akan perilakunya yang cukup memusingkan, bahkan “akan” memecahkan kepalaku ini lima tahun lalu. Dan waktu itulah, pertama kalinya aku “marah besar” terhadap adik yang sangat jarang kumarahi itu. Adly pun takut dan hampir menangis ketika aku memarahinya. Maklum, di antara keluarga di rumah, aku dan Bi Minah-lah yang memanjakan dia.
***
Ini merupakan hari ketiga kudapati Adly tidak masuk sekolah. Setiap kutanya, dia hanya menjawab, “Libur, Kak.” Ketika kutanya alasan libur itu, dia hanya bergeming, dan baru menjawab saat kutanya berulang kali. Dan Adly hanya berkata, “Tidak tahu, Kak. Info dari guru seperti itu.”
Sikap dan jawaban tersebut membuatku curiga. Maka dari itu, sebelum berangkat kerja, aku bertanya sekali lagi kepada dia dengan nada tegas.
“Benar, kamu gak masuk sekolah karena libur? Kok aneh, libur sampai berhari-hari? Awas ya, kalau Kakak tahu kamu bohong, ponsel kamu Kakak tahan, PS juga tidak boleh dimainkan.”
“Ih, kok Kakak gitu sih! Ayah ibu aja gak sampai segitunya kasih hukuman,” ujarnya santai sambil merakit mobil tamia di kamarnya. “Lagian, gak percaya amat sama Adly. Sekolah memang libur.”
“Ya sudah kalau begitu. Kakak berangkat kerja dulu. Kamu jangan lupa makan,” kataku sambil menutup pintu kamarnya. Adly hanya bisa mengangguk.
Saat akan mengambil sepatu di rak yang letaknya dekat dapur, Bi Minah menghampiriku.
“Non Jihan, ini Bibi temukan dari saku celana Den Adly,” ujarnya memberikan sebuah kertas yang terlipat tak beraturan.
“Apa ini, Bi?”
“Bibi gak tahu Non. Permisi, Non.”
“Ya Bi, terima kasih. Oya Bi, nanti jangan lupa kalau ayah pulang tolong bilang kiriman paket dari Medan sudah sampai. Paketnya ada di kamar saya, ya. Nanti Bibi ambil aja.”
“Baik, Non. Bibi mau masak dulu.”
“Ya, Bi.”
Kertas apa, nih? Aku pun mulai membuka lipatan surat itu, ada dua lembar kertas. Kemudian, aku membacanya. Dan ternyata, itu surat keterangan bahwa Adly DISKORSING selama seminggu dan surat panggilan ORANGTUA SISWA/WALI ke sekolah. Apa yang dilakukan Adly di sekolah sehingga harus diskorsing seperti ini? Aku langsung bergegas ke kamar Adly.
“Adly! Jadi, kamu sudah bohong sama Kakak!” kataku dengan nada tinggi saat masuk ke kamarnya.
“Bohong kenapa, Kak?” tanyanya santai.
“Ini,” jawabku sambil menyodorkan kedua kertas itu. “Apa maksudnya? Kenapa kamu bohong sama Kakak?”
“Hah, itu mmh itu Kakak dapat dari mana?”
“Kamu tidak perlu tahu! Sekarang Kakak cuma mau penjelasan kamu! Kenapa bisa diskorsing seperti ini? Kamu buat ulah apa lagi? Aduh, Adly, masak sih dari SMP kamu selalu bermasalah di sekolah. Masalahnya karena telat terus, berantem, lalu kalau sekarang kamu buat masalah apa?”
“Itu Kak, yang salah bukan Adly,” katanya membela dengan kepala menunduk.
“Bagaimana yang salah bukan kamu kalau ini sudah ada buktinya. Adly, Adly, kapan sih kamu berhenti buat masalah! Kakak capek kalau harus selesain masalah kamu di sekolah. Untuk kali ini, biar ayah atau ibu saja yang ke sekolah. Mereka harus tahu bagaimana perilaku kamu!”
“Ja…jangan Kak!”
“Bagaimana jangan? Ini jelas-jelas ada surat panggilan orangtua! Kamu mau akhirnya kamu dikeluarkan dari sekolah? Ayah dan ibu pasti kecewa sama kamu!”
“Biarin aja Adly dikeluarin dari sekolah! Memang selama ini ayah dan ibu memperhatikan sekolah Adly? Gak, Kak! Mereka selama ini hanya sibuk dan sibuk dengan pekerjaannya!”
“Mereka sibuk kerja juga demi kamu! Demi Kakak, bang Iqbal, dan bang Rafi!”
“Tapi, apakah selama ini ayah ibu memperhatikan Adly? Sama sekali tidak Kak! Coba Kakak ingat, setiap Adly ambil rapor, bukan ayah atau ibu yang datang. Pasti kalau bukan Kakak, Bi Minah. Ayah dan ibu mana ada waktu untuk anak-anaknya? Mereka cuma bisa menuntut anak ini harus jadi ini, jadi itu, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan anak-anaknya,” ujar Adly dengan nada kesal.
“Adly! Siapa yang mengajarkan kamu bicara seperti itu? Pokoknya, untuk kali ini Kakak sudah angkat tangan untuk menyelesaikan masalah sekolah kamu! Dan kalau memang Adly tidak mau berubah, Kakak tidak segan bilang ke ayah agar kamu dimasukkan saja ke pesantren!”
“Ya sudah kalau begitu! Memang di rumah ini gak ada yang peduli sama Adly!”
Aku tahu maksud perkataan Adly. Dia membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari ayah ibu. Ya, memang benar apa kata Adly, ayah dan ibu terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Ayah nyaris setiap bulan beberapa kali ke luar kota untuk mengurus bisnisnya, sedangkan ibu selalu sibuk dengan jadwal praktiknya di beberapa klinik dan rumah sakit. Maklum, ibu adalah seorang dokter spesialis anak.
Tak bisa dimungkiri, kami berempat memang dicukupi dalam hal materi. Namun, dalam hal kasih sayang dan perhatian, aku bersama ketiga adikku merasa inilah yang “kurang dipenuhi” ayah dan ibu meski aku yakin mereka sangat menyayangi kami, berusaha membahagiakan dan memenuhi kebutuhan kami.
“Selama ini, saat Adly membutuhkan, merasa kesepian, ayah dan ibu tak pernah ada, Kak! Adly kesal, kecewa, seolah Adly tak punya orangtua, hanya punya tiga kakak saja,” ungkap Adly seraya menahan tangis. Adikku yang satu ini memang sangat sensitif, terlebih saat dimarahi atau mengungkapkan kekesalannya, mata Adly “berkaca-kaca”.
Aku hanya bisa menghela napas, berusaha untuk tidak memarahi Adly apalagi berbicara dengan nada tinggi. Tak tega. Maka dari itu, aku mendekati Adly, duduk di sampingnya, mengusap kepalanya.
“Adly Sayang, semua yang ada di rumah ini sayang sama kamu. Coba deh Adly pikir, sekarang kan kamu sudah remaja, sudah bukan anak kecil lagi. Masak sih, harus diperlakukan seperti anak kecil. Dimanjakan seperti itu.”
“Adly bukan mau dimanjakan Kak, cuma ingin diperhatikan!”
“Nah, sekarang coba Adly dengarkan Kakak. Seharusnya, Adly bersyukur karena masih memiliki orangtua yang lengkap, kakak yang banyak. Adly bisa tinggal di rumah tanpa perlu kerja mencari nafkah karena tugas Adly adalah belajar. Seandainya Adly melihat remaja seusia di sekitar, kamu masih lebih beruntung dari mereka. Bayangkan saja, sebagian dari mereka harus membanting tulang untuk membantu keluarganya, putus sekolah, bahkan tidak memiliki tempat tinggal. Jika selama ini ayah ibu jarang berada di samping Adly, toh mereka juga rela banting tulang demi Adly dan keluarga ini.”
Mendengar penjelasanku Adly hanya bisa tertegun. Sesekali kudengar ia terisak.
“Lagi pula, kalau Adly tahu, sebenarnya ayah dan ibu selama ini juga memantau perkembangan Adly, bagaimana keadaan kamu, sekolah, dan sebagainya. Begitu juga yang dilakukan ayah ibu dengan kedua abangmu. Mereka selalu menanyakan perkembangan kalian kepada Kakak. Tapi, apakah Kakak harus bilang ke kalian masing-masing? Tidak mesti, kan? Nah, satu hal yang perlu Adly ingat, ayah dan ibu sangat sayang sama Adly makanya jangan kecewakan mereka, tunjukan bahwa Adly adalah anak yang bisa dibanggakan, berprestasi.”
“Oya, memang kenapa sih kamu sampai diskorsing? Tawuran?”
Adly hanya mengangguk.
“Kenapa ikut tawuran? Sebabnya apa?” tanyaku pelan.
Lalu, Adly menceritakan bahwa sebenarnya dia hanya menjadi “kambing hitam” dari teman-teman sekolahnya yang ikut tawuran. Awalnya, dengan mengendarai sepeda motor, dia hendak pulang ke rumah. Tiba-tiba di jalan Adly melihat sekelompok anak SMA yang tak lain adalah “musuh” dari anak di sekolahnya. Menurutnya, sekelompok anak itu membawa balok, ikat pinggang, bahkan ada yang membawa celurit untuk tawuran. Adly pun memutuskan untuk menghindar. Dia tidak ingin mendapat masalah lagi dengan ikut tawuran sebab dua minggu sebelumnya mendapat hukuman dari kepala sekolah karena berkelahi dengan kakak kelasnya yang berbuat curang ketika bertanding basket antarkelas.
Saat hendak balik arah, dia melihat ada anak TK yang terjebak di antara sekelompok anak tersebut. Adly merasa kasihan dan ingin melindungi bocah tersebut. Namun sayangnya, ketika ingin menggendong anak itu, seorang dari sekelompok anak SMA yang akan tawuran tersebut meneriakinya, “Woi, musuh sudah datang! Berani banget lo datang sendiri!”
Adly berusaha tidak memedulikan teriakan itu. Dia hanya ingin melindungi si bocah TK.
“Wah, lo nantangin kita!”
Tetiba ada yang melempar batu kecil ke kepala Adly. Tak kuasa menahan emosi, terlebih ternyata teman-teman sekolahnya datang untuk tawuran, Adly kembali melempar batu ke kepala orang yang melempar batu tadi. Setelah itu, dia dipukul perutnya oleh salah satu pelajar yang tak dikenalnya. Perkelahian pun terjadi. Teman-teman sekolah Adly juga memicu tawuran. Semakin menjadi-jadi aksi mereka. Namun, untungnya Adly bisa meloloskan diri dari tawuran tersebut, segera menggendong bocah TK itu, menyalakan motornya, dan mengantarkan si anak ke rumahnya. Kebetulan, bocah tersebut adalah anak dari tukang kebun sekolahnya.
Namun nahas, keesokan harinya Adly beserta beberapa temannya dipanggil kepala sekolah. Dan, sebagian dari temannya yang mengikuti tawuran menyatakan bahwa tawuran terjadi karena Adly yang “memancing” dengan melempar batu kepada “si musuh”. Adly berusaha meyakinkan sang kepala sekolah bahwa dia tidak bersalah, tapi dia tetap dinyatakan bersalah.
“Jadi begitu Kak, ceritanya. Tujuan Adly itu cuma mau menyelamatkan si Mimi, anak bungsunya mang Diman. Tapi, memang rese tuh gank-nya Bono, malah fitnah Adly!”
“Ya sudah kalau begitu. Kakak percaya dengan kamu. Besok Kakak akan temui kepala sekolah.”
“Buat apa Kak? Percuma aja nemuin Pak Erik, dia tuh kalau sudah kasih keputusan gak bisa ditawar-tawar.”
“Ini kan demi kebenaran. Kakak tidak mau kamu kena hukuman, padahal sebenarnya gak salah!”
“Memang kapan Kakak mau nemuin Pak Erik, besok?”
“Iya!”
“Kakak gak kerja?”
“Cuti.”
Keesokan harinya, aku ke sekolah Adly untuk menjelaskan permasalahan tawuran tersebut. Setelah berbicara cukup lama, sang kepala sekolah memutuskan memanggil Adly untuk menandatangani pernyataan tertulis yang diperkuat dengan materai bahwa sekali lagi dia terlibat dalam tawuran ataupun perkelahian dengan sebab lain, tak segan pihak sekolah akan mengeluarkannya.
Setelah menandatangani surat pernyataan itu, aku dan Adly pulang bersama. Masalah Adly sudah selesai kali ini. Saat di perjalanan, aku berkata kepada Adly bahwa dia mesti berjanji agar tidak membuat ulah di sekolah. Dia pun meyakinkanku akan menepati janji itu. Alhamdulillah, sejak saat itu hingga lulus SMA dia sekali pun tak lagi membuat ulah, bahkan nilai UN-nya menjadi nilai tertinggi kedua untuk kelas IPA.
***
Mengingat “masalah” dan perilaku Adly lima tahun lalu membuatku tersenyum. Ya, sekarang Adly tak pernah lagi berbuat ulah. Dia mampu menahan emosinya tatkala ada orang yang ingin mengajaknya “berkelahi”.
Lalu, terdengar suara mesin mobil dari depan rumah. Ternyata Iqbal beserta anak dan istrinya telah sampai.
“Assalamualaikum…” teriak Faiq dan Balra, kedua anak Iqbal.
“Waalaikumussalam…”
“Mama Jihan!!!” panggil mereka sambil berlarian, kemudian memelukku.
“Ma, nanti Faiq bobo di kamar Mama, ya.”
“Balra juga ya, Ma. Nanti Mama bacain dongeng untuk Balra, ya.”
“Iya. Mama juga kangen sudah lama gak bobo sama kalian.”
“Assalamualaikum, Kak,” salam Iqbal dan Farah seraya mencium tanganku.
“Waalaikumussalam. Ayo, semuanya masuk.”
“Kakak!!!” panggil Adly yang setengah berlari menghampiriku. Dia pun langsung memelukku erat.
“Aduh, Adly, kamu peluknya terlalu erat. Sakit nih badan Kakak.”
“Oops, maaf Kak! Habis Adly kangen banget sama Kakak! Makanya, tadi Adly minta nebeng sama bang Iqbal untuk ke sini,” katanya sambil mencium pipi kiriku. “Oya, ini buat Kakak!” Adly memberikan sebuket mawar biru, bunga kesukaanku.
“Wah, terima kasih, ya Dly! Yuk, masuk!”
“Oke, Kak! Adly juga sudah lapar nih! Heheheh…”
***
Thursday, February 13, 2014
Love You, Kak
Love You, Kak
(Season Rafi)
Beberapa menit lalu, setelah Iqbal menelepon, Rafi, adik keduaku, mengirim WhatsApp (WA). Sama seperti Iqbal saat awal menelepon, Rafi menanyakan kabarku dan aku bilang bahwa aku sudah lebih baik dari sebelumnya.
Kak, selama dua hari ke depan Kakak ada acara, gak? Rafi mau ajak Kakak lihat gedung sekolah musik Rafi yang baru selesai dibangun. Hehehhehe J
Setelah membaca WA Rafi tersebut, aku membalas bahwa memang pada dua hari itu, yang tak lain Sabtu-Minggu, aku tak ada acara. Namun, Iqbal bersama anak dan istrinya selama tiga hari akan menginap di rumah.
Ya sudah, Kak, Bang Iqbal dan keluarga sekalian aja datang ke sekolah musik Rafi.
Ya, nanti Kakak bilang ke dia.
Oke, Kak! Miss you :-* Besok kalau Rafi sudah dekat rumah, Rafi kabari Kakak, ya!
Sip!
Rafi, adikku yang satu ini sangat berbakat di bidang musik dan sejak SMA dulu dia selalu bermimpi, suatu saat nanti akan menjadi musisi dan guru musik terkenal serta juga memiliki sekolah musik. Ya, sekarang, tepat pada usia 25 tahun, hampir semua mimpi itu terwujud. Rafi menjadi guru musik dan memiliki tiga gedung sekolah musik. Adapun mimpi yang belum terwujud, yakni menjadi musisi terkenal. Ini disebabkan saking sibuknya Rafi sebagai guru musik sekaligus mengurus sekolah musiknya. Maka dari itu, dia hanya berfokus pada kedua hal tersebut.
Pernah sesekali aku meledeknya, “Katanya mau jadi musisi terkenal, kok sekarang malah sibuk ngajar musik.” Dia hanya menjawab, “Hehehe… yang penting ada unsur musiknya, Kak! Gak jadi musisi, guru musik pun jadi. Yang penting ngerti not, bisa main alat musik, bisa ciptain lagu…”
“Ciptain lagu? Buat siapa?”
“Ya, buat Zah… Eh, gak buat siapa-siapa ding!” ujarnya agak gugup. Ya, sebenarnya aku tahu Rafi memang menciptakan beberapa lagu dengan syair puitis yang ditujukan kepada gadis yang disukainya. Siapa lagi kalau bukan Zahra. Oops, aku pun tahu tentang Zahra dari si bungsu, Adly, sebab selama ini hanya Adly yang menjadi teman curhat Rafi ketika dia membicarakan soal Zahra. Adik keduaku ini memang benar-benar tertutup soal kisah “cinta” kepadaku.
***
Suara gitar elektrik yang dimainkan Rafi cukup memekakkan telinga sehingga aku tidak bisa tidur siang. Dengan tak acuh bahwa di rumah ada aku yang ingin beristirahat pada Minggu yang panas ini serta Adly yang belajar untuk menghadapi UAS pada keesokan harinya, Rafi memainkan lagu Gun’n Roses berjudul “Sweet Child o Mine”.
Karena sudah tak tahan dengan suara gitarnya itu, aku bergegas ke kamar Rafi. Segera kubuka pintu kamarnya serta mencabut kabel sound system dari gitarnya.
“Lah, kok suaranya beda?” tanyanya heran. Lalu, dia segera menengok dan mendapati diriku yang masih memegang kabel sound system tersebut.
“Berisik, Kakak mau tidur!” kataku.
“Ya, Kakak kalau mau tidur, tidur aja! Gak usah cabut kabel segala,” ujarnya dengan wajar cemberut sambil mengambil kabel dari tanganku dan memasukkannya kembali ke stopkontak.
“Fi, bisa tidak sekali ini saja kamu tidak main gitar. Kakak mohon banget! Kakak ingin istirahat!”
“Kan, tadi Rafi sudah bilang, kalau Kakak mau istirahat, ya silakan. Tapi Rafi tetap mau main gitar. Hari Minggu, jatah Rafi main gitar sepuasnya!”
“Gimana sepuasnya? Memang kamu tinggal di rumah sendiri? Ada kakak, abang dan adikmu, ayah, ibu.”
“Tapi, sekarang kan cuma ada Kakak dan Adly. Ayah ibu lagi ke luar kota. Jadi, lumayan kan Rafi bisa main gitar sepuasnya!”
“Ya, tidak bisa begitu juga. Yang ada di rumah ini juga berhak untuk istirahat, merilekskan otak dan badan dari aktivitas kemarin-kemarin.”
“Dan main gitar merupakan cara Rafi untuk merilekskan pikiran, Kak!” katanya dengan nada tinggi. Aku tahu dia sudah mulai kesal. Memang, dibanding Iqbal, Rafi jauh lebih keras kepala. Sulit menang jika berdebat dengannya. Sekali suara kita melantang keras, Rafi akan membalasnya dengan suara lebih keras.
“Rafi, Kakak mohon sekali bisa kan untuk kali ini tolong hentikan permainan gitarmu itu. Lagi pula kamu sudah main dari tadi pagi, masak belum puas juga!”
“Ya, kalau memang Rafi belum puas mainnya kenapa, Kak? Kan, yang main Rafi. Toh, ini gitar Rafi!”
“Rafi, kamu bisa kan bicara lebih sopan kepada Kakak,” kataku merendahkan suara, tepatnya meredam emosi. Menghadapi Rafi memang harus “ekstra sabar”.
“Cukup deh, Kak! Rafi bukan anak kecil lagi! Sekarang Rafi ingin sendiri!” ujarnya tanpa menolehku.
Entah mengapa hatiku merasa “tak enak”. Sepertinya, Rafi sedang ada masalah. Tapi masalah apa? Ingin kutanya, namun pasti dia tidak akan memberi tahu dan atau menjawab dengan nada membentak, “Tidak apa-apa! Ini urusan Rafi!”
Saat Rafi mengatakan dirinya ingin sendiri, terpaksa akulah yang harus mengalah, keluar dari kamar Rafi, meninggalkannya. Sebelum aku menutup kamarnya, aku melihat sebuah kertas di atas meja belajar Rafi yang letaknya tak jauh dari sound system gitar elektriknya.
Kertas apa itu? Terlihat jelas kertas itu lecak. Karena penasaran, akhirnya aku mengambil kertas tersebut, lalu membacanya. Astagfirullah, ternyata kertas tersebut merupakan hasil studi Rafi semester ganjil belum lama ini. Kuamati nilai mata kuliah yang diambilnya. Ada tujuh mata kuliah disebutkan di kertas itu, lima di antaranya dengan nilai yang “parah”, dua mendapat C dan tiga D. Dua nilai untuk mata kuliah lainnya mendapat nilai B. Ya ampun Rafi, mengapa seperti ini nilaimu?
“Jadi, ini yang kamu maksud dengan merilekskan pikiran?” tanyaku sambil menyodorkan kertas nilai tersebut di depan mukanya. Spontan dia langsung mengambil kertas tersebut dan langsung membuangnya ke tong sampah di samping tempat tidurnya.
“Itu gak penting, Kak!” katanya ketus.
“Bagaimana tidak penting! Kamu kenapa, Fi? Nilai kamu hampir semuanya buruk!”
“Kan, dari sebelum kuliah Rafi sudah bilang, gak mau ambil jurusan akuntansi. Rafi mau kuliah di IKJ ambil jurusan seni musik. Tapi, ayah selalu memaksakan kehendaknya! Ayah sama sekali tidak memikirkan apa yang diinginkan Rafi!” ujarnya sambil “membanting” tubuhnya ke tempat tidur.
“Kakak pasti tahu, kan, minat Rafi itu di musik, bukan di bidang ekonomi!”
“Iya, Kakak tahu.”
“Bukan cuma Kakak, ibu juga tahu, mungkin juga ayah. Tapi kenapa ayah tetap saja memaksakan kehendak kepada Rafi untuk mengambil jurusan akuntansi! Rafi gak suka, sama sekali tidak suka!”
“Ayah hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik, Fi!”
“Terbaik bagi ayah, bukan berarti baik bagi Rafi Kak. Ini seperti “neraka” bagi Rafi! Rafi juga gak peduli, mau semester depan DO atau gak kuliah!”
“Kamu jangan begitu, Fi. Jangan kecewakan ayah ibu. Kamu harus tetap kuliah, tunjukan bahwa kamu bisa membuat mereka bangga.”
Aku berusaha membujuk Rafi, tapi sepertinya tak diindahkan olehnya. Aku tahu Rafi merasa tertekan dengan tuntutan ayah, kuliah di jurusan yang sama sekali tidak ia minati. Akhirnya, ya hasil semua studinya sangat tidak memuaskan.
“Ya sudah kalau begitu. Kakak tahu Rafi ingin kuliah di IKJ, makanya besok kalau ayah ibu sudah pulang, Kakak akan bicara kepada mereka supaya kamu pindah kuliah saja, asalkan kamu janji tetap kuliah,” kataku sambil keluar dan menutup pintu kamarnya.
***
Dua hari setelah hari Minggu itu, tepatnya pada malam, aku mencoba membicarakan masalah Rafi kepada ayah dan ibu. Aku juga memberikan kertas hasil studi Rafi saat semester ganjil. Kertas ini kuambil dari tong sampah kamar Rafi saat dia sedang tidur.
“Jadi, bagaimana Yah, Bu setelah melihat nilai-nilai Rafi? Buruk-buruk, kan? Itu karena dia merasa tertekan dengan kuliah jurusan akuntansi.”
“Ya, tapi kan jurusan itu bagus, demi masa depan dia,” kata ibu.
“Memang bagus, Bu, tapi menjadi beban bagi Rafi. Kasihan dia.”
“Kalau dia mau kuliah jurusan musik, mau jadi apa nanti? Hanya berkutat di bidang musik dan musik, apa yang bisa dibanggakan?” kata ayah dengan nada tinggi.
“Setidaknya, itulah minat dari Rafi, Yah. Jihan mohon sekali sama Ayah, tolong untuk kali ini saja, jangan memaksakan kehendak Ayah terhadap Rafi. Kalau dia stres, lalu akhirnya DO, kasihan juga kan, Yah!”
“Ayah tetap tidak setuju jika dia keukeuh kuliah jurusan musik!”
“Tapi, benar yang dikatakan Jihan, Yah. Kasihan juga jika Rafi berkuliah tapi karena paksaan. Itu akan mengganggu kelancaran studinya,” kata ibu.
“Lalu, setelah dia kuliah di jurusan musik, siapa yang akan menjamin masa depannya?” tanya ayah.
“Allah, Yah. Hanya Dia yang menjamin seutuhnya. Allah yang menentukan rezeki setiap manusia. Jika Ayah tetap tidak percaya dengan minat kuliah Rafi, Jihanlah yang menjadi jaminannya!”
Setelah pembicaraan seriusku dengan ayah dan ibu pada malam itu, akhirnya ayah meminta beberapa hari untuk berpikir. Selang seminggu kemudian, tepat pada ulang tahun ke-20 Rafi, di meja makan—saat kami makan siang bersama—ayah mengungkapkan bahwa dia akan mendaftarkan Rafi ke IKJ, asalkan Rafi menyelesaikan kuliahnya di semester genap ini dengan hasil yang baik. Selain itu, Rafi juga ditekankan ayah agar saat kuliah di IKJ, dia fokus, bahkan kalau perlu mendapat predikat cum laude. Dengan wajah yang bahagia, Rafi pun menyanggupi persyaratan ayah.
Selepas makan siang, Rafi masuk ke kamarku. Lalu dia segera mencium tanganku dan memelukku erat seraya berkata, “Terima kasih, Kak. Terima kasih. Hanya Kakak yang benar-benar mengerti apa yang diinginkan Rafi. Sekali lagi terima kasih, Kak. Rafi janji akan kuliah sungguh-sungguh saat di IKJ nanti.”
“Iya, Fi. Jangan lupa kamu juga harus berterima kasih kepada ayah dan ibu karena merekalah yang akan mendaftarkan kamu di IKJ nanti,” ujarku sambil mengelus kepalanya.
***
Subscribe to:
Posts (Atom)
